Inggris Akan Cabut Pembatasan Sosial 19 Juli, Warga Tak Perlu Lagi Pakai Masker

Warga mengenakan masker berjalan di Jembatan London, London, Inggris, Selasa (5/1).
Foto: Henry Nicholls/REUTERS

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah menetapkan rencana mengakhiri pembatasan sosial dan ekonomi terkait COVID-19 di Inggris pada 19 Juli 2021. Langkah ini dilakukan untuk berdamai dengan COVID-19, sekaligus membuktikan apakah percepatan vaksinasi corona memberikan perlindungan yang cukup dari varian Delta.

“Kita harus jujur pada diri sendiri. Jika kita tidak dapat membuka kembali kehidupan sosial kita dalam beberapa minggu ke depan, di mana kita akan terbantu dengan datangnya musim panas dan liburan sekolah, maka kapan [lagi] kita bisa kembali normal?” tutur Johnson, Senin (5/7), mengutip Reuters.

Johnson mengkonfirmasi bahwa pemerintah Inggris akan menetapkan keputusan akhir terkait kebijakan ini pekan depan. Apabila diterapkan, pembatasan kontak sosial hingga perintah work from home (WFH) akan dihilangkan.

Klub malam juga akan diizinkan dibuka kembali dan tidak akan ada batasan kapasitas bagi perhotelan. Pedoman untuk menjaga jarak sosial pun akan dihapus, sementara warga tak akan lagi diwajibkan memakai masker.

“Kami akan mencabut aturan limit orang yang menghadiri konser, teater, dan acara olahraga. Kami akan mengakhiri aturan satu meter plus tentang jarak sosial dan kewajiban hukum untuk menutup wajah [masker], meski mungkin akan ada anjuran di mana Anda boleh melakukannya,” tutur dia.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson. Foto: REUTERS/Simon Dawson

Namun, Johnson menekankan vaksinasi harus semakin gencar saat kebijakan baru diterapkan. Ia pun akan memastikan testing dan tracing, serta pengawasan perbatasan negara terus diperketat.

“Kita akan memperkuat vaksinasi dengan mengurangi interval pemberian dosis untuk di bawah 40 tahun, dari 12 minggu jadi 8 minggu, sehingga setiap orang yang berusia di atas 18 tahun harus sudah disuntik penuh pada pertengahan September. [Sementara itu], Anda harus mengisolasi diri jika hasil tes Anda positif atau diperintahkan oleh NHS Tests and Trace,” terang Johnson.

“Kami juga akan mempertahankan kontrol perbatasan yang ketat, termasuk [dari daerah yang masuk] daftar merah. Terakhir, kami akan terus memantau data dan mempertahankan langkah-langkah darurat untuk membantu menangani virus selama periode risiko yang lebih tinggi seperti musim dingin,” imbuh dia.

Sejumlah pejalan kaki mengenakan masker saat berjalan di London, Inggris. Foto: AFP/TOLGA AKMEN

Johnson bertaruh pada program vaksinasi yang telah mengurangi infeksi COVID-19 dan pasien rumah sakit di Inggris. Dia yakin vaksinasi dapat mencegah layanan kesehatan kewalahan oleh gelombang baru COVID-19.

Di sisi lain, Johnson baru berencana menetapkan kebijakan kesehatan baru ini untuk Inggris. Tidak untuk Skotlandia, Wales, atau Irlandia Utara.

Inggris telah mencatatkan angka kematian COVID-19 global tertinggi ke-7 di dunia. Sejumlah pihak menuduh Johnson terlalu lambat untuk menerapkan lockdown di Inggris.

Namun di bawah pemerintahannya, percepatan vaksinasi corona memang cukup kuat. Menurut data pemerintah, 86% orang dewasa di Inggris telah menerima vaksinasi dosis pertama dan 64% di antaranya telah divaksinasi dua dosis.

Pihak Kesehatan Masyarakat Inggris pun menunjukkan bahwa vaksinasi sangat efektif dalam mencegah varian Delta dan mencegah pasien COVID-19 terinfeksi parah atau masuk rumah sakit. Terlebih saat seseorang sudah disuntik dua dosis vaksin.

Comments are closed.