Kabar Corona Dunia: 50% Kasus di Jerman Varian Delta; Kota Perth Lockdown

Ilustrasi virus Corona. Foto: Shutter Stock

Kasus virus corona kembali meningkat. Sejumlah kasus dengan varian baru ditemukan diberbagai negara.

kumparan merangkum sejumlah kabar corona dunia sepanjang Selasa (29/6). Apa saja beritanya, berikut rangkumannya:

Kini 50 Persen Kasus COVID-19 di Jerman Merupakan Varian Delta

Penularan COVID-19 di Jerman masih terus terjadi. Tercatat pada Senin (28/6), ada tambahan kasus baru sebanyak 226 dan 22 pasien meninggal dunia.

Kini total kasus positif COVID-19 di Jerman mencapai 3.734.698 di mana 3.620.800 pasien dinyatakan sembuh dan 91.335 orang meninggal dunia.

Anggota media menggunakan pakian pelindung merawat pasien yang terkena virus corona di rumah sakit komunitas Havelhoehe di Berlin, Jerman. Foto: REUTERS / Fabrizio Bensch

Presiden dari Robert Koch Institute, Lothar Wieler, mengatakan kini mereka harus mewaspadai varian delta atau varian asal India.

Berdasarkan analisis sequencing genom, varian delta menyumbang 36 persen kasus baru di Jerman dalam rentang 14-20 Juni. Jumlah itu naik 15 persen dari pekan sebelumnya.

“Mengingat penyebaran cepat dari varian virus ini dan analisis data, varian delta diperkirakan sekarang sudah mewakili lebih dari 50 persen kasus di Jerman,” kata Wieler dikutip dari Reuters, Selasa (29/6).

Sementara Perdana Menteri Bavaria, Markus Soeder, mengatakan varian delta diprediksi akan meluas di Jerman pada musim panas. Bahkan beberapa negara mengalami lonjakan kasus COVID-19 akibat varian delta.

“Mengabaikan varian delta akan menjadi kesalahan serius,” kata Soeder.

Oleh sebab itu, Soeder mendesak warga mau ikut dalam program vaksinasi. Vaksinasi saat ini menjadi cara paling ampuh dalam memberikan perlindungan terbaik terhadap virus corona.

Terkait progres vaksinasi di Jerman, tercatat 54 persen populasi telah menerima suntikan pertama. Sedangkan 35 persen telah divaksinasi lengkap atau menerima dua dosis.

Para pejabat Kesehatan Jerman mengatakan penyebaran COVID-19 dapat berkurang jika persentase populasi yang divaksinasi tinggi.

Ratusan warga Mumbai, India mengantre untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Foto: Niharika Kulkarni/Reuters

Setengah dari 1,5 Juta Remaja di Mumbai Punya Antibodi COVID-19

Pemerintah Kota Mumbai, negara bagian Maharashtra, India, melakukan survei COVID-19 terhadap anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun.

Hasil survei yang dirilis pada Senin (28/6) mengungkap setidaknya setengah dari total populasi remaja di kota tersebut sudah terpapar COVID-19. Selain itu, mereka memiliki antibodi terhadap virus corona.

Dikutip dari Reuters, survei dilaksanakan oleh pemerintah Mumbai pada bulan April hingga pertengahan Juni, ketika tsunami COVID-19 menghantam India.

“Ini adalah kabar baik, karena hal ini menunjukkan bahwa setidaknya setengah dari populasi remaja berusia di bawah 18 tahun sudah terlindungi dari COVID-19. Tetapi kita akan selalu memastikan bahwa kita tak akan sampai lengah,” ujar seorang pejabat pemerintahan Kota Mumbai, Suresh Kakani.

Jumlah anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun di Mumbai sebanyak 1,5 juta.

Mereka semua belum ada yang menerima vaksin COVID-19, karena Pemerintah India belum memberikan izin vaksinasi untuk kelompok umur tersebut.

Kakani menambahkan, Pemerintah Kota Mumbai akan terus melakukan survei ini setiap tiga bulan sekali.

