Kisah Jamie Slabber: Bintang Muda Tottenham Hotspur, Hanya Berlaga 10 Menit

Jamie Slabber kala berjersi Tottenham Hotspur. Foto: Getty Images

Beberapa atlet memiliki kisah yang antiklimaks dalam kariernya. Akan tetapi, cerita Jammie Slabber di Tottenham Hotspur bukan hanya antiklimaks, melainkan berakhir begitu cepat.

Pada 2003 silam, Tottenham hanyalah klub semenjana di Liga Inggris. Namun, ada nama besar seperti Teddy Sheringham, Robbie Keane, Les Ferdinand, Sergei Rebrov dan Steffe Iversen mengisi skuad.

Meskipun demikian, Slabber yang merupakan hasil didikan akademi tetap mendapat tempat di tim utama. Ia bahkan pemain favorit pelatih The Lilywhites saat itu, Glenn Hoddle.

Slabber akhirnya mendapatkan kesempatan untuk merumput di Liga Inggris. Kala itu Tottenham menjamu Liverpool di White Hart Lane, tepatnya Maret 2003.

Slabber masuk lapangan pada menit 79′ menggantikan Gary Doherty. Debutnya berjalan dengan baik ketika ia mencetak assist untuk gol Sheringham empat menit sebelum laga bubar.

Jamie Slabber kala berjersi Tottenham Hotspur. Foto: Getty Images

“Saya tidak pernah berpikir saya hampir mendapatkan peluang karena kami memiliki Rebrov, Iversen, Les Ferdinand, Robbie Keane, dan Sheringham,” kata Slabber dikutip dari Planet Football.

“Saya pikir saya sudah dekat tetapi tidak berpikir saya akan mendapat kesempatan. Tetapi beberapa pemain cedera dan yang lain diskors dan untungnya Hoddle memasukkan saya pada 10 menit terakhir. Itu mimpi jadi kenyataan,” tambahnya.

Pada saat itu, usianya baru 18 tahun. Menjalani debutnya dengan catatan satu assist, Slabber diyakini akan menjadi bintang Tottenham selanjutnya.

Namun, harapan tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Karier Slabber berubah drastis karena cedera yang dialaminya dan perubahan di kursi kepelatihan.

Usai debutnya, Slabber lebih banyak mengisi bangku cadangan. Petaka kemudian datang ketika ia mendapatkan cedera ankle yang memaksanya absen selama enam hingga delapan minggu.

Kemudian, Hoddle dipecat dan Slabber tak memiliki sayap pelindungnya lagi di Tottenham. Pergantian manajer membuat nasibnya terombang-ambing.

Slabber turun ke tim U-23 kemudian dipinjamkan ke klub gurem di Liga Inggris. Kembali lagi ke London Utara pada 2004, ia tak juga mendapatkan tempat.

Setelah Slabber meninggalkan White Hart Lane, tak ada klub yang benar-benar berminat untuk meminangnya. Ia akhirnya memperkuat tim-tim gurem di divisi bawah sepak bola Inggris.

Aldershot Town, Oxford United, Grays Athletic, dan Woking FC adalah beberapa di antaranya. Pindah berkala dari satu tim kecil ke tim lain, Slabber akhirnya gantung sepatu pada Februari 2018 lalu.

“Anda mencapai usia di mana anda harus menyerah pada mimpi dan kembali ke kenyataan. Anda tidak akan pernah sampai di tempat yang sebelumnya dan anda perlu melakukan sesuatu untuk bertahan,” ucap Slabber.

Sebelum bergabung dengan tim utama Tottenham, Slabber adalah langganan Timnas Inggris di rentang U-15 hingga U-19. Melihat prestasinya yang mentereng, cukup disayangkan kariernya di kancah elite sepak bola tak berlangsung lama.

****

Comments are closed.