Merayakan Hari Kebangkitan Nasional dengan Jadi Changemakers Muda Indonesia

Ilustrasi anak muda dalam perayaan Hari Kebangkitan Nasional. Foto: Shutterstock

Pada akhir abad ke-19 ada berbagai wabah penyakit di Pulau Jawa yang membuat pemerintah kolonial Belanda kesulitan, karena biaya yang mahal dan harus mendatangkan dokter dari Eropa untuk mengatasinya. Inilah cikal bakal lahirnya STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) alias sekolah dokter bumiputera.

Beberapa siswa STOVIA yang ingin memajukan bidang pendidikan dan kebudayaan Indonesia akhirnya berinisiatif untuk membuat satu organisasi, yaitu Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi pergerakan nasional ini berfokus untuk memajukan bidang pendidikan dan kebudayaan Indonesia pada masa itu.

Nyatanya keinginan para siswa tersebut tidak hanya omongan belaka. Selain memberikan bantuan dana pada siswa yang cerdas, organisasi pelajar ini telah mengubah arah perjuangan yang awalnya dilakukan secara fisik, menjadi diplomatis dan bersifat nasional. Boedi Oetomo pun berhasil menjadi pelopor kesadaran masyarakat untuk merintis organisasi kebangsaan lainnya demi menuju kemerdekaan Indonesia.

Semangat dan pengaruh pergerakan tersebut kemudian membuat Presiden Soekarno menetapkan hari lahirnya organisasi ini sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Harkitnas, yang hingga saat ini masih terus kita peringati dengan harapan dapat membangkitkan semangat yang membawa Indonesia pada perubahan yang lebih baik.

Kini, anak muda Indonesia sudah tidak lagi berhadapan dengan perjuangan kemerdekaan. Ya, sesuai dengan era dan masalah yang dihadapi saat ini, Indonesia membutuhkan anak-anak muda yang memiliki semangat kebangkitan untuk membawa perubahan baik di bidang sosial, lingkungan, maupun ekonomi.

Ada beberapa hal penting yang menjadi perhatian generasi di masa ini di antaranya adalah isu sosial, lingkungan, hingga ekonomi. Permasalahan seputar kualitas sumber daya manusia (SDM), misalnya. IMD 2020 menunjukkan bahwa daya saing dan kualitas SDM Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain, yaitu pada peringkat 56 dari 63 negara secara global.

Masalah ini tentu terkait dengan kurangnya digital literacy, dan terbatasnya fasilitas, kecepatan, serta akses teknologi untuk masyarakat. Akhirnya, kelemahan ini membuat Indonesia kekurangan digital talent, alias SDM yang berkualitas dan kompeten dalam dunia teknologi digital.

Ilustrasi kekeringan yang mengancam wilayah Indonesia. Foto: Shutterstock

Belum selesai di situ. Jangan lupakan masalah sampah plastik yang masih menjadi momok utama urusan lingkungan Indonesia. Persoalan akses air bersih dan aman, misalnya. Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan dan ketergantungan pada air minum dalam kemasan—yang bisa saja mengandung mikroplastik.

Karena penggunaannya yang berlebih, sebanyak 9 persen sampah botol plastik dari minuman kemasan ada dan mencemari lingkungan bahkan sumber air kita. Masyarakat, bahkan anak-anak dan keluarga tidak mampu punya risiko yang besar terpapar berbagai penyakit akibat penggunaan air kotor.

Ilustrasi anak muda sebagai pembawa perubahan (changemakers). Foto: Shutterstock

Ya, sebetulnya berbagai masalah di ranah sosial, lingkungan maupun ekonomi di Indonesia bisa diatasi oleh para pembawa perubahan (changemakers), utamanya anak muda. Sudah ada banyak changemakers Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, perempuan maupun laki-laki, dan dari berbagai rentang umur yang telah memberikan kontribusinya dalam menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi.

Karenanya, kita perlu bersama-sama merayakan kontribusi para changemakers Indonesia sambil mendengarkan dan belajar bersama mengenai peran yang bisa kita ambil untuk mengatasi isu sosial, lingkungan dan ekonomi Tanah Air.

