Luhut di Depan Bos Chevron, Bahas soal Kredit Karbon hingga IKN

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertamina dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd di Washington DC, Kamis (12/5/2022). Foto: Dok. Istimewa

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan mengeklaim, Indonesia merupakan penyumbang kredit karbon terbesar di dunia.

“Indonesia mengkontribusikan sekitar 70 persen kredit karbon di dunia. kehutanan, Kami memiliki mangrove, pit land, rumput laut, terumbu karang, tetapi yang terakhir adalah reservoir yang menipis yang sangat, sangat penting bagi kami,” kata Luhut dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pertamina dengan Chevron New Ventures Pte. Ltd di Washington DC, Kamis (12/5).

Sebagai catatan, kredit karbon bisa diartikan sebagai perdagangan emisi. Negara yang menghasilkan emisi karbon melebihi dari ketentuan harus memberikan sejumlah insentif kepada negara yang bisa menyerap karbon.

Menurutnya, kerja sama yang dilakukan oleh Chevron dan Pertamina untuk membantu pencapaian target Net Zero Emission di tahun 2060 merupakan kemitraan strategis jangka panjang.

Pasalnya, Indonesia memiliki area utama yang dapat dieksplorasi untuk pengembangan teknologi baru dalam solusi berbasis panas bumi dan alam, pemanfaatan penangkapan karbon, penyimpanan dan hidrogen karbon rendah.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Chevron dengan Pertamina, Kamis (12/5/2022). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

“Solusi berbasis alam dan dan hidrogen karbon rendah akan menjadi teknologi penting untuk mendekarbonisasi sektor industri,” jelas dia.

Luhut percaya, di masa depan, orang-orang akan terus membicarakan energi bersih, energi hijau.

“Kami ingin melihat implementasi ini dengan sangat cepat. Seperti Ibu Kota Negara (IKN) baru, Kalimantan Utara, saya kira, industri terintegrasi di sana. Kami juga ingin menyuntikkan karbon atau CO2 ke reservoir yang habis ini,” imbuhnya.

Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Chevron Corporation melalui anak perusahaannya, Chevron New Ventures Pte. Ltd, Kamis (12/5).

Kerja sama tersebut untuk menjajaki bisnis rendah karbon untuk membantu pencapaian target Net Zero Emission di tahun 2060. Rencana dalam kerja sama ini berupa penambahan kapasitas teknologi geothermal dan carbon offset melalui solusi berbasis natural (natural source based), Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization, and Storage (CCUS), serta pengembangan green dan blue hidrogen.

Comments are closed.