Kabar Corona Dunia: Kasus di Inggris Naik; Varian Delta Menyebar di Australia

Seorang wanita mengenakan masker berjalan melewati mural bergambar virus corona di New Delhi, India. Foto: Sajjad Hussain/AFP

Pandemi virus corona belum berakhir. Tak hanya di Indonesia, namun juga di dunia. Segala upaya terus dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

kumparan merangkum sejumlah kabar corona dunia sepanjang Senin (28/6). Apa saja beritanya, berikut rangkumannya:

Rencana New Normal Singapura: COVID-19 Akan Dianggap Flu Biasa

Singapura akan mengubah cara mereka menangani pandemi COVID-19. Pemerintah setempat berencana untuk siap hidup bersama virus corona.

Pernyataan Pemerintah Singapura tersebut berarti corona akan dianggap sama dengan penyakit endemik lain seperti flu.

Warga Singapura antre membeli vaksin Sinovac. Foto: Reuters/Chen Lin

Bahkan pemerintah Singapura nantinya tidak akan memasang target tak ada lagi penularan virus corona di negaranya. Pengunjung serta orang yang kontak dekat dengan kasus COVID-19 rencananya tak lagi dikarantina.

Namun, orang-orang yang mau bekerja atau pergi keluar rumah untuk belanja dan kegiatan lain akan dites terlebih dulu.

Menurut Menteri Perdagangan Singapura, Gan Kim Yong, segala perubahan mendasar itu adalah bentuk new normal untuk hidup berdampingan dengan COVID-19.

“Kabar buruknya COVID-19 mungkin tidak akan pergi. Kabar baiknya mungkin kita akan hidup normal di tengah-tengah itu,” kata Gan seperti dikutip dari NZHerald.

Ini berarti virus akan terus bermutasi dan dengan itu mereka bakal terus bertahan di masyarakat kami.-Menteri Perdagangan Gan Kim YongSeorang pria mengenakan masker beraktivitas di Dalston saat penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) berlanjut, London, Selasa (14/4). Foto: REUTERS/Hannah McKay

Jelang Pembatasan Kegiatan Dicabut, Kasus Corona di Inggris Malah Naik

Kasus infeksi virus corona di Inggris kembali naik. Peningkatan terjadi jelang Inggris mencabut berbagai pembatasan.

Keterangan tersebut disampaikan Kantor Statistik Nasional. Mereka menyatakan, dari 19 Juni sampai pekan terakhir Juni muncul 153 ribu kasus baru.

Angka itu 30 persen lebih banyak pekan sebelumnya, demikian dikutip dari BBC.

Meski demikian, penambahan tersebut 10 kali lebih rendah dari puncak pandemi COVID-19 di Inggris yaitu pada Januari 2021.

Pada Sabtu (26/6/2021) Inggris mencatatkan penambahan kasus sebanyak 18.270. Jumlah tersebut tertinggi sejak April 2021.

Selain kasus, kematian akibat corona juga memperlihatkan penambahan. Kendati demikian, penambahan tersebut tidak begitu signifikan dan tak sesuai prediksi.

Menurut Kepala Eksekutif Badan Keamanan Kesehatan Inggris, Dr Jenny Harries, lonjakan kasus dan penambahan kematian bisa tertahan akibat vaksinasi COVID-19.

“Vaksin mulai memutuskan hubungan antara kasus dan rawat inap,” kata Harries.

Harries menambahkan, meski kinerja vaksin mulai terlihat namun dia memperingatkan vaksin tak memberi perlindungan total. Oleh sebab itu, patuh protokol kesehatan tetap dibutuhkan.

Sampai 28 Juni 2021, Inggris sudah memberikan 76,3 juta vaksin COVID-19 ke warganya. Sebagian besar warga Inggris disuntik vaksin AstraZeneca.

Jumlah warga yang sudah menerima dosis penuh vaksin kini mencapai 32,2 juta atau 48.4 persen.

Pejalan kaki mengenakan masker saat berjalan melalui bagian Kings Cross di pusat kota selama lockdown di Sydney, Australia, 28 Juni 2021. REUTERS/Loren Elliott Foto: Loren Elliott/REUTERS

Setelah Sydney, Varian Delta Menyebar di Kota Besar Lain di Australia

Australia menghadapi ancaman besar. Varian virus corona, Delta, makin menyebar di Negeri Kanguru.

Varian Delta lahir di India saat negara itu dihantam tsunami COVID-19 April lalu. Varian tersebut lebih menular dan mematikan.

Awalnya varian Delta menyebar di kota terbesar Sydney. Penyebaran tersebut terkait klaster antar jemput kru pesawat ke hotel karantina.

