Haiti Umumkan Keadaan Darurat usai Presiden Jovenel Moise Tewas Ditembak

Presiden Haiti Jovenel Moise. Foto: Timothy A. Clary/AFP

Haiti mengumumkan keadaan darurat usai Presiden Jovenel Moise tewas ditembak. Keadaan darurat ditetapkan selama dua pekan untuk mengusut dan menindaklanjuti pelaku yang membunuh Moise.

Namun, Perdana Menteri yang menjabat sementara, Claude Joseph, meminta semua pihak untuk tak panik. Hal ini ia katakan setelah memimpin rapat kabinet dalam rangka menjawab kebingungan masyarakat, tentang siapa yang akan mengambil alih kendali negara.

“Rekan-rekan, tetap tenang karena situasi terkendali,” kata dia, mengutip Reuters.

Sebelumnya, Moise ditembak mati oleh orang-orang bersenjata kaliber berat pada Rabu dini hari waktu setempat. Saat itu Moise tengah berada di kediamannya yang berlokasi di perbukitan di atas Port-au-Prince.

Istri Moise yang berusia 53 tahun, Martine Moise, juga tertembak. Ia kini tengah dirawat.

Pembunuh Moise kini masih diburu. Tetapi Joseph mengungkap ada informasi awal yang menunjukkan kalau penyerang Presiden Haiti itu berbicara Spanyol dan Inggris. Ia mengutuk pembunuhan itu sebagai tindakan barbar.

“Informasi awal menunjukkan [penyerang] itu adalah sekelompok orang yang berbicara bahasa Inggris dan Spanyol. Mereka dipersenjatai dengan senjata kaliber tinggi,” kata Joseph.

Sementara dalam video yang beredar di media sosial (belum dapat diverifikasi oleh Reuters), orang-orang bersenjata itu mengaku sebagai anggota Drug Enforcement Administration (DEA) AS saat mereka memasuki kediaman Moise yang dijaga ketat. Tetapi hal ini belum ditanggapi oleh juru bicara DEA.

Presiden Haiti Jovenel Moise. Foto: Chandan Khanna/AFP

Joseph mengatakan polisi dan tentara Haiti telah mengendalikan situasi keamanan. Jalan-jalan di ibu kota yang berpenduduk 1 juta orang itu biasanya ramai, tetapi sepi dan kosong pada Rabu pagi setelah serangan dan tembakan.

Bandara internasional Port-au-Prince pun ditutup. Namun direktur bandara belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Selain itu, Republik Dominika telah menutup perbatasannya dengan Haiti di pulau Karibia Hispaniola kecuali untuk warga negara yang pulang, dan meningkatkan keamanan.

“Kejahatan ini merupakan serangan terhadap tatanan demokrasi Haiti dan sekitarnya,” kata Presiden Republik Dominika Luis Abinader.

Penembakan Moise memicu kecaman internasional termasuk dari Washington dan tetangga negara-negara Amerika Latin. Banyak pihak yang khawatir kekacauan akan terjadi di negara Karibia yang miskin itu, terlebih seiring adanya rentetan kekerasan geng di Port-au-Prince.

Kekerasan telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh krisis kemanusiaan, lalu berkembang dan menimbulkan kerusuhan politik. Hal ini pun telah mengubah banyak distrik di ibu kota menjadi zona terlarang.

Para pemimpin di seluruh dunia mengutuk pembunuhan itu dan meminta kedamaian.

“Kami siap membantu saat kami terus bekerja untuk Haiti yang aman dan terkendali,” kata Presiden AS Joe Biden.

Di sisi lain, Joseph meminta PBB untuk mengadakan pertemuan Dewan Keamanan sesegera mungkin. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres tidak segera menjawab permohonannya itu, tetapi mengatakan PBB akan terus mendukung pemerintah dan rakyat Haiti.

Sementara, diplomat di New York mengatakan dewan yang beranggotakan 15 orang itu akan bertemu dalam beberapa hari mendatang untuk membahas pembunuhan itu.

Tidak jelas siapa yang akan menggantikan Moise sebagai presiden. Dia bahkan belum lama menunjuk perdana menteri baru minggu ini yang belum dilantik.

Adapun Ketua Mahkamah Agung memiliki peran penting di konstitusi Haiti meninggal bulan lalu akibat COVID-19 dan belum diganti.

Comments are closed.