MUI Imbau Umat Islam Tak Timbun Obat dan Oksigen, Sedekahkan untuk Pasien COVID

Sejumlah warga mengantre untuk mengisi ulang tabung gas oksigen di Kawasan Manggarai, Jakarta, Senin (28/6/2021). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Majelis Ulama Indonesia atau MUI memberi peringatan bagi pihak yang ambil keuntungan dari situasi darurat terkait pandemi COVID-19.

Mereka yang menimbun oksigen dan obat bagi pasien COVID-19 akan mendapat murka Allah. Niam lalu merujuk ke Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020.

“Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok dan menimbun masker hukumnya haram,” kata Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh dalam keterangannya, Minggu (4/7).

Niam menyebut, pasca diberlakukannya PPKM Darurat, ada sebagian masyarakat yang panik dan memborong berbagai kebutuhan.

Sementara ada sebagian masyarakat yang membutuhkan segera, seperti obat-obatan dan oksigen tidak memperoleh akses memadai dan berdampak pada ancaman jiwa.

Ketua MUI yang membidangi fatwa Prof.Dr.Hj Huzaemah (kiri) Ketua komisi fatwa MUI Indonesia Hasan Huesein Abdul Fatah (tengah) dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh (kanan) ketika membuka FGD terkait isu keterkaitan game PUBG dengan peristiwa teror di Kantor MUI, Selasa (26/3). Foto: Helmi Afandi/kumparan

Niam mengajak umat Islam yang memiliki stok oksigen dan obat untuk membantu saudaranya yang membutuhkan.

“Dengan jalan sedekah oksigen, obat-obatan, vitamin, sembako dan kebutuhan lain yang mendesak serta tidak menimbun barang-barang pokok tersebut, termasuk tabung oksigen,” beber Niam.

Umat Islam untuk terus bahu membahu mendukung dan membantu korban COVID agar dapat memperoleh layanan kesehatan, termasuk ketersediaan oksigen, obat-obatan, dan vitamin.–KH Asrorun Niam

Niam juga mengimbau agar umat Islam tidak memborong obat-obatan, vitamin, oksigen, yang menyebabkan kelangkaan sehingga orang yang membutuhkan dan bersifat mendesak, tidak dapat memperolehnya.

“Penimbunan kebutuhan pokok tersebut tidak diperkenankan sekalipun untuk tujuan jaga-jaga dan persediaan, sementara ada orang lain yang membutuhkan secara sangat mendesak,” tutup dia.

Comments are closed.