Gunung Ile Lewotolok Erupsi, Tinggi Abu 1.000 Meter

Erupsi gunung Ile Lewotolok di Lembata pagi ini. Foto : Istimewa

LEMBATA – Gunung api Ile Lewotolok di kabupaten Lembata, NTT erupsi lagi pada Minggu 15 Mei 2022 hari ini. Tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak kawah.

“Setiap hari erupsi, kadang tinggi sekali, tapi kadang hanya hembusan tanpa terlihat kolom abu,” kata Jefri Pugel, Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, Minggu (15/5).

Erupsi akibat letusan gunung itu tidak menimbulkan kebakaran hutan di sekitar lereng gunung.

“Periode pengamatan 00.00-06.00 hari ini,” ujarnya.

Hujan Abu dan Pasir

Sementara itu beberapa desa di kecamatan Ile Ape seperti Bungamuda, Lamawara dan Lewotolok rupanya masih sering diguyur hujan abu dan pasir.

“Biasanya, pagi, siang sore atau malam. Tadi pagi itu juga terjadi lagi,” kata Kepala Desa Lamawara, Yustinus Balawala, Minggu (15/5).

Yustinus mengakui, kejadian ini bukan baru saja terjadi tapi sudah berulang kali dan sekarang masyarakat sudah mulai terbiasa.

Akan tetapi yang dikhawatirkan saat ini adalah material erupsi yang jatuh ke dalam sumur milik warga. “Kita mau minum konsumsi juga takut,” terangnya.

Karena sering terjadi hujan abu dan pasir, masyarakatnya selalu siap dan sudah sadar.

“Warga dengan sendirinya amankan diri dalam rumah, termasuk barang-barang lain. Desa Bungamuda juga rasakan terus-terus,” jelasnya.

Carles Paokuma, warga Desa Bungamuda juga katakan hal yang sama.

“Terus-terus, biasnya pagi atau malam itu,” katanya ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (15/5).

Warga di Bungamuda, kata dia, merasa cemas karena atap seng rumah mereka kalau setiap hari diguyur material panas dari gunung maka akan bocor.

“Ancaman untuk kami disini,” jelasnya.

Meski begitu, selama fenomena alam ini terjadi tidak terjadi korban jiwa.

“Takut saja atap seng rusak,” tandasnya.

PGA Ile Lewotolok menjelaskan, beberapa desa itu sering alami hujan abu dan pasir karena saat erupsi angin membawa material vulkanik itu ke arah Tenggara sehingga jatuh di sekitar beberapa desa itu.

“Faktor angin, biasanya ke arah Tenggara gunung,” terang Jefri Pugel.

Biasanya, kalau tinggi kolom abu di atas atau dibawa 1.000 tapi kalau ada hembusan angin ke Tenggara maka besar kemungkinan jatuh ke kawasan itu, kalau tidak ada angin yang kuat maka akan jatuh di dalam kawah.

Masyarakat di tiga desa itu diminta untuk tidak perlu panik, tapi selalu waspada dan tetap patuhi rekomendasi dari PGA Ile Lewotolok.

Comments are closed.