Dunia Balap di Balik Lahirnya Roti Gembong Gedhe

“Seperti balap offroad, bisnis memerlukan kestabilan emosi sehingga tahu kapan ngegas, kapan bermanuver, dan kapan ngerem.” Afan Syahdana, 19 tahun, Direktur Marketing Gembong Gedhe.

Adip (kiri) dan Afan (kanan) kakak beradik founder Roti Gembong Gedhe. Foto: Dimas Rosyantoko

Afan Syahdana, usianya memang baru 19 tahun, menginjak 20 tahun sebentar lagi. Kakaknya, Rifawan Pradipta Kusuma atau biasa dipanggil Adip, baru 22 tahun. Dengan usia yang begitu muda, keduanya membidani lahirnya Roti Gembong Gedhe, salah satu brand bakery dengan cabang terbanyak di Yogya dan sekitarnya. Bayangkan, dalam dua tahun saja cabangnya sudah 69 dan segera akan dibuka 21 cabang lagi.

Keduanya lahir dari seorang ayah yang menyukai otomotif. Sejak keduanya menginjak usia belasan, langsung saja nyemplung ke dunia otomotif profesional. Tak tanggung-tanggung, ayahnya memfasilitasi keduanya untuk menekuni hobi balapan offroad.

“Sejak kecil kalau pergi sama ayah sama ibu, ibu cuma jadi pendengar saja karena kami bertiga cowok semua kan, ngomonginnya soal mobil terus, hahaha,” kata Afan.

Di bisnis, Roti Gembong Gedhe sebenarnya adalah bisnis ‘serius’ pertama yang mereka jalankan. Bagi keduanya, langsung sukses benar-benar sesuatu yang tak disangka-sangka.

“Sebelum-sebelumnya memang sudah bisnis tapi kecil-kecilan. Pas SMA ya jualan stiker mobil, pas di Singapura saya beli-beli sepatu seken untuk dijual di sini, tapi belum pernah punya toko,” kata Afan.

Ya, Afan memang kuliah jurusan Manajemen Bisnis di Singapura sejak 2018 lalu. Tapi harus pulang pada Februari 2020 karena pandemi membuat pemerintah Singapura meliburkan semua kampus di sana. Kepulangan inilah yang mengubah takdir bisnis Afan dan juga Adib, kakaknya.

“Kalau Afan nggak pulang, mungkin Roti Gembong ya nggak bisa seperti sekarang. Ini kayak di balap sih, saya kan enggak pernah balapan sendirian juga, selalu sama Afan, dan kita race bareng, bersaing,” jelas Adip, yang masih menempuh kuliah jurusan Manajemen di Universitas Islam Indonesia (UII).

Melihat Orangtua

Adip (kiri) dan Afan (kanan). Foto: Dimas Rosyantoko

Adip sejak kecil memang sudah ingin jadi bisnisman. Tak pernah terlintas masa depan lain bagi dirinya. Kecuali, tentu saja menjadi pebalap offroad profesional. Tapi meski menjadi pebalap offroad, Adip selalu membayangkan dirinya memiliki bisnis yang mampu mensuport balapannya.

“Mungkin karena belum percaya kalau bisa hidup dari balapan. Jadinya meski turun balapan profesional, tetap saja bayangannya hidup dari bisnis,” kata Adip.

Berbeda dengan Afan, sebelumnya sebenarnya justru ingin menjadi polisi. Membayangkan dirinya mengenakan seragam polisi dan bertugas memberantas kejahatan, Afan merasa sangat keren. Karena itu, sejak SMP dia membayangkan setelah lulus sekolah SMA nanti langsung akan mendaftar Akpol.

Ilustrasi Roti Gembong Gedhe. Foto: Istimewa

Namun lambat laun, keinginan untuk jadi polisi itu pudar setelah melihat kehidupan orangtuanya yang menjadi pengusaha. Betapa enaknya bekerja untuk diri sendiri, tanpa terikat oleh aturan-aturan instansi tertentu. Apalagi saat itu usaha orangtuanya mulai berkembang dan berbuah manis. Ya, orangtuanya memiliki biro perjalanan umrah dan haji yang cukup besar di Yogyakarta.

