Kisah Pasien Corona dengan Saturasi Oksigen 85% dan Sulitnya Mendapatkan RS

Ilustrasi rumah sakit Foto: Pxhere

Uus (41), pria warga Dayeuhkolot, Bandung, merasakan gejala corona pada awal Juni 2021. Ia kemudian tes PCR di puskesmas. Sambil menunggu hasil PCR, kondisinya semakin memburuk.

Saturasi oksigen Uus pernah mencapai 85 persen. Dalam kondisi itu, ia juga sulit mencari rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Uus mengatakan ia mulai kehilangan kemampuan mencium pada 5 Juni. Hingga akhirnya ia tes PCR. Hanya saja, hasil tes itu tak kunjung keluar setelah lima hari.

“Setelah lima hari tidak dapat kabar dan kondisi mulai ada sesak napas. Saya mencoba menghubungi petugas puskesmas, alhamdulillah ada yang datang dan memeriksa saturasi oksigen,” ujar Uus kepada kumparan, Minggu (4/7).

Petugas juga meminjamkan tabung oksigen kepadanya. “Waktu itu saturasi sudah 85 dan mulai sesak napas tidak bisa tidur, bawaannya gelisah,” kenangnya.

Infografik Cara Kerja Oximeter.
Foto: kumparan

Hingga akhirnya ia meminjam uang saudaranya untuk tes PCR secara mandiri di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. Hasilnya adalah positif corona.

“Karena semakin sesak saya dibawa keliling cari RS. Hampir 6 RS saya kunjungi, hasilnya nihil, tidak ada ruangan kosong COVID-19,” imbuhnya.

Karena kondisi itu, ia kemudian melakukan isolasi mandiri selama tiga hari. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan tiga tabung oksigen. Akan tetapi, kondisinya semakin memburuk karena tidak ada perawatan yang maksimal.

Hingga akhirnya, pihak keluarga mendapatkan kenalan di sebuah rumah sakit swasta di Garut, Jawa Barat. Meski ini sebuah kabar baik, ternyata pihak puskesmas sempat susah memberikan izin.

“Alasan luar wilayah,” tegasnya.

Akan tetapi, akhirnya petugas memberikan izin agar Uus dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Garut. Semua biaya pengobatan pun ditanggung oleh pemerintah.

“Tanggal 30 juni saya PCR kedua, alhamdulillah hasilnya negatif. Dan tanggal 1 juli saya ke luar RS. Dan sekarang masih proses pemulihan, karena sesak dan lemas masih ada,” pungkasnya.

Comments are closed.