Kisah Igor Biscan, Pahlawan Liverpool yang Redup di Antara Nama Besar

Pemain Liverpool Igor Biscan (kanan) ditekel oleh pemain Chelsea Ricardo Carvalho. Foto: AFP

Nama Igor Biscan mungkin masih asing didengar hingga saat ini dan tenggelam di antara bintang-bintang Liverpool yang lain. Namun, ia pernah menjadi pahlawan The Reds di Liga Champions 2005 silam.

Biscan disebut-sebut sebagai Zinedine Zidane dari Kroasia saat Liverpool memboyongnya dengan kocek 5,5 juta poundsterling (kini setara Rp 110,4 miliar) dari Dinamo Zagreb pada akhir 2000.

Gerard Houllier berhasil mendatangkan pemain yang dilaporkan juga menjadi rebutan Barcelona, Juventus, dan AC Milan. Namun, harapan tak sesuai dengan kenyataan.

Pemain Liverpool Igor Biscan saat pertandingan sepak bola leg kedua perempat final Liga Champion. Foto: AFP PHOTO/ Filippo M

Biscan sejatinya memulai debutnya dengan baik. Ia mein selama 90 menit penuh dalam kemenangan 1-0 atas Manchester Unitedm yang kala itu bertatus pemuncak klasemen.

Performanya kembali menjanjikan kala ia membela Liverpool saat menekuk Arsenal di Anfield. The Reds berhasil mengalahkan peringkat dua klasemen dengan skor 4-0.

Kendati demikian, Biscan tak pernah menjadi pilihan utama dan berada di bawah bayang-bayang Steven Gerrard, Didi Hamann, dan Gary McAllister.

Selama dua musim berikutnya, Biscan hanya menjadi starter dalam tujuh pertandingan Liverpool di Liga Inggris. Ia kerap masuk sebagai pemain pengganti di beberapa menit terakhir.

Pada musim 2003/04, ia membuat terobosan dengan 39 kali turun laga di lintas ajang, tetapi kebanyakan sebagai pemain belakang. Bruno Cheyrou dan Salif Diao menjadi starter di lini tengah.

Maret 2004 menjadi petaka baginya. Biscan dikeluarkan dari lapangan setelah 36 menit saat Liverpool menelan kekalahan dari Marseille di Piala Europa.

Steven Gerrard kala berjersi Liverpool. Foto: Getty Images

Biscan bahkan tidak masuk dalam skuad Liverpool untuk enam pertandingan terakhir Liga Inggris di musim tersebut. Kariernya tentu menjadi pertanyaan.

Markus Babbel, Danny Murphy, dan Michael Owen dilego pada musim berikutnya. Akan tetapi, Biscan tetap berjuang dan arsitek baru, Rafael Benitez, siap memainkannya di posisi pilihannya

Biscan hanya tampil delapan kali di Liga Inggris pada musim 2004/05. Meski begitu, ia adalah pilihan reguler dan pemain luar biasa di Liga Champions.

Biscan keluar sebagai pemain terbaik dan mencetak satu-satunya gol ketika melawan Deportivo, November 2004 silam. Hasil itu membawa Liverpool melaju ke fase knock-out.

Sesaat kemudian, Biscan menjadi idola baru bagi fan Liverpool dan namanya nyaring diteriakkan dari tribun.

Dari babak 16 besar melawan Bayer Leverkusen hingga semifinal melawan Chelsea, ia bermain secara reguler. Gerrard, Xabi Alonso, dan Hamann keluar masuk skuad, tetapi ia tetap.

Pertandingan antara Chelsea dan Liverpool di semifinal Liga Champions 2004/2005. Foto: JOHN D MCHUGH / AFP

Meskipun ditugaskan sebagai gelandang bertahan, ia kerap memecah serangan dan secara teratur menaikkan bola dari lini tengah. Umpan-umpan terobosan sering hadir dari kakinya.

Biscan mencetak assist di laga tandang melawan Leverkusen untuk gol Luis Garcia. Ia juga memainkan peran besar saat melawan Juventus, dan khususnya, bentrok dengan Chelsea di semifinal.

Dalam pertandingan tersebut, Biscan memulai sebagai salah satu dari dua gelandang bertahan. Kendati demikian, ia tak diturunkan saat Liverpool menghadapi AC Milan di final.

The Reds memenangi Liga Champions 2005 dalam malam yang disebut “Miracle of Istanbul”. Meski Biscan tak main di laga pemungkas, jasanya selama babak 16 besar amat penting.

Untuk menutup karier Biscan yang antiklimaks di Anfield, Benitez kemudian menjualnya setelah musim 2004/05 berakhir.

****

Comments are closed.