Jurnalis di Manado Ikut Pra UKW yang Diselenggarakan Dewan Pers-LPDS

Logo Dewan Pers

MANADO – Sebanyak 60 jurnalis dari berbagai platform media di Sulawesi Utara, Rabu (7/7) hari ini mengikuti Pra Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers, dengan penyelenggara Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), secara virtual atau sistem dalam jaringan (daring).

Pra UKW yang juga menjadi seleksi akhir untuk calon peserta UKW, dibuka oleh Ketua Komisi Pemberdayaan Organisasi Dewan Pers, Asep Setiawan, sekaligus menjadi narasumber dalam materi Filosofi Jurnalisme.

Dalam materinya, Asep menceritakan tentang bagaimana pemahaman mendasar dalam sebuah kerja jurnalistik, baik mengumpulkan, menguji, menciptakan dan mempresentasikan berita dan informasi yang benar dan faktual, yang dituangkan dalam sebuah berita di media cetak, media siaran maupun media siber untuk kepentingan masyarakat.

Disela-sela materinya, Asep juga menyampaikan tentang peran pers sebagai pilar demokrasi, yang membuat pers tidak akan pernah punah selamanya.

Peserta Pra Uji Kompetensi Wartawan yang digelar Dewan Pers dan LPDS secara virtua;

“Sepanjang negara ini masih ada, sepanjang pers masih jadi pilar demokrasi, maka di situ pers masih dibutuhkan. Hanya mungkin bagaimana cara dan platformnya yang sudah berbeda,” ujar Asep, yang dikenal sebagai wartawan senior ini.

Namun menurut Asep, perlu dipahami jika dalam menjalankan kerja Jurnalistik, wartawan tidak boleh lepas selain dari profesionalitas yang dimiliki, serta menjadikan hati nurani sebagai pedoman.

Dalam sesi diskusi, Asep yang mendapatkan pertanyaan tentang posisi konten kreator maupun youtuber yang saat ini seakan lebih dipercaya oleh narasumber, mengakui jika pihak Dewan Pers memang sedang memproses pembuatan undang-undang perlindungan untuk para kontent kreator di media sosial tersebut.

“Tapi, perlu diketahui, Dewan Pers tidak menciptakan aturan atau undang-undang. Dewan Pers hanya mensahkan peraturan yang dibuat oleh konstituen atau organisasi pers, antara lain, PWI, AJI, IJTI, PFI, SPS, Asosisasi TV Swasta Indonesia, Persatuan Radio Swasta Indonesia, Asoiasi TV Lokal, serta konstituen baru yakni AMSI, dan SMSI,” katanya lagi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LPDS, Hendrayana, yang menjadi pemateri Kode Etik Jurnalistik dan Hukum Pers, menegaskan lagi posisi jurnalis yang harus independen dan tidak boleh merangkap profesi lainnya, agar terhindar dari konflik kepentingan.

Selain itu, Hendrayana menegaskan tentang perlindungan yang diberikan untuk wartawan dalam UU nomor 40 tahun 1999 tentang pers, selama tidak melanggar kode etik jurnalistik.

“Profesi ini sangat mulia dan mendapatkan perlindungan. Namun, itu berlaku untuk yang benar-benar menerapkan kode etik,” kata Hendrayana.

Di materi ketiga atau yang terakhir, para peserta Pra UKM mendapatkan pembahasan tentang Liputan Investigasi dari Rustam Fachri, yang merupakan eks wartawan TEMPO. Dalam kesempatan itu, selain memberikan kiat-kiat menjalankan liputan investigasi agar tidak menimbulkan masalah untuk wartawan, dirinya juga berharap wartawan bisa menjalankan tugasnya dengan profesional dan berada di jalur yang sesuai undang-undang berlaku.

“Kalau kita sudah memilih profesi wartawan, sebaiknya kepentingan publiklah yang kita bela,” kata Rustam mengakhiri sesinya.

Sementara, dalam rilis LPDS yang merupakan lembaga penyelenggara UKW di Manado, dijelaskan jika ada 110 wartawan yang mendaftar pada UKW kali ini. Setelah diseleksi oleh Dewan Pers dan LPDS, muncul 60 nama calon peserta yang akan kembali diseleksi pada Pra-UKW, di mana akan dicari 54 peserta yang berhak ikut dalam UKW.

manadobacirita

Comments are closed.