Kisah Rogelio Funes Mori: Dari Bintang Reality Show, Kini Bomber Tajam Meksiko

Rogelio Funes Mori merayakan golnya ke gawang Al Sadd. Foto: KARIM JAAFAR / AFP

Rogelio Funes Mori saat ini merupakan salah satu andalan Timnas Meksiko. Namun siapa sangka, sang bek dulunya adalah bintang reality show televisi.

Rogelio adalah saudara kembar mantan bintang Everton, Ramiro Funes Mori. Bedanya, Ramiro memutuskan membela Argentina di level internasional. Sementara Rogelio memilih Meksiko.

Pasangan ini merupakan keturunan dari Miguel Ruperto Funes, yang pernah bermain untuk beberapa klub semiprofesional di Mendoza, Argentina, pada 1980-an.

Mereka dibesarkan di kota itu sampai usia 10 tahun. Ketika krisis ekonomi tiba, orang tua mereka pindah ke Arlington, Texas, Amerika Serikat (AS).

Dalam sepucuk surat yang dikirim pada 2008 kepada majalah sepakbola Argentina, El Grafico, ibunya mengenang: “Kondisi yang dipaksakan oleh suami saya adalah mereka tidak berhenti belajar sepak bola, atau, sebagaimana mereka menyebutnya di AS, sepakbola”.

Funes Mori (Rogelio) telah mengalami banyak lika-liku dalam karier sepak bolanya. Dia melakukan debut internasional pada usia 30, bulan lalu. Dia memasuki titik manis kariernya.

Karier yang membawa Rogelio ke jalur yang aneh dan berliku. Tapi, sekarang telah menemukan kesuksesan saat negara barunya bertarung memperebutkan Piala Emas CONCACAF 2021 di AS.

Di AS, melalui acara TV reality show yang sekarang sudah mulai punah, si kembar mendapatkan pekerjaan pertama mereka. Setelah membintangi tingkat sekolah, Rogelio dan Ramiro mengajukan diri untuk “Sueno MLS” edisi 2008.

Itu merupakan sebuah pertunjukan yang memberi kesempatan kepada anak muda, sebuah hal yang biasanya diselenggarakan di Amerika Latin, sebuah kesempatan untuk memenangkan kontrak profesional di MLS.

Rogelio merupakan seorang striker. Meski kurus, secara teknis dia mampu melawan persaingan dari 2.000 remaja laki-laki lainnya dan mendapatkan kesempatan bersama FC Dallas.

Proses gol Rogelio Funes Mori saat melawan Al Sadd. Foto: KARIM JAAFAR / AFP

“Ini adalah kehormatan besar bagi saya, dan sesuatu yang selalu saya impikan. FC Dallas adalah tim dengan pemain kelas dunia. Saya tidak sabar untuk belajar dari mereka dan terus berkembang,” kata Rogelio pada saat itu, dikutip dari Planet Football.

Tidak hanya dia yang masuk, Rogelio juga membawa saudara kembar bersamanya. Namun, impian dua kembar tersebut di AS tidak bertahan lama.

Rogelio tidak ditawari kesepakatan yang telah dijanjikan kepada pemenang Sueno MLS. Dan, pada 2009, setelah percobaan di Chelsea tidak membuahkan hasil. River Plate kemudian mencoba untuk merekomendasikan si kembar untuk bermain di Argentina.

Dampak Rogelio di tim utama langsung terasa dan dia dikaitkan dengan kontrak barunya ke Manchester City, Manchester United, Juventus, dan Atletico Madrid.

Akan tetapi, perpindahan tidak terwujud pada saat itu, dan Rogelio bertahan saat River terdegradasi untuk pertama kalinya. Di sana, dia bermain bersama David Trezeguet dan membantu River kembali ke kasta tertinggi.

Semusim kemudian, Benfica melakukan pendekatan yang menentukan untuk penyerang berjuluk ‘Si Yankee’ itu. Pada saat itu, jalan Rogelio dan Ramiro menyimpang untuk pertama kalinya.

