Kenapa China Malah Lockdown Total saat Indonesia Menuju Endemi?

Orang-orang mengirimkan formulir untuk menerima vaksin corona di pusat vaksinasi sementara, Beijing, China, Minggu (3/1). Foto: cnsphoto/via REUTERS

Pemerintah China kembali memberlakukan kebijakan lockdown total atau ‘Zero COVID’ seiring dengan melonjaknya kembali kasus COVID-19 di negara tersebut. Selama puluhan hari, warga Beijing dan Shanghai telah menjalani hidup dalam pembatasan yang sangat ketat. Mereka tak boleh keluar rumah, bahkan untuk mendapatkan makanan dan air harus menunggu kiriman dari pemerintah.

Di satu sisi, negara-negara lain termasuk Indonesia justru sedang melakukan pelonggaran. Bahkan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menyatakan bahwa Indonesia sudah mulai melakukan masa transisi dari pandemi menuju fase endemi.

“Bisa dikatakan bahwa saat ini Indonesia sudah tidak lagi berada dalam kondisi kedaruratan pandemi COVID-19 dan mulai bertransisi menuju fase endemi,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito dalam konferensi pers secara daring, Selasa (10/5).

Apa yang terjadi China justru lockdown total saat Indonesia menuju fase endemi? Apakah ini berarti penanganan COVID-19 di Indonesia lebih baik ketimbang China?

Koordinator Tim Respons Covid-19 Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad, menjelaskan bahwa hal itu tidak berarti penanganan pandemi di Indonesia lebih baik ketimbang China. Melonjaknya kasus di China menurut dia justru karena di awal pandemi China berhasil menanganinya dengan baik, dimana kasus di China berhenti di angka puluhan atau ratusan ribu saja.

Sedangkan di Indonesia dan sebagian besar negara lain, penularan COVID-19 sudah berlangsung dalam tiga gelombang bahkan lebih. Karena jumlah penduduk yang terinfeksi jauh lebih besar, maka jumlah orang yang sudah memiliki antibodi juga lebih besar. Ditambah dengan capaian vaksinasi yang sudah semakin tinggi.

“Di China, karena belum banyak yang tertular maka masih banyak penduduk yang belum punya kekebalan, ditambah masih banyak penduduk yang belum mendapat vaksinasi,” kata Doni, sapaan Riris Andono, saat dihubungi, Jumat (13/5).

Doni mengibaratkan seperti jerami kering. Saat awal pandemi, semua negara punya tumpukan jerami kering. Namun kemudian sebagian besar jerami kering itu sudah terbakar habis ketika pandemi melonjak di seluruh dunia. China, sebagai salah satu negara yang pertama kali menyelesaikan masalah pandemi di Wuhan dan menurunkan kurva dalam beberapa bulan saja, masih memiliki tumpukan jerami kering yang sangat banyak.

Di sisi lain, varian virus yang ada saat ini sangat mudah menular, sehingga dengan cepat bisa menulari orang-orang yang belum punya kekebalan di China tersebut.

“Itu yang terjadi di China sekarang, ibaratnya sekarang giliran China untuk membakar jeraminya. Jadi bukan karena Indonesia lebih baik, hanya saja kita sudah mengalami lebih dulu saja,” ujarnya.

Mengutip jurnal yang diterbitkan Nature Medicine yang ditulis para peneliti di Universitas Fudan, Shanghai, lockdown memang mesti dilakukan oleh China. Sebab, China memiliki risiko tinggi mengalami tsunami COVID-19. Jika tidak melakukan lockdown secara ketat, potensi kematian akibat gelombang kali ini bisa mencapai 1,6 juta kematian.

Studi tersebut juga menuliskan bahwa tingkat kekebalan dari proses vaksinasi pada Maret di China masih belum cukup untuk membendung terjadinya gelombang Omicron. Selain itu, tingkat vaksinasi untuk orangtua di China juga masih rendah yang membuat mereka semakin rentan.

Comments are closed.