Beberapa ahli kesehatan memperingatkan adanya potensi gelombang ketiga pandemi yang akan berdampak buruk pada anak-anak. Varian corona Delta banyak menyerang orang-orang usia muda, termasuk anak-anak.

Tetapi, Mumbai dan beberapa kota lainnya telah mengantisipasi kemungkinan tersebut dengan membangun bangsal perawatan untuk anak-anak.

Seorang pekerja memasang tempat tidur di dalam fasilitas karantina untuk pasien virus corona di lapangan sepak bola di Yangon, Myanmar. Foto: Shee Paw Mya Tin/Reuters

Aung San Suu Kyi Minta Masyarakat Myanmar Waspada Usai COVID-19 Melonjak

Aung San Suu Kyi mengirim pesan kepada seluruh masyarakat Myanmar dari rumah tahanan pada Senin (28/6).

Suu Kyi mendesak masyarakat berhati-hati terhadap penularan COVID-19 karena jumlah kasus harian mencapai tertinggi sejak pertengahan Desember.

Tercatat pada Senin ada tambahan kasus baru sebanyak 1.225 dan 12 pasien meninggal dunia. Kini jumlah kasus COVID-19 di Myanmar mencapai 154.385 orang.

Pengacara Suu Kyi, Min Min Soe mengatakan kliennya sempat bertanya tentang situasi virus corona di Myanmar.

“Dia mengatakan kepada pengacara untuk berhati-hati terhadap COVID-19, mengingatkan kita untuk mencuci tangan dan memakai masker,” kata Min Min Soe dikutip dari Reuters, Selasa (29/6).

“Dia juga meminta untuk mengirimkan pesan yang sama kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap COVID-19,” tambah dia.

Kuburan yang sudah digali untuk pemakaman pasien yang terinfeksi virus corona di Pemakaman Umum Santiago, Chile. Foto: AFP/MARTIN BERNETTI

Presiden Chile Waspadai Lonjakan Kasus COVID-19 Akibat Varian Delta

Presiden Chile Sebastian Pinera meminta seluruh masyarakat mewaspadai varian delta COVID-19. Sebab varian ini dapat menular lebih cepat dibanding varian biasa.

Sebagai buktinya, akibat varian delta kasus COVID-19 di sejumlah daerah di Chile melonjak. Tercatat pada Senin (28/6) ada tambahan kasus baru sebanyak 4.034.

Sementara total kasus positif COVID-19 di Chile kini 1.551.137 orang di mana 32.454 di antaranya meninggal dunia.

“Pertarungan melawan COVID belum berakhir dan tidak ada yang tahu kapan itu akan berakhir,” kata Pinera dikutip dari Reuters, Selasa (29/6).

Dalam rangka mempercepat penanganan COVID-19, Pinera mengumumkan menambah anggaran sebesar 2 miliar dolar AS. Dana itu akan dipakai untuk membeli lima juta dosis vaksin, memperkuat fasilitas perawatan di rumah sakit hingga mempercepat tracing dan testing.

Terkait progres vaksinasi, Chile telah memvaksinasi 82 persen penduduk dari 15 juta populasi. Sedangkan penduduk yang sudah menerima dua dosis mencapai 70 persen.

Rencananya, pekan ini Chile juga akan memulai vaksinasi terhadap anak muda di bawah usia 12 tahun. Pinera mengatakan anak-anak berusia tiga hingga 11 tahun segera divaksin setelah persetujuan vaksinasi anak disetujui.

Suasana jalan raya yang sepi di pusat kota selama lockdown di Sydney, Australia, 28 Juni 2021. REUTERS/Loren Elliott Foto: Loren Elliott/REUTERS

Setelah Sydney, Kini Giliran Kota Perth Lockdown Akibat Varian Delta Meluas

Penularan COVID-19 daru Varian Delta terus meluas di Australia. Terbaru, Kota Perth mengikuti jejak Sydney dan Darwin melakukan lockdown total.

