Mengendarai Sepak Bola

Sepak Bola di Piala Dunia 2014, upacara pembukaannya disambut demo besar-besaran di jalanan menentang pemborosan anggaran. (Pixabay/Jefferson Alessandro)

Hungaria menghentak dunia lewat Euro 2020. Bukan karena capaian timnasnya atau performa apik pemainnya, tapi sebab penuh sesaknya Stadion Puskas Arena oleh gemah riuh suporter. Hanya di sinilah stadion diperbolehkan diisi penuh oleh otoritas setempat, jelas pemandangan yang jauh berbeda dibanding rekanan host lainnya macam Munich yang stadionnya masih sangat sepi. Perdana Menteri Viktor Orban menggaransi stadion terisi penuh sebab telah tercapainya target vaksinasi nasional. Sensasional di tengah pandemi.

Langkah Viktor Orban terdengar gahar dan jelas membuatnya jadi sorotan dunia. Jelas elektabilitasnya meroket dan bagian dari rencana terstrukturnya mengamankan posisi perdana menteri menjelang pemilihan tahun depan. Orban sudah berkuasa sejak 2010 adalah politikus populis sayap kanan konservatif asal partai Fidesz. Jika tahun depan ia benar-benar berhasil mempertahankan singgasananya, keputusannya mengendarai sepak bola jelas berpengaruh penting.

Orban jelas tak sendiri dan bahkan bukan orang pertama yang memanfaatkan olahraga terutama sepak bola sebagai alat politiknya. Bahkan di Hungaria sendiri jauh sebelum dia, pemerintah pro-sovyet Hungaria memanfaatkan timnasnya sebagai alat propaganda yang diarsiteki oleh Gustav Sebes, mantan pelatih Golden Team Hungaria yang menjabat deputi menteri olahraga. Pada belahan dunia manapun ada saja orang-orang seperti ini, berbanding dengan larangan keras FIFA untuk para pemain membawa simbol-simbol politik ke lapangan.

Piala Dunia adalah mesin cuci

Tak ada yang lebih kotor dibanding penyelenggaran Piala Dunia 1978 di Argentina. Gelaran di mana Johan Cruyff menolak berangkat dengan alasan keselamatan keluarganya. Argentina baru dua tahun mengalami kudeta militer menggulingkan Presiden Isabel Peron dan Jorge Videla mengawali kuasa junta militer atas rakyat Argentina.

Piala Dunia adalah alat terbaik Videla untuk bilang kepada dunia bahwa Argentina baik-baik saja di bawah kendalinya, sekaligus kesempatannya menggulung musuh-musuh politiknya. Bahkan Videla sampai menyewa agensi public relationship demi membenahi citranya. Sedangkan di sisi lain tak jauh dari Stadion Monumental tempat final berlangsung, tepatnya di ESMA, sebuah kamp tempat Videla mengikat para penentangnya, para tahanan terus memekik sepanjang malam. Videla bukan penggila bola, tapi ia sadar inilah momen terbaik ‘mengatur’ Argentina juara sekaligus memenangkan hati rakyat. Alhasil kuasa Videla dan junta militer langgeng sampai 1983.

Menyelenggarakan Piala Dunia memang seksi bagi negara mana pun demi menebalkan citranya di hubungan antar negara. Tak peduli negara sedang digoncang ekonomi, Afrika Selatan tetap mementaskan Piala Dunia di 2010. Dilma Rousseff pun tutup telinga dari segala protes di negaranya pada 2014 dan kemudian tutup mata atas kalau rezimnya sedang dibelit kasus megakorupsi. Pada 2018 pun Vladimir Putin dengan santainya menjalankan Piala Dunia meski negaranya sedang dihadapkan sanksi berat atas pemakaian doping. Terbaru tentu Qatar yang sedari awal penuh masalah sepertinya akan tetap menggelar Piala Dunia tahun depan tak peduli berapa ribu pekerja migran yang dikorbankan.

Melompat jauh ke Turki yang sudah masyhur dengan passion suporternya yang membara di tiap stadion. Presiden Erdogan sudah lama memposisikan dirinya sebagai penggila bola, bahkan sempat mengeklaim dia pernah dua kali ditawari kontrak oleh Fenerbahce di masa mudanya meski ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Kedekatannya dengan klub baru, Istanbul Basaksehir sudah menjadi buah bibir di kalangan suporter lain.

Menengok ke Jerman, Kanselir Angela Merkel sudah dikenal sering mampir ke kamar ganti timnas Jerman sesuai laga. Dia ikut bersorak di Piala Dunia 2014 dan bahkan sempat berfoto bersama di ruang ganti timnas. Selepas lawatan Merkel di uang ganti seusai Jerman membantai Portugal 4-0, dukungan publik Jerman ke parta Merkel, CDU naik 2%.

Kondisi di negeri sendiri

Kalau menoleh ke dalam negeri tentu sudah sangat kaprah sepak bola menjadi sarana meraup suara. Dulu di masa sebelum dilarangangnya uang APBD mengalir ke klub-klub, ada idiom menarik kalau mau memprediksi klub mana yang akan juara lihat saja daerah mana yang akan pilkada. Hal yang bisa dinalar sebab mayoritas klub mendudukkan wali kota atau bupati sebagai ketua umumnya. Keputusan pemerintah menyelenggarakan pilkada serentak juga membuat frasa tersebut kehilangan tajinya.

Tapi kebiasaan memakai sepak bola sebagai alat politikus mencapai jabatan masih belum sirna di Indonesia. Masih sangat segar di ingatan penikmat sepak bola domestik ketika Ketum PSSI Edy Rahmayadi yang sejatinya berkhidmat sampai 2020 sudah rangkap jabatan jadi Gubernur Sumatra Utara sejak 2018 dan akhirnya mundur di 2019. Ketum yang sekarang pun, M Iriawan alias Iwan Bule ditengarai membawa misi politik tersendiri. Dikutip dari IDN Times, Iriawan sudah ancang-ancang memburu kursi Gubernur Jabar 2023. Wajahnya pun sudah tertampang di beberapa baliho tersebar di Jabar. Bukan tak mungkin lagi-lagi sepak bola dan PSSI tak lebih dari kendaraan meraup popularitas.

Bukan hal buruk menjadikan olahraga khususnya sepak bola sebagai corong politik. Seperti kampanye penghapusan diskriminasi rasial yang terus didengungkan di setiap pertandingan atau Sankt Pauli yang terus mengumandangkan politik sayap kirinya. Sepak bola tak alergi dengan politik, Soeratin saja mendirikan PSSI demi mengkonsolidasi perjuangan melawan penjajah. Namun semua bisa berjalan ke arah sebaliknya jika sudah memaknai politik sebagai hasrat pribadi dan menjadikan sepak bola sebagai korbannya.

Comments are closed.