Kenapa Donor Plasma Konvalesen Diutamakan Pria atau Wanita yang Belum Hamil?

Perawat menunjukan plasma konvalesen milik pasien sembuh COVID-19 di Unit Donor Darah (UDD) PMI DKI Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Seiring dengan melonjaknya kasus corona, permintaan plasma konvalesen juga terus meningkat. Banyak pasien yang dirawat di Rumah Sakit membutuhkan plasma konvalesen sebagai terapi penyembuhan corona.

Khusus untuk pasien COVID-19, terapi plasma konvalesen dilakukan dengan cara mengambil darah orang yang sembuh dari corona, kemudian darah diproses dan diambil plasmanya sehingga bisa diberikan kepada pasien COVID-19 untuk membantu penyembuhan.

Terapi plasma konvalesen disebut-sebut sebagai metode terbaik untuk perawatan infeksi corona saat ini, mengingat belum ada obat pasti untuk penyakit tersebut. Maka tidak heran jika sekarang banyak orang yang membutuhkan donor plasma konvalesen.

Biasanya, ada syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang saat ingin mendonorkan plasma konvalesen. Syarat-syarat yang paling umum meliputi:

Berusia 18 hingga 60 tahun

Pernah terinfeksi corona dan dinyatakan sembuh minimal 14 hari dan maksimal 3 bulan

Diutamakan laki-laki

Jika perempuan, harus belum pernah hamil atau melahirkan

Ketua Satgas COVID-19 Doni Monardo saat donor plasma darah. Foto: Satgas COVID-19

Lalu, kenapa persyaratan donor plasma konvalesen lebih diutamakan laki-laki atau perempuan yang belum pernah hamil dan melahirkan? Kenapa pendonor juga harus berusia 18 hingga 60 tahun dan dinyatakan sembuh minimal 14 hari hingga maksimal 3 bulan?

dr. Dewangga Gegap Gempita, Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Depok menjawab, di dalam plasma tersebut ada Human Leukocyte Antigen (HLA). HLA ini berfungsi sebagai barrier atau pelindung untuk mencocokan antara donor dengan penerima. HLA ini memang banyak ditemukan pada tubuh manusia.

“Cuma ada perbedaan, kalau pada perempuan, terutama yang pernah hamil atau melahirkan, antibodi HLA-nya tertutup. Jadi, ada kemungkinan, kalau dia menjadi donor bisa enggak cocok sama penerimanya,” kata Dewangga saat dihubungi kumparanSAINS, Jumat (2/7).

Bagaimana dengan laki-laki? Sebagaimana diketahui, kata Dewangga, laki-laki tidak akan pernah hamil atau melahirkan, sehingga mereka lebih besar berpeluang sebagai pendonor dan pasien juga aman menerima donor tersebut.

Pasien sembuh COVID-19 mendonorkan plasma konvalesen di Unit Donor Darah (UDD) PMI DKI Jakarta, Senin (21/6). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Dewangga menambahkan, biasanya antibodi terbentuk setelah 14 hari pasca-seseorang sembuh dari corona dan bertahan selama 3 bulan. Inilah yang menjadi alasan kenapa donor plasma harus penyintas corona yang sudah sembuh sekurang-kurangnya 14 hari atau maksimal 3 bulan.

“Kalau lebih dari 3 bulan bisa enggak, sih? Yang diutamakan memang yang 14 hari atau 3 bulan karena saat itu proses antibodinya berjalan. Takutnya yang proses lebih dari 3 bulan ada antibodi sudah hilang,” papar Dewangga.

Soal kenapa pendonor harus berusia 18 hingga 60 tahun, Dewangga mengatakan bahwa sebenarnya usia di bawah 17 tahun juga boleh menjadi pendonor. Hanya saja, penelitian plasma konvalense ini masih terus berjalan sehingga ketentuan donor harus mengikuti aturan vaksinasi.

“18 tahun itu sudah dewasa, di bawah 18 tahun itu masih anak-anak. Jadi takutnya masih ada pertumbuhan metabolisme dan lain sebagainya. Jadi, dipilih yang dianggap sudah dewasa di atas usia 18 tahun,” katanya.

Kendati begitu, tidak menutup kemungkinan di masa depan anak usia 17 tahun bisa atau diperbolehkan mendonorkan plasma konvalesen. Syaratnya, uji klinis baik di Indonesia maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah selesai.

Comments are closed.