Lahan Pertanian Tergenang Banjir, Kementan Ingatkan Petani Jombang Ikut AUTP

Ilustrasi petani semangka. Foto: ANTARA FOTO/Arnas Padda

Hujan yang terus mengguyur wilayah Jombang, Jawa Timur, menjadi petaka bagi petani tembakau dan semangka di Kecamatan Kudu dan Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito. Areal lahan pertanian terancam gagal panen akibat banjir yang menggenangi lahan.

Agar tak mengalami kerugian, Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan petani Jombang untuk mengikuti program Asuransi Usah Tani Padi (AUTP).

Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, asuransi pertanian berperan besar dalam memberikan pertanggungan kepada petani ketika terjadi gagal panen.

“Asuransi akan membantu petani menghindari kerugian jika terjadi gagal panen. Sebab pertanian itu amat rentan terkendala perubahan iklim serta serangan organisme pengganggu tanaman,” kata SYL.

Ilustrasu petani memetik daun tembakau. Foto: Yusuf Nugroho/Antara Foto

Sementara Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil, menjelaskan, asuransi pertanian merupakan bagian dari mitigasi bencana. Asuransi pertanian akan menjadi yang terdepan untuk membantu petani agar terhindar dari kerugian akibat gagal panen.

“Ketika terjadi gagal panen maka petani akan mendapat pertanggungan sebesar Rp6 juta per hektar per musim,” terang Ali.

Menurut Ali, AUTP atau asuransi pertanian ini mendesak untuk terus disosialisasikan kepada petani agar tidak mengalami kerugian materiil pada saat adanya dampak perubahan iklim serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Kami akan terus mendorong agar petani mengikuti program asuransi pertanian agar mereka tidak menderita kerugian lebih besar ketika terjadi permasalahan sebagaimana diatur dalam AUTP,” tutur Ali.

Ilustrasi Petani. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Program AUTP, kata Ali, bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani Indonesia.

Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Indah Megahwati menambahkan, untuk mengikuti program AUTP caranya cukup mudah dan biayanya pun cukup murah. Petani hanya perlu bergabung dengan kelompok tani dan mendaftarkan asuransi lahannya 30 hari sebelum masa tanam dimulai.

“Biaya premi yang perlu dibayarkan sudah mendapat subsidi dari pemerintah pusat sebesar Rp 144 ribu. Petani hanya tinggal membayar premi sebesar Rp 36 ribu per hektar per musim,” tutur Indah.

Comments are closed.