Penguncian dimulai pada Selasa (29/6) tengah malam dan akan berlangsung selama empat hari.

Dikutip dari Reuters, warga Kota Perth dan wilayah Peel di Australia Barat diwajibkan diam di rumah saja. Kecuali untuk kepentingan mendesak.

Keputusan tersebut diambil pemerintah setempat setelah ditemukan kasus COVID-19 ketiga yang terkait dengan wabah yang merebak di Sydney.

Menyebarnya varian corona Delta di Australia ini memaksa tiga ibu kota negara bagian Australia untuk memasuki lockdown ketat, yakni Kota Sydney, lockdown selama dua pekan hingga 9 Juli mendatang; Kota Darwin, di mana lockdown diperpanjang hingga Jumat (2/7/2021); dan yang ketiga, Kota Perth.

Kota-kota lainnya memberlakukan pembatasan kegiatan yang ketat demi mencegah penyebaran varian corona ini.

Akibat lockdown, 80 persen dari total populasi Australia atau lebih dari 20 juta warga terdampak. Mereka diwajibkan menggunakan masker dan membatasi kegiatan perkumpulan.

Ilustrasi virus corona di Australia. Foto: Shutter Stock

Lockdown Makin Meluas, 10 Juta Warga Australia Bakal Terdampak

Lebih dari 10 juta orang di Australia terdampak lockdown. Penguncian ketat dilakukan untuk membendung lonjakan kasus di Australia.

Kasus COVID-19 melonjak di Negeri Kanguru akibat munculnya varian Delta. Varian asal India itu lebih menular dan mematikan.

Awalnya, lockdown diberlakukan di kota terbesar, Sydney. Varian Delta menyebar lewat klaster antar jemput kru pesawat ke hotel karantina.

Pada pekan lalu, dalam seminggu muncul ratusan kasus COVID-19 baru di Sydney.

Setelah Sydney, beberapa kota lain seperti Perth dan Darwin mengikuti langkah itu. Yang terbaru, kota Brisbane memberlakukan lockdown tiga hari demi membendung lonjakan kasus.

“Ini adalah keputusan berat,” kata Menteri Utama Queensland Annastacia Palaszczuk. Brisbane terletak di Queensland.

“Kami harus lockdown di beberapa kota besar karena mereka yang datang dari luar negeri membawa virus ini,” sambung dia seperti dikutip dari Reuters.

Orang tua mengumpulkan materi pembelajaran untuk anak-anak mereka di sekolah umum di Quezon City, pinggiran kota Manila, Filipina. Foto: Ted ALJIBE / AFP

Meski Kasus COVID-19 di Manila Turun, Duterte Perpanjang Pembatasan di Filipina

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan perpanjangan pembatasan kegiatan di ibu kota Manila dan beberapa provinsi sekitar. Kebijakan ini berlaku hingga pertengahan Juli.

Pembatasan di Manila dilakukan saat kasus baru mulai menurun jika dibandingkan April 2021. Saat itu, pandemi COVID-19 di Filipina berada pada puncaknya.

Meski kasus di Manila turun, beberapa provinsi di mengalami lonjakan. Keadaan diperparah dengan lambatnya distribusi vaksin.

Dengan diperpanjang pembatasan aktivitas maka tempat hiburan, taman, dan olahraga kontak masih dilarang. Sedangkan, restoran hingga gym hanya boleh menampung pengunjung 40 persen dari aktivitas.

Selain itu, Filipina juga memperpanjang larangan masuk dari Oman, Uni Emirat Arab, dan sebagian besar negara di Asia Selatan. Hal ini ditujukan untuk menangkal masuknya varian Delta.

Jubir Presiden Filipina, Harry Roque, mengatakan jika ada yang keberatan dengan perpanjangan pembatasan maka diizinkan mengajukan banding.

“Pejabat lokal punya waktu dua hari untuk mengajukan banding pada Presiden,” ucap Roque seperti dikutip dari Reuters.

Comments are closed.