MUI Berduka atas Pembunuhan Shireen Abu Akleh: Israel Harus Bertanggung Jawab

Shireen Abu Akleh, wartawan Al Jazeera yang tewas akibat ditembak di kepala saat meliput serangan Israel di Tepi Barat. Foto: Al Jazeera/AFP

MUI turut menyampaikan duka atas pembunuhan jurnalis senior senior al-Jazeera, Shireen Abu Akleh, yang tewas ditembak mati saat meliput operasi militer Israel di Jenin, Palestina.

MUI menganggap kejahatan tersebut menambah daftar panjang kejahatan kasat mata yang dilakukan oleh aparat zionis Israel.

Aparat Israel dan kelompok-kelompok Yahudi ekstrem secara terus menerus menggencarkan teror terhadap masyarakat, tak kurang terhadap kalangan jurnalis.

“Kasus tembaknya Shireen adalah salah satu bukti konkret dan tak terbantahkan teror dilakukan terhadap jurnalis,” kata Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja sama Internasional dalam keterangan tertulisnya, Rabu (12/5).

Bahkan, atas penembakan itu, MUI menyebut bahwa Israel adalah sebuah negara di mana kejahatan telah dilindungi dan difasilitasi secara resmi.

Logo Majelis Ulama Indonesia (MUI). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

“Pembunuhan terhadap Shireen adalah sebuah kejahatan dan kebiadaban yang tidak boleh dibiarkan. Pelaku dan pemerintah Israel harus bertanggung jawab. Duka terhadap Shireen adalah duka kemanusiaan,” terang Hakim.

Sebagaimana kelompok teroris pada umumnya, lanjutnya, teror Israel ini di samping dimaksudkan untuk menimbulkan rasa takut kepada masyarakat, membungkam suara yang membela perjuangan Palestina sebagaimana yang selama ini ditunjukkan oleh Shireen melalui al-Jazeera, sekaligus juga memperlemah dan menundukkan perjuangan Palestina.

“Tujuan akhirnya adalah menguasai seluruh wilayah Palestina,” kata Hakim.

“Pembunuhan keji ini kemungkinan besar akan menyasar ke segmen masyarakat lain, bisa tokoh agama, ulama, wartawan, intelektual, aktivis kemanusiaan dan siapa pun juga,” tambahnya.

Shireen Abu Akleh, wartawan Al Jazeera yang tewas akibat ditembak di kepala saat meliput serangan Israel di Tepi Barat. Foto: Twitter/@PalestinePDP

Menurut Hakim, pembunuhan terhadap Shireen adalah kelanjutan dari misi pembunuhan yang dilakukan oleh banyak tokoh Palestina dan juga kepada warga Palestina lainnya.

“Ini adalah semacam upacara yang dimaksudkan untuk memperkuat semangat dan mengisi hari yang mereka klaim sebagai kemerdekaan Israel tanggal 14 Mei. Pada tanggal itu bendera Stars of David akan dikibar-kibarkan di mana-mana dan akan memicu dan mengeskalasi pertentangan keras apalagi tanggal 15 Mei adalah hari penting Palestina sebagai Yaum an-Nakbah,” terang Hakim.

Hakim menganggap, tindakan kekerasan dan kejahatan Israel akan semakin meningkat di beberapa hari ke depan ini.

Oleh karena itu, perlu ada langkah-langkah cepat membangun aliansi tokoh lintas agama dan bangsa, jurnalis, intelektual, aktivis kemanusiaan dan HAM, politisi, kaum profesional dan bahkan kaum terpelajar lainnya termasuk mahasiswa untuk mendesak agar Israel diberi sanksi internasional.

“Melawan Israel dan membela Palestina adalah membela kemanusiaan universal, membela kedaulatan dan keadilan dan membela kesucian agama apa pun,” kata Hakim.

“Khusus bagi umat Islam, perjuangan membela bangsa Palestina dan eksistensi Masjid al-Aqsa adalah panggilan agama dan sekaligus kemanusiaan yang sifatnya abadi sepanjang Israel masih menjajah,” tambah Hakim.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett. Foto: Ronen Zvulun/REUTERS

Dalam kasus penembakan ini, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett masih membantah tuduhan penembakan Shireen.

Bennett malah mengeklaim, terdapat kemungkinan bahwa tembakan tersebut bisa saja dilepaskan oleh orang Palestina.

“Menurut informasi yang kami kumpulkan, tampaknya orang-orang Palestina bersenjata yang menembak tanpa pandang bulu pada saat itu. [Palestina] bertanggung jawab atas kematian malang wartawan itu,” kata Bennett dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari AFP.

Comments are closed.