Kehadiran PKN dan Partai Gelora Dinilai Berpotensi Gerus Suara Demokrat dan PKS

Ilustrasi Partai Demokrat. Foto: onyengradar/shutterstock

Tahapan Pemilu 2024 sudah mulai berjalan. KPU telah menetapkan partai-partai yang bisa ikut dalam pesta demokrasi di 2024.

Tahun 2024 akan menjadi debut bagi partai-partai baru yang sebelumnya tidak ikut pemilu, di antaranya ada Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) dan Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora).

PKN adalah partai besutan eks politikus Partai Demokrat dan juga eks anggota DPR, I Gede Pasek Suardika, yang menjabat sebagai ketua umum. PKN dibentuk oleh sejumlah loyalis eks Ketum Demokrat Anas Urbaningrum.

Sedangkan Partai Gelora digawangi oleh eks elite PKS, Anis Matta dan Fahri Hamzah.

Apakah dengan keikutsertaan PKN dan Gelora dalam Pemilu 2024 akan menggerus suara PKS dan Demokrat?

Warga menggunakan hak politiknya ketika mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 02, Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (27/4). Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Pengamat dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri Budiarti menilai, setiap pecahan partai yang membentuk partai baru memiliki potensi ancaman bagi kekuatan partai induknya. Sebab, akan ada suara yang terpecah.

“Hal ini karena partai baru akan membawa serta sumber daya partai induknya, misalnya partai induk akan kehilangan sebagian kader potensialnya, kemudian hilangnya kader potensial itu juga akan membawa serta modal sosial dan finansial yang dimiliki partai induk,” kata Aisah kepada kumparan, Kamis (26/1).

Ketum Partai Gelora Anis Matta di Depok. Foto: Dok. Istimewa

Partai baru yang dibentuk oleh sosok yang pernah besar di partai sebelumnya, disebut sudah memegang modal politik yang kuat. Seperti finansial dan jaringan politik. Sehingga, dampak terhadap partai induk pun tak bisa dipandang sebelah mata.

“Belajar dari pengalaman Golkar misalnya, beberapa partai nasional saat ini merupakan pecahan dari Partai Golkar. Sebut saja Gerindra, Nasdem dan Hanura. Gerindra dan NasDem merupakan partai parlemen dengan suara signifikan saat ini; sementara Hanura pada periode sebelumnya juga merupakan partai di DPR,” ucapnya.

Kekuatan dari ketiga partai pecahan itu, dinilai memiliki dampak yang cukup besar untuk menggerus kekuatan partai Golkar.

“Secara nyata, anggota Golkar di DPR RI pun mengalami kemerosotan jumlah dengan munculnya partai baru pecahannya,” ujar Aisah.

Presiden PKS Ahmad Syaikhu (tengah) mengunjungi pengolahan sampah di Kampung 99, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Kamis (19/1). Foto: kumparan

Berkaca dari apa yang terjadi terhadap Golkar, Aisah menilai, tidak menutup kemungkinan ke depan PKN dan Partai Gelora berpeluang menjadi kompetitor sengit dalam pemilu yang menggerus suara Demokrat dan PKS. Sebab kedua partai baru itu, dibangun oleh eks tokoh kuat dari partai sebelumnya.

“Tetapi semua ini tergantung dari sejauh mana mereka mampu mengelola internal partai dan membawa kebaruan dalam program dan tokoh politisi untuk memikat voter dalam pemilu nanti,” pungkas Aisah.

Selain PKN dan Gelora, partai baru yang berpotensi menggerus suara partai parlemen adalah Partai Ummat bentukan Amien Rais yang juga pendiri PAN.

Namun, PAN meyakini berbeda basis pemilih dengan Ummat. “PAN dan Partai Ummat itu dari perspektif ideologi partainya berbeda. PAN itu nasionalis religius, sedangkan PU itu Islam. Perbedaan ideologi partai akan menyebabkan adanya perbedaan basis massa partai,” ucap Wakil Ketua Umum PAN, Viva Yoga, kepada kumparan, Senin (2/1).

Pengundian dan penetapan nomor urut partai politik peserta Pemilu tahun 2024 di KPU, Jakarta pada Rabu (14/12/2022). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Comments are closed.