Ini Wujud Asli Virus Corona Delta: Seperti ‘Matahari Kecil’

Foto asli corona varian Delta. Foto: The Doherty Institute via Twitter

Varian Delta adalah salah satu varian virus corona yang paling mendapat sorotan di dunia saat ini. Di manapun varian corona itu berada, ia mengakibatkan lonjakan kasus COVID-19 karena transmisinya yang lebih mudah menular.

Setelah pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020, kini para ilmuwan berhasil menampilkan sosok asli varian virus tersebut ke publik. Foto itu diabadikan oleh pusat riset The Doherty Institute yang berbasis di Melbourne, Australia, melalui bantuan mikroskop elektron.

“Lihat mikrograf elektron yang luar biasa dari varian Delta SARS-CoV-2 ini. Ditangkap oleh Dr Jason Roberts, Kepala Mikroskop Elektron dan Virologi Struktural di #DohertyInstitute,” kata institut tersebut, pada 11 Juni lalu.

Di gambar tersebut, virus corona varian Delta tampak bulat pipih dengan tubuh berwarna kekuningan. Spike proteinnya, yang berfungsi sebagai pengikat virus masuk ke sel inang dan menyebabkan infeksi, ditandai dengan warna oranye kemerahan.

Meski telah diunggah hampir sebulan lalu, foto virus corona varian Delta ini baru mencuri perhatian publik di Indonesia pada Rabu (7/7) usai diunggah ahli genetika molekuler Riza Putranto dalam akun Instagram pribadinya.

Merujuk pada bentuk bulat kekuningan di foto tersebut, Riza menyebutnya seperti “matahari kecil.”

“Tampilan varian Delta di bawah elektron mikrograf ini, yang nampak seperti buah rambutan atau matahari kecil ini, menjadi langkah awal untuk memahami kenapa varian ini lebih mudah ditularkan dan mungkin sifat-sifat lainnya yang perlu kita ketahui,” tulis Riza.

Apa warna asli virus corona?

Jika diperhatikan, virus corona varian Delta yang diabadikan The Doherty Institute secara kasat mata tak berbeda dengan foto virus corona asli yang direkam pusat riset lain.

Sejak awal pandemi COVID-19, sejumlah lembaga riset telah merekam bentuk asli virus corona SARS-CoV-2 di dunia nyata. Salah satu yang paling awal merilis wujud virus ini adalah Rocky Mountain Laboratories (RML) yang bernaung di bawah National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) pada Februari 2020.

Wujud asli virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Foto: National Institute of Allergy and Infectious Diseases via flickr (CC BY 2.0)

Meski varian virus corona yang diabadikan para peneliti berbeda-beda, mereka punya karakteristik yang sama. Bentuk virus corona selalu tampak bulat pipih dengan spike protein yang menonjol keluar. Apa yang menjadi pembeda hasil foto masing-masing lembaga riset adalah warna virus corona yang ditampilkan. Ada yang berwarna ungu, oranye kemerahan, magenta, hingga kuning seperti yang ditampilkan The Doherty Institute.

Lantas, apa warna asli virus corona? Pertanyaan ini penting guna mencegah kemungkinan misinformasi yang mungkin muncul dari peredaran gambar virus asli yang berwarna.

Menurut Simon Weaving, dosen senior di School of Creative Industries University of Newcastle di Australia, setiap warna virus corona yang ditampilkan para peneliti telah melalui tahap editing warna. Dalam hal ini, warna virus corona dipilih sendiri oleh para editor foto secara arbitrer sebelum dibagikan ke publik.

Virus corona SARS-CoV-2 dalam bentuk 3D. Foto: Nanographics

Penambahan warna di foto virus corona ditujukan untuk memudahkan publik melihat gambar. Faktanya, foto yang dihasilkan dari mikroskop elektron selalu berwarna abu-abu. Warna tersebut tak hanya menyulitkan melihat detail virus, tetapi juga enggak cukup menarik bagi bagi orang awam untuk memperhatikan gambar, kata Weaving.

Kalau kamu sedikit kritis, kamu mungkin akan melanjutkan pertanyaan: lantas, mengapa foto dari mikroskop elektron tak menghasilkan warnanya sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini, Weaving mengajak kita memahami hakikat warna.

“Persepsi kita tentang warna tergantung pada keberadaan cahaya. Cahaya putih dari matahari adalah kombinasi dari semua panjang gelombang cahaya tampak – dari ungu di satu ujung spektrum hingga merah di ujung lainnya,” kata Weaving dalam tulisannya di The Conversation. “Tetapi ketika objek menjadi lebih kecil, cahaya tidak lagi menjadi alat yang efektif untuk melihat.”

Untuk melihat virus corona yang diameternya tak sampai 200 nanometer, para peneliti tak bisa mengandalkan refleksi cahaya. Pengembangan mikroskop elektron sejak 1930-an lah yang memungkinkan mereka melihat partikel super-kecil seperti virus. Alat ini menembakan elektron ke bidang berisi virus, yang pantulannya menghasilkan gambar.

“Dengan menggunakan elektron, yang jauh lebih kecil dari partikel cahaya, menjadi mungkin untuk mengidentifikasi bentuk, struktur, dan tekstur virus. Tetapi karena tidak ada cahaya yang terlibat dalam bentuk penglihatan ini, maka tidak ada warna,” kata Weaving.

“Gambar virus mengungkapkan dunia monokrom abu-abu. Seperti elektron, atom, dan quark, virus ada di alam di mana warna tidak memiliki makna,” sambungnya.

Comments are closed.