Kemampuan Seksual Tikus Sulitkan Manusia Membasminya

Tikus usia 1-1,5 bulan sudah siap kawin, bunting 21 hari, dan sekali melahirkan bisa sampai 10 bayi tikus. Kawin cepat, kemampuan adaptasi hebat, bagaimana manusia bisa melawannya?

Ilustrasi sepasang tikus dan anak-anaknya. (Istimewa)

Ya, tikus telah menjadi hama paling serius di dunia pertanian, termasuk padi. Tak tanggung-tanggung, berdasarkan catatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, rata-rata tikus dapat menyerang tanaman padi hingga 83.463 hektar setiap tahun. Tak hanya padi, sejumlah tanaman pangan penting lain seperti kedelai, kacang hijau, kacang tanah, ubi, dan singkong, juga kerap menjadi korban keganasan hama tikus.

Setidaknya, ada dua faktor utama yang membuat hama tikus sangat sulit dikendalikan. Pertama karena tikus memiliki kemampuan berkembangbiak yang sangat cepat karena kecepatan reproduksinya yang luar biasa. Selain itu, tikus juga memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap lingkungan.

“Khususnya tikus sawah, tikus betina itu umur satu bulan sudah matang seksual. Kemudian tikus jantan, umur 1,5 bulan juga sudah siap kawin,” kata peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian, Nur ‘Aini Herawati dalam webinar daring yang diadakan oleh Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB akhir pekan kemarin.

Dalam setahun, tikus akan berkembangbiak hingga lima kali dengan masa bunting hanya 21 hari atau tiga pekan. Dan sekali berkembangbiak, tikus dewasa dapat melahirkan hingga enam hingga 10 bayi tikus. Sehingga tak heran jika serangan tikus di lahan pertanian begitu mengerikan dan tidak jarang sampai membuat petani gagal panen.

Berbagai upaya pengendalian sebenarnya sudah dilakukan, tapi sampai sekarang tak pernah berhasil secara signifikan. Bahkan semakin hari, keganasan hama tikus semakin menjadi.

Nur ‘Aini mengatakan bahwa ada beberapa masalah yang membuat pengendalian hama tikus selalu gagal.

Ilustrasi tikus memakan padi petani. Foto: Pixabay

Pertama, karena monitoring di awal musim tanam lemah, padahal secara bioekologi awal tanam seharusnya menjadi momentum yang pas untuk menekan populasi tikus. Biasanya, petani justru melakukan pengendalian hanya setelah ada serangan, sehingga sudah sangat terlambat.

“Karena kalau sudah merusak tanaman, berarti mereka sudah siap untuk bereproduksi dengan asupan nutrisi yang dia peroleh dari lingkungan sekitarnya,” lanjut dia.

Selama ini, upaya pengendalian juga hanya dilakukan secara perseorangan dan tidak berkelanjutan, sehingga masalahnya tak pernah benar-benar tuntas.

Pemahaman petani terhadap bioekologi tikus menurut Nur ‘Aini juga masih minim, padahal pemahaman bioekologi ini merupakan kunci untuk mengendalikan populasi tikus.

Ada beberapa aspek bioekologi tikus yang mesti dipahami petani supaya bisa melakukan pengendalian secara tepat. Pertama adalah spesies atau jenis tikus, jenis kelamin tikus, umur, kondisi reproduksi apakah sedang berkembangbiak atau menyusui atau tidak, serta siklus hidupnya.

“Jika petani memahami aspek-aspek bioekologi ini, maka mereka bisa menentukan langkah pengendalian yang tepat,” kata Nur Aini Herawati.

Pengendalian yang Direkomendasikan

Sebuah spanduk satire dipasang di sebuah sawah. Foto: Istimewa

Karena tak mau pusing, biasanya petani lebih memilih menggunakan pestisida atau racun kimia untuk membasmi hama tikus. Sayangnya pengendalian dengan cara ini akan memberikan dampak yang lebih buruk, terutama karena akan merusak struktur tanah dan mematikan hewan-hewan lain yang justru menguntungkan bagi petani.

Di beberapa tempat, ada juga yang menggunakan setrum, tapi tak jarang justru hal ini membahayakan petani itu sendiri. Karena itu, dua pengendalian ini sebenarnya tidak direkomendasikan dalam upaya pengendalian hama tikus.

Pengendalian hama tikus yang paling penting justru dengan model tanam serempak. Mengapa? Sebab satu ekor betina rata-rata akan menghasilkan 10 bayi tikus dengan rasio jantan dan betina 1:1. Jika dalam satu musim tanam satu betina mengalami siklus reproduksi sebanyak tiga kali, maka pada akhir musim tanam akan ada 30 anakan.

