Gubernur BI: Ekonomi RI Moncer, Investor Jangan Terlalu Lama Sembunyi

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berbicara dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (30/11/2022). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memamerkan pencapaian perekonomian Indonesia yang sangat baik dibandingkan negara lain. Dia pun meminta investor untuk tidak sungkan menanamkan modal di Tanah Air.

Perry menuturkan, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tinggi di tahun ini, tingkat inflasi rendah, rupiah akan terus menguat, neraca pembayaran surplus, dan kredit akan tumbuh 10-12 persen. Indikator tersebut menurut Perry menandakan seluruh parameter ekonomi dalam kondisi sehat.

“Jadi rekan investor tersayang, berapa lama Anda akan bersembunyi? Jangan terlalu lama, karena Indonesia menawarkan begitu banyak peluang. Ya masih ada ketidakpastian. Tapi inilah hidup, hidup selalu dengan ketidakpastian,” kata dia saat Bank Indonesia Annual Investment Forum 2023, Kamis (26/1).

Dia hanya memastikan, meski ada ketidakpastian bahkan resesi global mengancam, yang perlu pihaknya lakukan adalah melihat dan mengukur probabilitas ketidakpastian, menetapkan baseline atau skenario dasar, serta merespons dengan kebijakan yang tepat.

Perry memaparkan kinerja ekonomi Indonesia di depan para investor. Dia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen di tahun 2022. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 4,5-5,3 persen, didukung oleh rampungnya PPKM dan besarnya konsumsi domestik, ekspor, dan investasi.

“Tidak hanya itu, Indonesia adalah salah satu produsen baterai lithium terbesar. Sekarang ada relokasi industri kendaraan listrik, Presiden kami akan terus dorong hilirisasi nikel, timah, bauksit, tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi juga menurunnya neraca berjalan serta meningkatkan investasi asing,” jelasnya.

Selain itu, dia berkata inflasi Indonesia juga berhasil turun lebih cepat dari perkiraan. Meskipun ada kenaikan harga BBM subsidi di pertengahan tahun 2022, realisasi investasi tahun lalu masih moderat di angka 5,51 persen.

“Tahun ini kita pastikan inflasi kita di bawah 4 persen yang kita targetkan. Inflasi inti kami akan berada di bawah 4 persen dalam target kami, lebih cepat dari yang kami perkirakan dan kami inginkan sebelumnya,” tutur Perry.

“Kami bersyukur dibandingkan dengan inflasi global 5,2 persen di akhir tahun ini dan dibandingkan dengan negara lain. Begitu banyak yang bisa kita syukuri untuk Indonesia,” imbuhnya.

Perry melanjutkan, nilai tukar atau kurs rupiah juga diprediksi akan semakin menguat di tahun ini, setelah gejolak ekonomi global sedikit mereda. Adapun saat ini kurs sudah berhasil di bawah Rp 15.000 per dolar AS.

Menurut dia, penguatan kurs rupiah didukung oleh seluruh parameter ekonomi, seperti tingginya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi rendah, imbal hasil (yield) yang menarik, transaksi berjalan surplus di tahun lalu, investasi asing meningkat, dan surplus neraca pembayaran.

“Banyak data yang ada, mereka semua mengatakan rupiah harus terapresiasi hanya masalah waktu ketika turbulensi global sedikit stabil. Kami akan melihat itu,” ujar Perry.

Comments are closed.