Menkes: Stok Obat untuk COVID-19, Kecuali Actemra hingga Gammaraas, Masih Cukup

Menkes RI Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers terkait kedatangan vaksin COVID-19 Sinovac di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (18/4). Foto: Muhammad Iqbal/ANTARA FOTO

Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan sejumlah anggota Komisi IX DPR soal isu kelangkaan obat untuk pasien COVID-19. Katanya, stok obat kecuali untuk obat spesifik.

“Stok obat kecuali yang spesifik seperti Actemra, Gamaraas¬†dan Remdesivir¬†stoknya masih cukup,” kata Budi, dilihat kumparan di Youtube DPR RI, Selasa (6/7).

Namun Budi mengakui bahwa sempat ada kenaikan harga obat-obatan yang biasa digunakan untuk COVID-19. Pemerintah pun mengambil langkah.

“Yang terjadi sama seperti di krisis ekonomi kalau ada euforia rakyat rush dan terjadi kelangkaan harganya tinggi,” jelasnya.

“Makanya kita intervensi agar obat tidak naik sampai 10-20 kali sehingga tak terjangkau rakyat kecil,” imbuh dia.

Gamaraas dan Actemra Obat Penting

Obat Tocilizumab. Foto: REUTERS

Disebut langka, Actemra dan Gammarras memang obat yang biasa diberikan dokter ke pasien COVID-19 bergejala berat.

Actemra sebenarnya adalah merek dagang dari obat bernama Tocilizumab yang merupakan produk farmasi yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Swiss, Roche. Ia sebenarnya merupakan obat anti-inflamasi yang biasanya diberikan kepada penderita rheumatoid arthritis.

Rheumatoid Arthritis merupakan peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri. Umumnya, penderita penyakit ini merasakan nyeri sendi dan terdapat bengkak di bagian tubuhnya.

Untuk COVID-19, obat ini sebenarnya sudah mulai diuji klinis di China pada Februari 2020 lalu, meski hasilnya sampai sekarang belum diketahui. Sehingga ia tidak bisa disebut obat COVID-19.

Selain itu pada 12 Maret 2020, di tengah angka kematian akibat COVID-19 yang tinggi, pemerintah Iran juga mengumumkan ada beberapa pasien yang kondisinya dinyatakan membaik berkat Tocilizumab atau Actemra ini.

Sementara itu, dikutip dari The Star, Tocilizumab dapat diresepkan untuk pasien COVID-19 yang menunjukkan kerusakan paru-paru serius. Dan juga peningkatan kadar protein yang disebut Interleukin 6.

Obat Gammaraas. Foto: Shanghai RAAS

Kalau Gammaraas atau bisa juga disebut intravenous Immunoglobulin (IVig). Dijelaskan dalam WebMD, intravenous Immunoglobulin (IVig) adalah terapi yang digunakan untuk menguatkan ketahanan tubuh secara alami guna mengurangi risiko infeksi yang dialami seseorang dengan sistem kekebalan lemah.

Obat ini terbuat dari plasma darah manusia yang sehat, di mana kandungan antibodi di dalamnya mampu melawan kuman atau penyakit. Immunoglobulin diambil dari puluhan ribu pendonor darah yang sudah diskrining. Plasma kemudian dimurnikan sebelum digunakan untuk terapi IVig.

Obat ini digunakan dengan cara disuntikkan pada pembuluh darah di lengan atau secara infus. Penggunaan IVig dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh seseorang sehingga mereka mampu melawan infeksi di tubuhnya. IVig biasanya digunakan bersama obat lain seperti imunosupresan dan kortikosteroid untuk membantu mengobati gangguan sistem kekebalan tubuh.

Comments are closed.