Dengan berkumpul dan berdiskusi, kita bisa memiliki inspirasi, kekuatan untuk melakukan perubahan, hingga menciptakan dampak yang lebih besar untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) merupakan organisasi nirlaba pembawa perubahan dari GoTo Group yang percaya bahwa manusia memiliki pola pikir dan karakter sebagai pembawa perubahan. Masyarakat merupakan kunci untuk bisa mendobrak batasan dan memecahkan masalah sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Untuk itu, YABB menggagas ‘Changemakers Nusantara’ demi dapat menggerakkan para changemakers di Tanah Air agar bisa berperan aktif membawa perubahan nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Sebagai puncak dari inisiatif ini YABB pun menghadirkan ‘Changemakers Nusantara Day’, sebuah perhelatan yang bertujuan untuk mengumpulkan para changemakers dan berbagai pihak multisektor untuk merayakan kontribusi changemakers bagi bangsa ini. Tak hanya itu, acara ini juga diharapkan dapat membuka ruang masyarakat luas untuk berbagi inspirasi, berdiskusi untuk merumuskan solusi, dan mulai berkolaborasi.

Changemakers Nusantara Day: Perayaan Kontribusi para Pembawa Perubahan

Bertujuan untuk celebrate, connect, dan collaborate Changemakers Nusantara Day menyelenggarakan Conference Room dengan judul “Enable Changemakers to Create Impact” yang diselenggarakan di tanggal 19 Mei 2022 pada pukul 10.00-11.30 WIB.

Bersiaplah untuk digugah, dibekali sebagai changemakers, dan diajak beraksi! Akan ada diskusi yang dihadiri oleh Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan dari Kabinet Kerja 2014-2019, serta Dimas Bagus Wijanarko, Founder & Ketua Yayasan Get Plastic Indonesia. Mereka akan bercerita mengenai motivasi utamanya menjadi changemakers Indonesia dan bagaimana membuat langkah yang inovatif untuk memecahkan berbagai masalah sosial kita.

Selain keduanya, hadir pula para changemakers lainnya yang akan berbagi inspirasi dan membuka kesempatan berkolaborasi agar semua orang bisa menjadi changemakers dan ikut ambil peran masing-masing.

Perwakilan pemerintah pusat dan lokal, perwakilan duta besar, badan internasional, organisasi non-profit, komunitas sustainability, perusahaan dan entrepreneur, penerima manfaat program YABB, hingga media turut hadir sebagai audiens dalam perayaan ini.

Bila ingin menyatukan pemikiran dengan para pembicara untuk merumuskan solusi, ada diskusi dengan topik khusus di THRIVEforward (isu sosial), THRIVEgreener (isu lingkungan), dan THRIVEtogether (isu ekonomi). Rangkaian diskusi dengan topik yang berbeda ini akan dilaksanakan di tiga Thrive Room melalui Zoom kumparan pada tanggal 19 Mei 2022 pukul 13. 00 WIB.

Pertama, THRIVEFORWARD: “Nurturing Future Generation of Changemakers” akan membicarakan cara membangun generasi muda atau changemakers yang berkarakter dan punya agility tinggi, mengidentifikasi kebutuhan para generasi muda, dan menentukan peran mereka untuk bisa menjadi pembawa perubahan.

Kedua, ada THRIVEGREENER: “Breaking the Silos – Tackling Water and Waste Issues as Part of Disaster Resilience”. Di sini para changemakers membahas permasalahan yang bersinggungan dengan topik penyediaan akses air dan ketahanan bencana untuk semua. Dalam diskusi ini studi kasus yang dibahas adalah permasalahan TPST Bantargebang dan bantaran Sungai Ciliwung.

Terakhir, dalam THRIVETOGETHER: “The Next Changemakers for Digital Transformation”, akan ada para pemangku kepentingan yang menjadi panelis untuk membagikan wawasan mereka terkait kebutuhan digital talent. Di sini, baik panelis dan peserta akan diminta untuk memahami peran masing-masing dan “bergotong-royong” menghasilkan suatu rencana aksi dan menemukan jawaban mengenai cara pemenuhan digital talent sebagai jalur transformasi digital di Indonesia.

Selain mendapat pelajaran dan kesempatan menjadi changemakers Indonesia, ada pula hadiah menarik untuk pertanyaan favorit, berupa saldo digital senilai Rp300.000.

Jadilah bagian dari pembawa perubahan untuk Indonesia yang lebih baik! Ikuti dan daftarkan dirimu di acara Changemakers Nusantara Day melalui link berikut ini!

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB)

Comments are closed.