Kecilnya Kurang Gizi, Besarnya Obesitas: Bagaimana Bisa?

Dampak stunting (kurang gizi yang berlangsung lama di 1000 hari pertama kehidupan anak) bersifat multiorgan dan berkepanjangan, salah satunya adalah obesitas. Anak yang tadinya terlihat kecil, 30%-nya akan mengalami overweight maupun obesitas saat dewasa.

Bagaimana cara menentukan overweight dan obesitas?

Cara menilai overweight dan obesitas pada anak dan dewasa berbeda.

Pada orang dewasa, overweight ditandai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) 23 – 24,9 kg/m2 sementara obesitas dibagi menjadi 2 tingkat. Seseorang tergolong obesitas tingkat 1 bila IMTnya berada pada rentang 25-29,9 kg/m2 sementara masuk kategori obesitas tingkat 2 jika IMT sama atau lebih dari 30 kg/m2.

Menurut WHO, anak disebut overweight bila dari kurva berat badan per tinggi badan atau IMT menurut usia berada pada +2 hingga + 3 SD (standar deviasi) dan termasuk obesitas jika hasil plot berada pada +3 SD. Sementara kalau menggunakan kurva CDC (Pusat Pengendalian Penyakit di AS) tahun 2000, anak diklasifikasikan overweight bila hasil pengukuran IMT berada pada persentil 85-95 dan disebut obesitas jika IMT-nya di atas persentil 95.

Obesitas ini berisiko menyebabkan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke saat dewasa serta mengalami disabilitas saat lansia. Tak hanya penyakit, anak obesitas juga rentan mengalami gangguan psikis karena seringkali mendapat perundungan.

Baca: Stunting Berdampak Hingga Dewasa, Cegah Selagi Bisa

Antara stunting dan obesitas

Sekilas stunting dan obesitas merupakan hal yang kontradiktif tapi nyatanya memang saling bertautan. Beberapa penelitian yang dilakukan di Brazil, Jerman, Rusia, dan Afrika Selatan mendukung hipotesa ini. Sejumlah hal ditengarai menjadi dasar kenapa stunting akhirnya bisa berujung pada obesitas, antara lain:

1. Anak yang stunting akan dipacu peningkatan berat badannya dengan pemberian makanan yang tinggi kalori. Tujuannya agar sistem imun tidak semakin drop dan gangguan kognitif tidak semakin parah. Anak lainnya disokong dengan asupan lemak karena di beberapa tempat harganya lebih ekonomis dibanding membeli sumber protein.

2. Anak stunting cenderung lebih sering merasa lapar. Sinyal lapar ini bukan dipicu oleh hormon pertumbuhan selayaknya pada anak normal. Pada anak normal, asupan makanan diperlukan untuk membangun sel otot dan tulang sehingga anak menjadi tumbuh tinggi dan tinggi lagi. Tapi, karena pertumbuhan ke atas terhambat asupan makanan langsung diubah menjadi lemak dan menyebabkan pertumbuhan ke tubuh ke depan dan ke samping.

Baca: Bagaimana Diabetes Bisa Terjadi

3. Keluaran energi (energy expenditure) pada anak stunting lebih rendah apalagi saat istirahat. Energi yang digunakan pun lebih banyak dari karbohidrat, bukan dari simpanan lemak. Tak heran jika cadangan lemak sangat banyak dan semakin bertambah dari nutrisi yang tidak seimbang.

4. Segala gangguan metabolisme selama stunting dipengaruhi oleh faktor hormonal dan gen. Hormon yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah ghrelin yang mengatur sinyal lapar dan kenyang serta berperan dalam metabolisme lemak. Saat asupan makanan berkurang, tubuh akan merespon dengan peningkatan hormon ghrelin supaya minim keluaran energi dan lebih banyak menyimpan cadangan energi dalam bentuk lemak. Masalahnya, kerja hormon ghrelin ini terganggu jika ada gangguan pada gen sehingga sensititivitas hormon berkurang. Akibatnya tubuh tidak dapat menjaga keseimbangan energi yang keluar-masuk dan terjadilah obesitas.

Bila anak terlhat tembem, perutnya buncit atau kalau pada laki-laki penisnya terlihat kecil, mungkin anak mengalami obesitas. Yuk, cek gizinya supaya bentuk badan anak proporsional.

Baca: Cara Cek Status Gizi Anak

Referensi: Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Asuhan Nutrisi Pediatrik 2011

Comments are closed.