Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Bantul Meningkat selama Pandemi Corona

Ilustrasi korban pelecehan seksual. Foto: pixabay/Gerd Altman

Kasus pelecehan seksual yang menimpa anak di bawah umur di Kabupaten Bantul cukup tinggi. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Bantul mencatat hingga awal bulan Juli 2021 ini, kasus persetubuhan anak maupun pencabulan anak terhitung sudah ada 12 kasus.

“Dari 12 kasus tersebut total korban anak mencapai 14 orang,” tutur Panit PPA Polres Bantul, Aipda Kamal Mustofa, Selasa (6/7/2021).

Jika dari dilihat dari jumlah kasus maka tahun 2021 ini memang cukup tinggi. Hal tersebut berkaca dari angka kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur pada tahun 2020 yang lalu. Secara umum, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Bantul cenderung mengalami kenaikan.

Mustofa mengakui kasus kekerasan seksual pada anak di Bantul terus meningkat. Kemungkinan besar salah satunya adalah karena anak-anak banyak belajar di rumah selama pandemi covid19.

Berdasarkan catatan Kepolisian Resor Bantul kasus kekerasan seksual pada anak selama 2020 ada 24 kasus dengan jumlah korban 40 anak dan jumlah pelaku 24 anak.

Jumlah tersebut lebih banyak dibanding 2019 sebanyak 15 kasus dengan jumlah korban 27 orang dan jumlah pelaku 15 orang. Ia mengakui jumlah kasus terkadang tak mencerminkan jumlah korban.

“Jumlah korban lebih banyak dari pelaku karena satu pelaku korbannya bisa lebih dari satu orang bahkan ada satu pelaku korbannya enam orang,” kata dia

Untuk pelaku, sebagian besar adalah orang terdekat atau orang yang sudah dikenal oleh korban seperti ayah pada anak, kakak pada adik, atau tetangga, hingga pacar. Ada yang hanya pencabulan, ada juga yang sampai pemerkosaan.

Bahkan kasus terakhir yang terjadi di Pondok Pesantren justru melihatkan pengasuhnya. Semua laporan yang masuk diproses sesuai undang-undang perlindungan anak yang langsung naik sampai pengadilan. Namun ada juga yang ditangani dengan proses restoratif.

“Artinya pelaku hanya dilakukan pembinaan dan diserahkan pendampingan melalui Lembaga Perlindungan Anak (LPA) karena pelaku masih di bawah umur,” ujarnya.

Seperti pelaku usia 12 tahun diambil kesimpulan dikembalikan pada orang tua dengan syarat-syart dari lembaga. Yaitu diserahkan ke Lembaga Perlindungan Anak.

Comments are closed.