Emil Dardak Ungkap Kematian Pasien Corona di IGD RS Jatim Naik 5 Kali Lipat

Wagub Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Foto: Istimewa

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak mengungkap kini kematian pasien COVID-19 di Instalasi Gawat Darurat (IGD) melonjak 5 kali lipat dibandingkan pada libur Natal dan Tahun Baru 2020 lalu. Hal ini diduga ada kaitannya dengan varian Delta yang mulai mendominasi di Indonesia.

“Sekarang kita lihat di akhir 2020 kematian [akibat COVID-19] di IGD 4%. Di 2021, gelombang varian Delta, kematian di IGD lebih dari 20%. Artinya banyak sekali yang datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah,” kata Emil di YouTube BNPB, Senin (2/8).

“Pak Menkes baru saja menyampaikan saturasi [oksigen] dulu orang datang ke rumah sakit 92-93%, sekarang di bawah 80% dan ini yang membuat kondisinya sangat parah,” tambah dia.

Kendati demikian, Emil mengatakan hal ini juga terjadi karena masih banyaknya stigma terkait pengobatan COVID-19 di masyarakat. Menurut dia, masih banyak orang yang tak mau memeriksakan diri karena takut dikucilkan setelah dinyatakan positif COVID-19, atau takut tidak ditangani dengan baik di RS.

“Ada beberapa orang itu takut stigma mereka takut dianggap ‘wah, dia COVID” kemudian dijauhi oleh orang. Ada juga yang memang takut karena di rumah sakit ini nanti bahaya kalau rumah sakitnya penuh, banyak orang, tak tertangani lebih baik di rumah saja, dia merasa takut bahkan tidak nyaman di rumah sakit,” papar dia.

“.Jadi banyak yang tidak mau ke rumah sakit ‘karena horor, karena rumah sakit penuh, rumah sakit tak tertangani, rumah sakit ngeri’. Inilah yang mempersulit,” tambahnya.

Lebih lanjut, Emil menyoroti saat ini masih ada dua hal lain terkait persepsi masyarakat terhadap COVID-19 yang perlu diperbaiki. Yakni gabungan dari mispersepsi (kesalahpahaman), ignorance (pengabaian), dan denial (penolakan), serta ketidakpercayaan terhadap vaksinasi corona.

Hal ini, menurut dia, akar permasalahan pandemi yang harus segera diselesaikan secara sosial di luar penanganan medis. Kalau tidak, semakin banyak pasien corona yang berisiko mengalami perburukan kilat dan berujung fatal di tengah dominasi varian Delta saat ini.

“Ketiga hal inilah yang menjadi akar permasalahan yang penyelesaiannya tidak bisa hanya medis, tapi juga social engineering. Karena tantangan dari satu wilayah ke wilayah lain amat sangat berbeda. Apalagi nanti ada tambahan lagi persepsi masyarakat dalam tracing yang mana ada satu anggapan saya tidak mau di COVID-kan,” ujar Emil Dardak.

“[Atau] ada juga yang merasa ‘saya lebih baik enggak usah tahu saya COVID apa enggak, dia percaya ada COVID tapi dia enggak mau mengkonfirmasi dirinya COVID. Masih ada harapan terkecil bahwa nanti terlepas dari COVID, saya akan sembuh, kok, yang penting orang lain enggak usah tau atau saya sendiri pun enggak usah tau saya COVID’. Nah, ini yang bahaya karena varian Delta perburukan kondisinya menjadi sangat-sangat cepat,” tandasnya.

Comments are closed.