Indonesia Berduka, 30 Dokter Meninggal karena COVID-19 Selama Juni 2021

Ilustrasi dokter menutupi wajah. Foto: Shutter Stock

Tenaga kesehatan seperti dokter merupakan pihak yang berperan penting dalam penanganan COVID-10 di hilir. Akan tetapi, puluhan dokter telah gugur akibat melawan penyakit itu sendiri.

Berdasarkan laporan Tim Mitigasi PB IDI, per 25 Juni, sebanyak 401 dokter menjadi korban keganasan COVID-19. Bahkan sepanjang Juni ini saja 30 dokter telah meninggal dunia.

“Data yang kemarin kami sampaikan pada media ada per 25 Juni, ada 401 dokter yang meninggal hari ini sampai siang tadi bertambah 4 orang meninggal karena COVID dan mereka memang melakukan pelayanan dan tentunya ini menjadi satu kondisi. Total hari ini pada bulan Juni saja berarti 30 dokter,” kata Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Adib Khumaidi dalam Webinar, dikutip kumparan Senin (28/6).

Jumlah dokter yang meninggal pada Juni ini menurut dr. Adib memang tidak sebanyak pada saat lonjakan kasus usai libur natal dan tahun baru Januari lalu. Namun akibat lonjakan usai libur lebaran Mei ini telah mengakibatkan ratusan dokter harus mendapatkan perawatan akibat terinfeksi COVID-19. Salah satu yang terbanyak berada di Kudus.

“Memang tidak sebanyak yang ada di Januari tapi yang perlu diketahui juga kondisi saat ini perawatan atau kita juga banyak teman teman sejawat yang dirawat saat ini. Sebagai gambaran di Kota Kudus, Jateng, satu kota 853 yang terpapar. Saat ini yang dirawat dan melakukan isoman ada 231 dan kemudian di Jogja ada 163 dokter, di Surabaya juga ada lebih dari 100 dengan kondisi di Surabaya ada 5 yang kritis,” tambah dr. Adib.

Sebelumnya, Ia juga menjelaskan lonjakan pasien yang terus berdatangan ke berbagai fasilitas kesehatan COVID-19 merupakan salah satu tanda bahaya. Apalagi kondisi ini menyangkut keterbatasan SDM tenaga kesehatan dari segi fisik dan psikis yang kelelahan karena banyaknya pasien yang membutuhkan perawatan.

“Kondisi ini tentunya memberikan satu warning buat kita bahwa kita bicara di hilir, kami berada di hilir di aspek treatment tentunya punya limitasi, punya keterbatasan baik fasilitas, SDM, yang itu juga berkaitan juga dengan kondisi psikis fisik teman-teman SDM tenaga medis,” ujarnya.

Comments are closed.