Harga Ivermectin Jadi Selangit: Indofarma Mau Genjot Produksi, BPOM Siapkan Izin

Ilustrasi IVERMECTIN, obat cacingan yang disebut-sebut efektif mengatasi COVID-19. Foto: Shutter Stock

Harga ivermectin langsung melambung setelah diyakini sebagai obat terapi COVID-19. Padahal, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut harganya sekitar Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per tablet atau Rp 50.000-70.000 untuk satu trip atau sepuluh tablet.

Berikut fakta-fakta mengenai harga ivermectin yang jadi selangit hingga izin edar BPOM:

Dijual di Toko Online

Ivermectin banyak dijual di toko online atau e-commerce. Namun, harganya menjadi berkali lipat dari yang disebutkan Erick Thohir.

Pantauan kumparan di platform belanja online Tokopedia, ada toko yang menjual ivermectin dengan harga Rp 443.000 dengan isi 1 strip 10 kaplet (penggabungan tablet dan kapsul). Itu artinya, per 1 kaplet harganya Rp 44.300 atau lebih mahal 786 persen jika dibandingkan dengan rencana harga yang disebut Erick minimal Rp 5.000 per tablet.

Indofarma Mau Genjot Produksi

Menanggapi mahalnya harga ivermectin, PT Indofarma Tbk sebagai produsen menjelaskan bahwa ivermectin buatan mereka dijual seharga Rp 6.160 per tablet. Harga itu masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 7.885 per tablet.

“Kebijakan Harga Netto Apotek (HNA) termasuk PPN untuk produk Ivermectin tablet 12 mg/botol isi 20 (dua puluh) tablet yang ditetapkan oleh Perseroan adalah Rp 123.200. Harga itu setara dengan Rp 6.160,- per tablet. Sedangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) termasuk PPN adalah Rp157.700 atau setara Rp 7.885 per tablet,” tulis keterangan Indofarma.

Untuk mengatasi kelangkaan, Indofarma siap memproduksi sebanyak 13,8 juta ivermectin hingga Agustus 2021. BUMN farmasi itu saat ini memiliki kapasitas produksi terpasang sebanyak 4,5 juta tablet per bulan. Tapi untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan, produksi akan ditingkatkan dua kali lipat atau jadi 9 juta tablet per bulan.

Menteri BUMN Erick Thohir meninjau Indofarma, Senin (21/6). Foto: Indofarma

Tapi jika memperhitungkan bahan baku yang sudah ada dan tengah dalam proses pengiriman, produksi Ivermectin bisa ditingkatkan lagi.

“Dengan bahan baku yang telah tersedia maupun dalam proses pengiriman dari penyedia bahan baku di negara lain, rencana produksi Perseroan untuk produk Ivermectin pada awal Juli 2021 sampai dengan Agustus 2021 sekitar 13,8 juta tablet,” tulis keterangan tersebut.

BPOM Siapkan Izin

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan, saat ini ada beberapa perusahaan farmasi yang akan mendapat izin edar produk ivermectin dalam waktu dekat. Hal ini akan membantu ketersediaan obat keras yang memiliki efek samping mual, diare, gangguan fungsi hati dan mengantuk.

“Ada industri farmasi lain yang produksi dan dalam waktu dekat sudah ada industri farmasi lain akan dapat izin edar. Jadi ketersediaan Ivermectin di pasar tetap ada,” ujarnya saat konferensi pers virtual, Jumat (2/7).

Penny juga menyatakan bahwa BPOM akan terus berupaya memfasilitasi perusahaan farmasi untuk memproduksi ivermectin di tengah pandemi COVID-19. Namun, BPOM akan secara ketat memeriksa produksi, dan distribusi perusahaan.

Comments are closed.