“Kok bapak sama ibu kelihatannya enak, enggak terikat instansi, kalau polisi kan pasti terikat banget sama aturan,” kata Afan.

Apalagi Afan adalah tipe anak yang menyukai kebebasan. Dia tidak suka jika ada sesuatu yang mengekang atau mengikat hidupnya. Karena alasan itu, Afan mengubur dalam-dalam cita-cita menjadi polisi dan beralih ingin jadi seorang pengusaha. Alih-alih mendaftar Akpol, setelah lulus SMA Afan justru mengambil kuliah jurusan Manajemen Bisnis di Singapura.

“Ibu bilang, kalau kamu ingin melakukan hal besar, ya jadi pengusaha,” kata afan.

Belajar Ngegas dan Ngerem dalam Bisnis dari Balap

Afan di belakang kemudi offroad siap melibas lintasan. Foto: Istimewa

Hobi balapan yang dikerjakan Adib dan Afan sejak kecil diakui keduanya sangat berperan dalam proses pertumbuhan bisnis Roti Gembong Gedhe.

Adib berkata, “Tim. Bisnis sama dengan balapan, harus ditopang oleh tim yang kuat. Di balap, Bapak kepala tim, memanaje timnya, yakni saya dan Afan, dan juga kru.”

Diakui oleh keduanya, Bapak dan Ibunya memiliki peran dalam memberi keyakinan bahwa mereka berdua mampu membawa Roti Gembong Gedhe menjadi besar.

“Saat banyak mitra minta dibukakan Roti Gembong Gedhe, saya terus terang masih punya keraguan pada diri sendiri, mampu nggak mengemban tanggung jawab besar ini?. Tapi Ibu yang meyakinkan bahkan kemudian turun langsung ikut membantu menghandle para calon mitra,” kata Adib.

Jika di lintasan, datangnya banyak mitra itu barangkali adalah datangnya momen harus ngegas. Keduanya, yang baru memulai bisnis, belum memiliki keberanian dan intiusi yang biasa mereka lakukan di lintasan balap. Tapi kepala tim, bapak dan ibu, tahu benar bahwa mobil yang mereka tunggangi yakni Roti Gembong Gedhe, memang cukup handal untuk ngegas sejak awal start. Terbukti, baru dua tahunan mereka sudah menuju 100 outlet Roti Gembong Gedhe.

Tapi tak hanya gas yang paling penting dalam sebuah lintasan balap. Ketika berada di balik kemudi mobil offroad, hal utama yang harus mereka kerjakan selain menginjak gas adalah menginjak pedal rem.

“Hari-hari ini kita ngegas, tapi jelas enggak boleh gegabah, mentang-mentang lagi bagus penginnya ngegas terus malah bisa keluar lintasan,” tandas Afan.

Semua hal dalam bisnis, mesti diperhitungkan masak-masak, sebesar apa peluang dan risikonya. Tapi di satu sisi, ketika menemukan peluang mereka juga mesti merespons peluang itu secepat mungkin supaya tidak kehilangan momentum. Hari-hari ini adalah momentum bagi Roti Gembong Gedhe, tak bisa mereka lewatkan.

Adip (kiri) dan Afan (kanan). Foto: Dimas Rosyantoko

Konsekuensinya, seluruh awak tim harus bekerja lebih keras. Banyak tantangan, terutama menurut Afan adalah tantangan manajamen tim. Dari standard yang telah manajemen tetapkan, performa karyawan di outlet masih jauh dari harapan.

“Baru 20 persen yang top perform. Sisanya masih harus kita tingkatkan lagi. Bisnis bakery ini bisnis handmade, meski ada mesin-mesin ya, tapi ini bisnis olahan dan juga pelayanan di outlet, detilnya banyak sekali,” papar Afan.

Afan dan Adib tahu benar, balap offroad bukanlah olahraga individu, banyak komponen yang terlibat di dalamnya.

“Persis dengan bisnis. Drivernya mungkin kami berdua, anak-anak muda pemberani, tapi banyak komponen lain yang harus terus kompak. Tak hanya manajemen tapi juga mitra-mitra kami, kita semua tim yang ingin melaju untuk menang,” tandas Afan. (Adv/YIA-1)

.

Comments are closed.