Kisah Guru di Pesisir Barat: 4 Jam Susuri Jalan Berlumpur untuk ke Sekolah

Guru dan murid di SD Negeri 26 Krui, Pesisir Barat, Lampung yang merupakan daerah terpencil dan aksesnya sulit dijangkau. | Foto : Ist

Lampung Geh, Pesisir Barat – Hari Guru Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 November. Peringatan Hari Guru ini sebagai bentuk apresiasi terhadap para pahlawan tanpa tanda jasa yang telah berjuang untuk mendidik generasi bangsa Indonesia.

Namun, hingga saat ini tidak semua guru sejahtera. Masih banyak guru, khususnya para tenaga honorer yang masih mendapatkan upah tak layak hingga berbagai persoalan lainnya. Dari mengajar di daerah terpencil hingga mendapati akses yang sulit dijangkau.

Seperti yang terjadi di SD Negeri 26 Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Lokasinya yang berada di daerah pegunungan dan terpencil membuat tenaga pendidik mengalami hambatan dalam memberikan pendidikan di daerah tersebut.

Akses jalan di Pekon Bandar Dalam, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung | Foto : Ist

Isdiarto, guru yang juga merupakan Kepala SD Negeri 26 Krui berbagi cerita dan pengalamannya kepada Lampung Geh selama mengajar di daerah tersebut.

“Saya pertama kali menjadi ASN guru itu di tahun 2014 dan ditempatkan di SDN 13 Krui hingga 2017, kemudian saya menjadi Kepala Sekolah SDN 26 Krui dari 2017 sampai saat ini,” kata Isdiarto saat dihubungi Lampung Geh, Jumat (25/11).

Ia menceritakan, pertama kali mengajar di daerah Pekon Bandar Dalam, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat itu, dirinya merasa tersentuh dengan kondisi sekolah dan juga akses jalannya.

“Pertama saya ngajar disana waktu itu namanya di daerah pedalaman banyak sekali ketimpangan, kalau kondisi sekolah gambarannya seperti di film Laskar Pelangi,” katanya.

“Waktu di SDN 26 Krui itu bangunan sekolahnya hanya dari dinding papan kemudian lantai tanah, pada saat itu ada 6 ruangan termasuk ruang guru, kalau muridnya ada sekitar 70-an,” tambahnya.

Isdiarto mengatakan, jika saat ini kondisi sekolah sudah lebih baik, bahkan bangunan sudah dalam bentuk permanen.

“Awalnya sekolah ini dibangun dari swadaya masyarakat, lalu saya mengusulkan perbaikan bangunan ke dinas setempat. Nah di tahun 2019, Alhamdulillah, bangunan sudah permanen dan saat ini menampung sekitar 84 siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas 6,” jelasnya.

Sementara untuk jumlah tenaga pengajar, Isdianto menerangkan ada 11 guru, di mana 2 guru berstatus ASN, 2 guru berasal dari PPPK dan sisanya berstatus honorer.

Isdiarto mengaku bersyukur kondisi sekolah di SD Negeri 26 Krui saat ini sudah layak, namun terkait infrastruktur akses jalan menuju sekolah yang perlu mendapat perhatian khusus.

“Wilayah sekolah kami itu diapit oleh kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan juga berbatasan dengan Samudera Hindia. Kendaraan motor cuma bisa sampe kantor Kecamatan selanjutnya untuk menuju sekolah harus jalan kaki melintasi kawasan TNBBS, kemudian menyeberangi lima muara atau sungai,” kata dia.

Akses jalan di Pekon Bandar Dalam, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung | Foto : Ist

Lebih lanjut ia menuturkan jika musim penghujan dibutuhkan waktu selama 3 sampai 4 jam dengan berjalan kaki untuk bisa sampai di sekolah.

“Jalan yang dilalui itu berlumpur, jadi kita harus berhati-hati. Ini yang menjadi salah satu hambatan utama kami dalam mengajar,” tuturnya.

Akses jalan di Pekon Bandar Dalam, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung | Foto : Ist

Tak hanya persoalan akses jalan, persoalan lainnya pun muncul seperti belum adanya aliran listrik dan kini masih mengandalkan tenaga surya. Kemudian, akses internet yang terbatas hingga sumber daya manusia (SDM) tenaga pengajar yang masih terbatas.

Oleh karenanya, di momen peringatan Hari Guru Nasional ini pihaknya berharap ada perhatian lebih baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat terhadap tenaga pendidik yang mengajar di daerah pedalaman agar ada peningkatan kesejahteraan.

“Karena dasar untuk kemajuan pendidikan ini dibutuhkan juga sarana dan prasarana pendukung serta SDM tenaga pendidik yang baik, saya juga berharap adanya prioritas pembangunan jalan supaya proses kegiatan belajar mengajar tidak terhambat,” pungkasnya. (*)

Comments are closed.