Ramiro bertahan di River dan kemudian memenangi Copa Sudamericana dan Copa Libertadores pada 2014 serta 2015. Sementara Rogelio berjuang di Eropa.

Saat Rogelio dibuang oleh Benfica pada 2015, Ramiro mendapatkan caps internasional pertamanya dengan Argentina. Dia juga pindah ke Everton.

Meski musim pertamanya terbilang cukup layak, tugas Ramiro di klub asal Merseyside terganggu oleh cedera. Sementara Rogelio dibawa ke rumah barunya dalam kondisi yang sangat lemah. Dia kemudian mendaftar kembali ke Meksiko bersama Monterrey dan karier barunya dimulai kembali di sana.

Sebelas laga yang Rogelio lakoni di Torneo Apertura sukses menempatkannya finish di urutan keempat di klasemen sebagai pencetak gol terbanyak bersama Andre-Pierre Gignac, yang baru saja menandatangani kontrak dengan rival Monterrey, Tigres-UANL.

Butuh waktu lama bagi Rogelio meraih trofi. Tapi, akhirnya Funes Mori memenangi yang pertama bersama Monterrey di Copa MX Apertura pada 2017. Tapi, tahun itu diwarnai oleh kekalahan dramatis di final Liga MX dari Tigres.

Keberhasilan liga akhirnya tiba pada 2019, di bawah kepelatihan Diego Alonso. Di tahun kejayaannya tersebut, Monterrey memenangi Liga Champions CONCACAF pertama, membalas dendam atas Tigres di final.

Mereka lantas sukses mengamankan trofi di Liga MX, mengalahkan Club America melalui adu penalti dengan Funes Mori mencetak gol dalam penaltinya. Lalu, di Piala Dunia Antarklub, Funes Mori berhasil mencetak satu gol dalam kekalahan semifinal dari Liverpool.

Copa MX lainnya diikuti pada 2020 dan pada April 2021 Funes Mori mencetak gol ke-122 di Monterrey untuk menjadi pencetak gol terbanyak klub sepanjang masa klub. Dengan 34 assist, dia rata-rata menyumbang gol setiap 122 menit dalam enam musim.

Meski dengan rekor yang luar biasa di Meksiko, Rogelio tidak ditawari kesempatan untuk tampil dengan seragam Argentina bersama Ramiro.

Kemudian, pada 2021, dia memilih untuk mengambil kewarganegaraan Meksiko atas perintah pelatih Meksiko asal Argentina, Tata Martino.

Dengan Raul Jimenez masih belum fit dan Javier Hernandez terkenal larangan bermain karena alasan disiplin, Funes Mori tampil bagus di Piala Emas CONCACAF.

Funes Mori adalah orang Argentina yang dinaturalisasi, sehingga dapat berlaga mengenakan kaus hijau Meksiko. Tapi, reaksi terhadap inklusinya belum sepenuhnya positif.

Mantan pemain depan Meksiko, Luis Hernandez, sangat jelas mengatakan kritiknya di Twitter bahwa dia lebih suka Henry Martin kelahiran Meksiko daripada “orang asing”.

Ada pula pelatih legendaris Brasil-Meksiko, Tuca Ferrretti. “Tim nasional suatu negara harus terdiri dari orang-orang yang lahir di sana, di negaranya,” kata Ferrretti, dikutip dari ESPN.

Teranyar, Meksiko harus kalah di final Piala Emas Concacaf 2021 dari Amerika Serikat. Pada laga final yang berlangsung di Stadion Allegiant, Nevada, Amerika Serikat, Senin (2/8) pagi WIB, mereka tumbang 0-1.

Meski kalah, perjuangan Meksiko pantas diapresiasi. Rogelio Funes Mori sendiri berhasil mengumpulkan 3 gol dari 5 laga yang telah dimainkan. Menurut catatan Transfermarkt, ia telah mengemas 167 gol dan 51 assist dari 388 pertandingan di semua ajang pada level klub.

****

Comments are closed.