Fakta dan Dugaan Kasus Pembunuhan Presiden Haiti

Presiden Haiti Jovenel Moise. Foto: Chandan Khanna/AFP

Presiden Haiti, Jovenel Moise, tewas ditembak oleh sekelompok orang bersenjata pada Rabu (7/7) pukul 01.00 dini hari waktu setempat.

Haiti langsung mengumumkan keadaan darurat usai kejadian itu. Keadaan darurat ditetapkan selama dua pekan untuk mengusut dan menindaklanjuti pelaku yang membunuh Moise.

Moise ditembak mati oleh orang-orang bersenjata kaliber berat. Moise ketika itu berada di kediamannya yang berlokasi di perbukitan di atas Port-au-Prince.

Lantas bagaimana perkembangan dari insiden ini sejauh ini?

Berikut kumparan rangkum sejumlah fakta dan dugaan pembunuhan Presiden Haiti:

Wartawan berdiri di dekat kediaman pribadi Presiden Haiti Jovenel Moise setelah dia ditembak mati oleh kelompok bersenjata di Port-au-Prince, Haiti. Foto: Estailove St-Val/Reuters

Moise Menjabat Presiden Haiti Sejak 2017

Moise berkuasa di Haiti sejak 2017. Selama menjadi presiden di negara Karibia ini, Moise berhadapan dengan berbagai krisis politik hingga keamanan.

Sejak kemenangannya pada pemilu November 2016, Moïse kerap menghadapi protes dari rakyatnya yang menuntut pengunduran dirinya.

Moise lahir di Trou-du-Nord, Nord Est, Haiti, pada 26 Juni 1968. Ia dibesarkan di keluarga berpendapatan menengah, dengan ayah yang bekerja sebagai montir dan petani serta ibu yang merupakan seorang penjahit.

Moise dan keluarganya pindah ke Port-au-Prince pada tahun 1974. Di sana, Moïse mengenyam pendidikan hingga universitas, di mana ia mendalami program studi Ilmu Politik. Di sana ia bertemu dengan sang istri, Martine Marie Etienne Joseph, yang ia nikahi pada 1996.

Presiden Jovenel Moise. Foto: AFP

Keputusan itu tepat. Moïse berubah jadi seorang pengusaha yang sukses. Ia memperoleh julukan “The Banana Man” atau “Pria Pisang” dari kesuksesannya dalam dunia bisnis agrikultura atau pertanian. Ia juga mengadu nasibnya pada bisnis pengolahan air dan sektor energi.

Moise menciptakan hingga ratusan lapangan kerja di perkebunan pisang seluas 10 hektar di Nord-Ouest, Haiti utara. Selain itu, ia juga mendirikan Agritrans, sebuah proyek yang membantu ekspor buah-buahan dari Haiti ke berbagai negara.

Ia resmi menduduki jabatannya setelah disumpah pada Februari 2017. Pemilu yang memenangkan dirinya tahun 2016 itu masih dianggap penuh kecurangan, hingga akhirnya pada 2018, demonstrasi besar-besaran pecah, menuntut Moise untuk lengser.

Pembunuh Presiden Hatiti Berbicara Bahasa Spanyol dan Inggris

Kabar penembakan Moise disampaikan plt PM Haiti Claude Joseph. Moise ditembak mati pada Rabu malam.

Joseph mengungkap ada informasi awal menunjukkan kalau penyerang berbicara Spanyol dan Inggris. Ia mengutuk pembunuhan itu sebagai tindakan barbar.

“Informasi awal menunjukkan [penyerang] itu adalah sekelompok orang yang berbicara bahasa Inggris dan Spanyol. Mereka dipersenjatai dengan senjata kaliber tinggi,” kata Joseph.

Istri Moise yang berusia 53 tahun, Martine Moise, juga tertembak namun berhasil selamat. Martine Moise akan pergi ke Miami untuk perawatan medis.

Presiden Jovenel Moise duduk di Istana Kepresidenan. Foto: AFP

Pembunuh Presiden Haiti Jovenel Moise Diduga Tentara Bayaran Profesional

Duta Besar Haiti untuk Amerika Serikat, Bocchit Edmond, berpendapat pembunuh Moise adalah tentara bayaran profesional yang menyamar sebagai agen AS. Ia memperkirakan para pelaku telah meninggalkan Haiti.

