Kematian COVID-19 Naik 400%, Satgas Imbau Warga Lakukan Proteksi Maksimal

Warga berjalan saat akan melakukan ziarah kubur di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (28/6/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Rata-rata kematian nasional akibat COVID-19 di lonjakan pasca Lebaran ini jauh lebih tinggi dari kenaikan pada pasca libur Nataru. Angkanya pun pecah rekor selama pandemi corona di Indonesia yakni lebih dari 400%.

“Angka kematian yang terus meningkat ini tentunya tidak dapat ditoleransi, karena satu kematian saja terbilang nyawa,” kata Jubir Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam pernyataannya dikutip kumparan, Jumat (7/2).

Lebih rinci, Wiku mengungkapkan terdapat lima provinsi yang berkontribusi dengan kenaikan angka kematian tertinggi. Yakni Jawa Barat naik 463%, DKI Jakarta naik 236%, Daerah Istimewa Yogyakarta naik 148%, Jawa Timur naik 145%, dan Jawa Tengah naik 75%.

Sementara itu, provinsi yang menyumbangkan kasus aktif tertinggi saat ini adalah DKI Jakarta dengan 57.295 kasus. Disusul Jawa Barat 43.436 kasus, Jawa Tengah 33.805 kasus, DIY 8.917 kasus dan Jawa Timur 7.488 kasus.

Oleh sebab itu, Wiku menegaskan kenaikan kematian yang tinggi ini harus segera diperbaiki dengan menghindari potensi kematian pada pasien COVID-19. Salah satunya dilakukan dengan berpatok pada kasus aktif saat ini, sehingga dapat menyelamatkan nyawa sebanyak-banyaknya dari jumlah kasus tersebut. Ia menekankan masyarakat belum terlambat untuk menjaga agar kematian tidak semakin bertambah.

Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB

Lebih lanjut, Wiku menerangkan fokus utama dalam menekan angka kematian adalah memastikan penanganan pasien COVID-19 sebaik mungkin, utamanya pada pasien gejala sedang hingga berat. Sayangnya, saat ini kelima provinsi tersebut memiliki keterisian tempat tidur (BOR) isolasi dan ICU diatas 70%, bahkan DKI mencapai lebih dari 90%. Sehingga perlu diwaspadai keadaan ini akan mempersulit penanganan pada pasien gejala berat.

Selain itu, fokus pencegahan kematian dapat dilakukan berdasarkan kelompok usia yang paling rentan. Di kelima provinsi, persentase kematian yang paling tinggi terjadi pada kelompok usia lansia.

Hal ini dapat disebabkan oleh tingginya komorbid pada lansia, serta imunitas yang semakin menurun seiring bertambahnya usia. Sekitar 5-19% lansia yang terkena COVID-19 meninggal dunia.

Adapun kelompok anak dapat menjadi rentan apabila luput dari pengawasan. Hampir di kelima provinsi ini kematian pada kelompok anak didominasi oleh balita yaitu sekitar 30-50% dari total kematian anak.

“Untuk itu, dimohon kepada seluruh pemerintah provinsi untuk melihat lebih dalam pada kematian akibat COVID-19 dengan memastikan data kematian menjadi salah satu yang harus dipantau secara berkala. Khusus pada 5 provinsi ini, kenaikan kematian yang tinggi ini harus segera dimitigasi dengan tindakan-tindakan konkret,” imbau Wiku.

Selanjutnya, Satgas meminta kepada pemerintah daerah untuk memastikan rumah sakit rujukan COVID-19 memadai. Wiku meminta konversi tempat tidur segera dilakukan apabila perlu. Pemerintah daerah juga harus meningkatkan tracing, khususnya pasien lansia dan dengan komorbid, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Petugas berpatroli di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, Minggu (27/6/2021). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Masyarakat Harus Proteksi Diri dengan Maksimal

Wiku mengingatkan dalam kondisi seperti ini, peran keluarga dan orang-orang terdekat sangat penting untuk mengurangi risiko kematian pada kelompok rentan. Sehingga aktivitas lansia, anak-anak khususnya balita, maupun kelompok rentan lainnya di ruang publik harus dibatasi.

Ia pun meminta daerah-daerah mencontoh Depok, salah satu kota yang aktif menerapkan pembatasan aktivitas bagi kelompok rentan.

“Saya mengapresiasi tindakan Satgas COVID-19 Depok yang secara konkrit melarang ibu hamil, lansia dan balita untuk masuk ke dalam mall atau pusat perbelanjaan. Diharapkan daerah-daerah lain juga bisa mengikuti tindakan tegas ini,” tutur Wiku.

Wiku mengimbau seluruh masyarakat yang tinggal bersama lansia agar lebih waspada dan terus disiplin prokes, bahkan di dalam rumah. Jika baru pulang dari bepergian, maka segera bersihkan diri sebelum berkontak dengan lansia.

Apabila seseorang mengalami gejala COVID-19 atau kontak erat dengan orang positif, Wiku meminta warga tersebut membatasi interaksi dengan lansia untuk sementara waktu sampai benar-benar aman.

Terakhir, Satgas mengingatkan bahwa melindungi dan mengawasi anak-anak, terutama balita menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh orangtua. Ajarkan anak sedini mungkin pentingnya mencuci tangan dan tidak menyentuh area yang kotor.

Jangan membawa anak-anak ke luar rumah, lanjut Wiku, terutama ke tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan COVID-19 . Di tengah kenaikan kasus yang tengah melonjak ini, Satgas minta kepada masyarakat untuk tidak lagi menerapkan proteksi diri yang biasa-biasa saja.

“Proteksi ekstra sangat dibutuhkan mengingat penularan saat ini lebih tinggi, dan kuncinya adalah pelaksanaan protokol kesehatan seperti memakai masker dan mencuci tangan dengan cara yang benar,” pungkas Wiku.

Comments are closed.