Kerap Diguyur Hujan, Petani Berambang di Gunungkidul Diimbau Asuransikan Lahan

Ilustrasi Bawang Merah. Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Ratusan petani bawang merah atau berambang di Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah diuji. Sebab, beberapa hari belakangan ini ladang bawang merah kerap diguyur hujan cukup deras.

Untuk mengantisipasi kerugian yang timbul, Kementerian Pertanian (Kementan) menyarankan petani mengasuransikan lahan mereka dengan mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, AUTP merupakan program perlindungan kepada petani untuk areal lahan mereka agar terlindungi.

Di sisi lain, dengan program AUTP, petani tak akan mengalami kerugian meski mengalami gagal panen. “Petani akan mendapat pertanggungan dari AUTP ketika mengalami gagal panen. Kami sarankan petani mengikuti program ini agar mereka tak mengalami kerugian,” kata SYL.

Ilustrasi petani bawang merah. Foto: Saiful Bahri/ANTARA FOTO

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil, menambahkan, AUTP diprogramkan selain sebagai upaya proteksi juga merupakan bagian dari Kementan untuk menjaga produktivitas petani.

“Dengan AUTP, produktivitas petani akan terjaga. Petani akan tetap berproduksi pada musim tanam berikut karena mendapat pertanggungan sebesar Rp6 juta per hektar per musim ketika mengalami gagal panen,” papar Ali.

Dengan begitu, petani akan tetap dapat menjalankan budidaya pertanian mereka karena memiliki modal untuk memulai kembali pertanian mereka. “AUTP ini juga menjaga tingkat kesejahteraan petani. Dengan AUTP, kesejahteraan mereka terjaga, karena petani tetap dapat menjalankan budidaya pertaniannya,” papar Ali.

Hal senada juga disampaikan Direktur Pembiayaan Ditjen Kementan, Indah Megahwati. Ia menyarankan petani mengikuti program AUTP karena kaya manfaat. Cara mengikuti program AUTP pun cukup mudah. Petani harus bergabung dengan kelompok tani terlebih dahulu.

“Daftarkan AUTP 30 hari sebelum masa tanam dimulai. Untuk biaya premi petani cukup membayar Rp 36 ribu, karena sisanya sebesar Rp 144 ribu disubsidi oleh pemerintah melalui APBN,” tutur Indah.

Comments are closed.