Efikasi Vaksin Pfizer Turun di Israel, Kini Jadi 65%

Ilustrasi vaksin corona Pfizer-BioNTech. Foto: BioNTech SE 2020/via REUTERS

Israel melaporkan ada penurunan efektivitas vaksin Pfizer/BioNTech dalam mencegah infeksi COVID-19. Penurunan ini ditemukan seiring dengan merebaknya varian Delta dan berakhirnya pembatasan sosial di Israel.

Mengutip Reuters, efektivitas vaksin Pfizer dalam mencegah infeksi corona di Israel menjadi 64% sejak 6 Juni. Hal ini diungkap Kementerian Kesehatan negara itu pada Senin (5/7).

Namun, mereka mengatakan vaksin Pfizer tetap sangat efektif dalam mencegah COVID-19 serius. Vaksin itu masih 93% efektif dalam mengurangi risiko rawat inap dan gejala berat.

Kementerian Kesehatan tidak menerangkan lebih lanjut terkait tingkat efikasi vaksin Pfizer sebelumnya. Namun pada Mei 2021, pejabat kementerian melaporkan bahwa dua dosis vaksin Pfizer memberikan lebih dari 95% perlindungan terhadap infeksi, rawat inap dan penyakit parah akibat COVID-19.

Di sisi lain, seorang juru bicara Pfizer menolak mengomentari data dari Israel ini. Tetapi ia mengungkit bahwa penelitian lain menunjukkan, antibodi yang ditimbulkan oleh vaksin Pfizer masih mampu mengatasi semua varian baru dalam uji klinis.

Salah satunya varian Delta. Meski, penelitian itu memang menunjukkan ada penurunan efikasi vaksin Pfizer dalam mengatasi varian baru.

Seorang pekerja medis memegang botol vaksin corona ketika staf medis akan divaksinasi di Sheba Medical Center di Ramat Gan, Israel, Sabtu (19/12). Foto: AMIR COHEN/REUTERS

Sekitar 60% dari 9,3 juta penduduk Israel telah menerima setidaknya satu suntikan vaksin Pfizer. Program vaksinasi ini pun disebut berperan besar dalam menurunkan kasus harian di Israel, yang lebih dari 10.000 pada Januari menjadi satu digit pada Juni 2021.

Penurunan ini mendorong Israel untuk mencabut hampir semua kebijakan pembatasan sosial, termasuk kewajiban memakai masker. Namun pada saat yang sama, varian baru Delta yang kini mulai dominan secara global ikut menyebar di Israel.

Sejak itu, kasus harian di Israel secara bertahap meningkat lagi dan mencapai 343 kasus pada Minggu (4/7), sementara jumlah yang sakit parah naik menjadi 35 dari 21 orang. Kebijakan memakai masker pun kembali diterapkan.

Namun, Ilmuwan Data Eran Segal dari Institut Sains Weizmann Israel mengatakan negara itu tidak mungkin mengalami tingkat rawat inap yang tinggi seperti pada awal tahun. Menurutnya kini jauh lebih sedikit yang sakit kritis.

Dia mengatakan tidak apa-apa untuk melanjutkan kehidupan kembali normal dan tanpa batasan. Asalkan jangkauan vaksinasi dan testing bagi orang Israel yang pulang dari luar negeri terus ditingkatkan.

Comments are closed.