Dalam sepekan 130 lebih kasus muncul di Sydney. Pemerintah Negara Bagian New South Wales memberlakukan lockdown total di Sydney demi membendung penularan corona varian Delta.

Setelah Sydney kini giliran Darwin, Perth, dan Brisbane yang diserang varian Delta. Pemeritah kota Darwin memutuskan memperpanjang lockdown sampai Jumat 2 Juli 2021 demi mengendalikan laju penyebaran varian Delta.

Menteri Kepala Northern Territory Michael Gunner mengatakan, baru kali pertama wilayah Darwin dihantam virus corona. Oleh sebab itu, aksi cepat seperti lockdown harus diambil.

Sebab, dengan lockdown masyarakat rentan seperti suku asli Australia dapat terlindungi dari penularan COVID-19. Darwin dan wilayah Northern Territory merupakan rumah bagi sebagian besar penduduk asli Australia.

“Risiko di masyarakat kami terus meningkat dalam 24 jam. Kami ada dalam fase krisis,” ucap Gunner seperti dikutip dari Reuters.

“Kami harus tetap lockdown sampai virus itu benar-benar terjebak,” sambung dia.

Sementara itu, otoritas di Brisbane dan Perth sama-sama memperketat pembatasan kegiatan. Tindakan diambil seiring munculnya varian Delta.

Pada 28 Juni 2021, Australia melaporkan penambahan 30 kasus infeksi virus corona. Sebagian besar kasus diduga terkait varian Delta.

Usai munculnya varian Delta setiap harinya Australia mencatat kemunculan 30 sampai 40 kasus. Sebelumnya, kasus baru selalu di bawah angka 30 bahkan kerap satu digit.

Perdana Menteri Luksemburg Xavier Bettel, saat tiba untuk pertemuan tatap muka kedua di Uni Eropa, di Brussels, Belgia, Kamis (1/10). Foto: Francisco Seco/Pool via REUTERS

PM Luksemburg Positif COVID-19, Sempat Kontak Dekat dengan Macron hingga Merkel

PM Luksemburg Xavier Bettel dilaporkan positif COVID-19. Dia mengalami gejala ringan.

Pemerintah Luksemburg menyatakan, Bettel akan menjalani isolasi 10 hari.

Bettel diumumkan positif COVID-19 usai melakukan tes mandiri. Ia lalu melakukan tes PCR yang hasilnya menunjukkan Bettel positif COVID-19.

“Saat ini bapak PM hanya mengalami gejala ringan (batuk dan pusing) dan beliau akan melanjutkan tugas dan fungsinya dari jauh,” kata pernyataan resmi Pemerintah Luksemburg seperti dikutip dari Reuters.

Sebelum dinyatakan COVID-19, pekan ini Bettel berada di Brussels, Belgia. Dia berpartisipasi dalam KTT Uni Eropa.

Dalam KTT itu Bettel bertemu beberapa pemimpin Eropa lain seperti Kanselir Jerman, Presiden Prancis Emmanuel Macron, hingga PM Italia Mario Draghi.

Ilustrasi vaksin corona Pfizer-BioNTech.
Foto: Kay Nietfeld/Pool via Reuters

Arab Saudi Segera Vaksinasi Anak Usia 12-18 Tahun Pakai Pfizer

Pemerintah Arab Saudi terus memperluas jangkauan vaksinasi COVID-19. Kini anak-anak berusia 12 hingga 18 tahun bisa divaksin COVID-19.

Dikutip dari Reuters, Senin (28/6), nantinya anak-anak di Saudi akan disuntik menggunakan vaksin Pfizer.

Keputusan ini diambil setelah Kementerian Kesehatan Arab Saudi memberi lampu hijau terhadap penggunaan vaksin Pfizer terhadap anak.

“Anak muda berusia 12 hingga 18 tahun akan divaksin menggunakan Pfizer-BioNtech setelah disetujui oleh Otoritas Makanan dan Obat-obatan Saudi,” kata Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

Hanya saja, belum ada pengumuman lebih lanjut kapan vaksinasi terhadap anak ini mulai dijalankan.

Vaksin Pfizer diklaim sangat efektif terhadap anak usia 12-15 tahun. Bahkan diprediksi lebih efektif dibanding penggunaanya pada orang dewasa.

Tidak ada infeksi COVID-19 pada remaja yang telah divaksinasi menggunakan vaksin Pfizer dalam uji klinis terbaru BioNTech. Para pembuat vaksin menyatakan, remaja yang melewati uji klinis berhasil membentuk antibodi yang kuat dan tak mengalami efek samping serius.

Sejauh ini, Arab Saudi menggunakan tiga jenis vaksin yakni Pfizer, AstraZeneca, Moderna dan Johnson & Johnson. Arab Saudi terus mempercepat vaksinasi agar herd immunity segera terbentuk.

Comments are closed.