Jangan Berburuk Sangka ke Menag soal Larangan Salat Idul Adha dan Takbiran

Menag Yaqut Cholil menjawab pertanyaan wartawan saat berkunjung ke Kiai Ponpes Lirboyo. Foto: Dok. Istimewa

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memutuskan meniadakan salah Idul Adha baik di lapangan atau masjid di zona merah dan oranye. Selain itu, takbiran juga ditiadakan karena penularan COVID-19 tidak terkendali.

Namun keputusan ini mendapat kecaman dari sejumlah pihak. Bahkan di media sosial, ramai dibahas ‘Menag Rasa Komunis’.

Menyikapi ini, Wakil Ketua PP LazisNU, Ubaidillah Amin, mengatakan keputusan Menag sudah sangat tepat. Sebab, berkaca dari Idul Fitri, justru terjadi lonjakan COVID-19 setelah pemerintah memberikan kelonggaran.

“Keputusan Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas dengan meniadakan salat Idul Adha dan melarang takbiran saya rasa sudah tepat di tengah pandemi yang sedang ganas-ganas menyerang negara Asia dan khususnya Indonesia saat ini,” kata Ubaidillah dalam keterangannya, Senin (5/7).

“Cobalah kita berkaca dari lebaran Idul Fitri kemarin, pemerintah memberikan kelonggaran dengan membolehkan salat Idul fitri di luar rumah dengan protokol yang ketat, tapi apa hasilnya? Masyarakat tidak mengindahkan imbauan pemerintah, banyak yang tidak menjalankan prokes dan lain sebagainya,” tambah dia.

“Hasilnya satu dua bulan kemudian naik jumlah orang terinfeksi COVID-19 sampai saat ini,” tegas Ubaidillah.

Ubaidillah lantas meminta masyarakat untuk merenung. Jika salat Idul Adha tetep diizinkan digelar di zona oranye dan merah, maka akan terjadi lonjakan COVID-19. Ia juga menyinggung masalah ramai pembahasan ‘Menag Rasa Komunis’.

“Apakah ini mau kita ulangi lagi dengan jumlah orang terinfeksi lebih banyak lagi dan korban berjatuhan lagi? Saya sebagai generasi muda nahdliyin mengecam keras orang-orang yang dengan sengaja mengatakan Menteri Agama komunis, kalau boleh saya katakan kalian lah yang komunis,” ucap dia.

Intelektual Muda NU kemudian sedikit bercerita ketika Nabi Muhammad SAW dalam keadaan bahaya dan dikejar-kejar oleh kaum Kafir Quraish. Kala itu, Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari.

“Baru Ketika situasi sudah aman, mereka akhirnya keluar dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Begitulah sejatinya agama, jadi menurut saya keputusan yang diambil oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas sudah tepat sesuai dengan ajaran agama,” kata Ubaidillah.

Dalam pelaksanaan shalat Idul Adha aturan tersebut diantaranya, penyemprotan cairan disinfektan sebelum pelaksanaan shalat di area masjid. Foto: Mochammad Asim/ANTARA FOTO

Lebih lanjut, Ubaidillah menyampaikan pesan kepada mereka yang membenci pemerintah Jokowi. Ia tidak ingin mereka menebarkan kebencian kepada pemerintah dengan cara mengutip ayat dengan seenaknya sendiri dan sesuai dengan kepentingan mereka,

“Jangan pernah berbicara kalau bukan bidang anda, barang sunah dibilang wajib, barang wajib dibilang haram, dan mungkin anda perlu renungi ayat ini: “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS: Yunus . 36),” tutup dia.

Comments are closed.