Gejala Corona Varian Delta Berbeda dengan Covid Biasa, Ini Penjelasannya

Orang-orang beristirahat di ruang gawat darurat pasien corona di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta, Selasa (30/6). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Sudah setahun lebih masyarakat di seluruh dunia bergelut dengan pandemi virus corona. Ketika SARS-CoV 2 muncul dan merebak di berbagai penjuru negeri, para peneliti bersama instansi pemerintah bergegas untuk menemukan gejala yang dialami oleh pasien.

Namun, virus terus berevolusi sehingga tampaknya gejala yang paling umum juga berubah. Data menunjukkan orang yang terinfeksi varian Delta mengalami gejala berbeda dengan yang biasa terjadi di awal pandemi COVID-19.

Ini berarti virus yang sama dapat menghasilkan tanda dan gejala yang berbeda dengan cara yang berbeda. Menurut Lara Herrero, Pemimpin Riset Virologi dan Penyakit Menular dari Griffith University, yang dijelaskan lewat tulisannya di The Converstation, cara virus menyebabkan penyakit tergantung pada dua faktor utama:

Faktor virus, termasuk kecepatan replikasi, cara penularan, dan lain-lain. Faktor virus berubah saat virus berevolusi.

Faktor orang yang terinfeksi, meliputi usia, jenis kelamin, obat-obatan, makan yang dikonsumsi, olahraga, kesehatan, dan stres.

Warga yang menggunakan masker melintasi mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

“Jadi ketika kita berbicara tentang tanda dan gejala virus, kita mengacu pada apa yang paling umum. Untuk memastikan hal ini, kami harus mengumpulkan informasi dari kasus-kasus individual,” kata Herrero.

Apa saja tanda dan gejala umum varian Delta?

Dengan menggunakan sistem laporan mandiri melalui aplikasi seluler, data dari Inggris menunjukkan ada sejumlah gejala yang dialami ketika orang terinfeksi varian Delta, yakni sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, demam, dan batuk terus menerus.

Sementara demam dan batuk selalu menjadi gejala umum COVID-19, sakit kepala dan tenggorokan muncul pada beberapa orang. Sedangkan pilek jarang dilaporkan. Untuk anosmia atau kehilangan indera penciuman yang semula cukup umum, kini menempati urutan kesembilan.

Infografik: 5 Gejala Umum Varian Corona Delta India. Foto: kumparan

Ada beberapa alasan kenapa perubahan gejala varian Delta ini bisa terjadi. Herrero menduga ini karena data awal datang dari pasien yang pergi ke rumah sakit ketika gejala mulai berat. Selain itu, vaksinasi yang lebih tinggi pada kelompok usia lebih tua membuat mereka yang lebih muda menjadi paling banyak terinfeksi dan cenderung mengalami gejala lebih ringan.

Bisa juga karena evolusi virus, dan perbedaan karakteristik (faktor virus) dari varian Delta. Kendati begitu, ini masih sekadar dugaan. Ihwal kenapa gejala bisa berbeda masih belum pasti.

“Data ini penting karena karena menunjukkan kepada kita bahwa apa yang mungkin kita anggap hanya pilek ringan bisa menjadi kasus COVID-19,” katanya.

Kendati varian virus baru dapat membahayakan efikasi vaksin, namun sejauh ini vaksin yang tersedia tampaknya masih menawarkan perlindungan yang baik, termasuk AstraZeneca dan Pfizer.

Comments are closed.