Para pembunuh yang muncul di kediaman Moise disebut sebagai agen dari Drug Enforcement Administration (DEA). Tetapi menurut Edmond, tindakan mereka tidak sesuai dengan pasukan dari agen AS.

“Itu adalah serangan yang diatur dengan baik dan itu adalah para profesional. Kami memiliki video dan kami yakin itu adalah tentara bayaran,” kata Edmond.

Edmond menduga mereka mungkin telah meninggalkan Haiti ke negara tetangga, Republik Dominika, yang berbahasa Spanyol.

“Kami tidak tahu apakah mereka pergi [dari Haiti]. [Tapi] jika mereka tidak berada di negara ini sekarang, hanya ada satu cara bagi mereka untuk pergi dan itu adalah melalui perbatasan, karena tidak ada pesawat,” terang dia.

Edmond menambahkan sebuah pesawat pribadi akan terdeteksi oleh otoritas penerbangan sipil, tetapi pergerakan yang melintasi perbatasan bisa saja tidak terdeteksi.

Anggota Tentara Nasional Republik Dominika menjaga perbatasan bersama antara Republik Dominika dan Haiti, setelah ditutup usai Presiden Haiti Jovenel Moise ditembak mati. Foto: Ricardo Rojas/Reuters

Polisi Haiti Tembak Hingga Tewas 4 Orang Terduga Pembunuh Presiden Jovenel Moise

Polisi Haiti menembak mati empat orang yang diduga membunuh Presiden Jovenel Moise.

“Mereka sudah dibunuh atau ditangkap,” kata Kepala Kepolisian Haiti Leon Charles.

“Sebanyak empat orang pembunuh bayaran kami bunuh dan dua lainnya sudah kami tahan di bawah kendali kami,” sambung dia.

Terbunuhnya Moise membuat seluruh aparat keamanan di Haiti bergerak memburu pelaku. Selain berhasil membunuh empat orang, aparat keamanan menahan dua orang yang diduga terlibat upaya pembunuhan terhadap Moise.

Anggota Tentara Nasional Republik Dominika menjaga perbatasan bersama antara Republik Dominika dan Haiti, setelah ditutup usai Presiden Haiti Jovenel Moise ditembak mati. Foto: Ricardo Rojas/Reuters

Haiti Terancam Jadi Negara Gagal

Perbatasan Haiti dan Republik Dominika ditutup total. Operasional bandara internasional Haiti di Ibu Kota Port-au-Prince dihentikan sementara, sebagai bagian dari keadaan darurat nasional.

Pembunuhan Moise ini menyebabkan kekosongan jabatan kekuasaan, menjadikan pemerintahan Haiti layaknya luka basah yang rentan dan rawan.

Plt Perdana Menteri Claude Joseph dan kabinetnya sementara mengambil alih kekuasaan eksekutif hingga terpilihnya presiden baru.

Kebijakan tersebut tercantum dalam sebuah pasal di konstitusi Haiti, PM dan kabinet akan menerima kekuasaan itu jika seorang presiden dicabut dari jabatannya, tak sanggup melanjutkan kepemimpinannya, atau meninggal dunia.

Pemerintahan Haiti sebenarnya telah berencana menyelenggarakan pemilihan presiden pada September mendatang, mengingat masa jabatan Moise seharusnya berakhir pada Februari 2021.

Namun, hingga kini masih belum jelas apakah pemilu tersebut akan berjalan sesuai rencana atau tidak.

Bahkan hingga tewasnya Moise, Haiti tidak memiliki Majelis Rendah dalam parlemen, dikarenakan kegagalan pemilihan legislatif yang seharusnya berlangsung pada 2019 lalu. Negara ini menganut praktik pemerintahan dua kamar legislatif (bikameral).

Tewasnya Moise dan kekosongan kekuasaan ini berpotensi meningkatkan berbagai pelanggaran hukum dan kekerasan yang sudah mengakar di negeri ini. Haiti bahkan kini terancam jadi negara gagal.

Comments are closed.