Jika penanaman dilakukan secara serempak, 10 anakan tikus generasi pertama yang sebenarnya sudah waktunya untuk berkembangbiak, secara otomatis dia tidak akan melakukan reproduksi karena tidak ada sumber makanan.

Berbeda jika penanaman tidak dilakukan secara serempak, 10 anakan tikus generasi pertama akan melakukan reproduksi karena di sekitarnya masih ada sumber makanan. Dari 10 anakan atau 5 pasang anakan tikus itu, lahirlah 50 anakan tikus baru.

“Jadi ada 80 anakan di akhir musim tanam hanya dari satu ekor tikus betina, bisa dibayangkan dari 80 itu betapa dahsyat ledakan populasinya,” kata Nur ‘Aini.

Ilustrasi TBS. Foto: diperpautkan.bantulkab.go.id

Pengendalian lain yang juga direkomendasikan adalah trap barrier system (TBS) atau menggunakan tanaman perangkap.

Ada tiga komponen pertama yakni tanaman perangkap yang ditanam 3 minggu lebih awal untuk menarik tikus, pagar plastik, serta perangkap bubu. Nantinya, tikus sawah akan tertarik untuk memangsa padi perangkap ini karena belum ada sumber makanan di tempat lain. Tapi sebelum sampai pada tanaman padi tersebut, mereka akan terperangkap dalam bubu.

Cara pengendalian lain bisa pakai linear trap barrier system (LTBS). Konsepnya sama, tapi perangkap dipasang bolak-balik, sehingga bisa menangkap tikus dari dua arah yang berbeda. Dari percobaan yang telah dilakukan pada 2019 di Karawang, metode TBS berhasil menangkap 667 tikus, sedangkan metode LTBS berhasil menangkap 884 tikus. Di daerah lain, misal di Cirebon, jumlah tikus yang bisa ditangkap pakai perangkap bubu mencapai 7.057 ekor, di Aceh 1.331 ekor, dan di Indramayu mencapai 3.490 ekor.

Pengendalian lain yang direkomendasikan adalah fumigasi dan gropyokan, terutama ketika tikus sudah memasuki masa berkembangbiak menjelang musim tanam. Tikus-tikus yang berada di dalam sarangnya akan disemprot menggunakan asap belerang sehingga mereka akan mati.

Kendalikan Tikus Pakai Burung Hantu

Ilustrasi tyto alba. Foto: Pixabay

Dalam ekosistem persawahan, sebenarnya tikus punya banyak musuh atau pemangsa alami. Dari golongan reptil ada ular dari yang berbisa dan tidak, dari golongan mamalia ada garangan jawa dan kucing hutan, hingga dari golongan aves atau burung seperti elang hitam, alap jambul, elang bondol, serta serak jawa atau tyto alba.

Namun sebagian besar predator alami itu saat ini tak bisa lagi diandalkan karena ada yang dianggap berbahaya, punya perilaku yang tidak pasti dalam berburu, serta ada yang statusnya sudah dilindungi seperti kucing hutan dan elang.

“Satu-satunya yang bisa diaplikasikan secara konvensional untuk pengendalian hama tikus di sawah adalah burung hantu atau tyto alba,” kata Ferril Muhammad Nur dari Program Studi Entomologi IPB.

Alasan terkuat kenapa burung hantu atau serak jawa bisa diandalkan untuk menjadi predator alami tikus adalah karena mereka merupakan predator spesifik tikus. 99,41 persen yang dikonsumsi oleh serak jawa adalah tikus. Dalam semalam, serak jawa juga mampu memangsa 5 ekor tikus dan mampu membunuh 9 ekor tikus.

“Sehingga sangat efektif jika dijadikan sebagai predator alami tikus,” lanjutnya.

Namun saat ini, populasi serak jawa masih sangat kecil untuk bisa mengatasi seluruh persoalan hama tikus. Alasannya, karena tidak tersedianya tempat tinggal dan tempat berkembang biak mereka. Apalagi serak jawa termasuk hewan monogami yang hanya punya satu pasangan seumur hidupnya sehingga jika pasangannya mati, dia akan memilih untuk menjomblo seumur hidupnya. Serak jawa juga terancam oleh penggunaan pestisida kimia oleh petani, yang tidak jarang membuat serak jawa keracunan dan akhirnya mati.

“Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kandungan pestisida pada sampel hati Barn Owl di Inggris meningkat dari 5 persen menjadi 40 persen karena penggunaan pestisida ini,” kata Ferril.

Comments are closed.