Dubes Ukraina soal Rusia Mau Mobilisasi 300 Ribu Pasukan: Mereka Kehabisan SDM

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin ditemui usai mengisi acara Ambassadorial Lecture yang bertajuk “The Ukrainian Questions in Global Politics” di Universitas Islam Indonesia (UII), Senin (18/7/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, memberikan tanggapan soal mobilisasi 300 ribu tentara cadangan Rusia ke Ukraina. Menurutnya, keputusan itu merupakan keputusasaan Rusia karena kehabisan sumber daya.

“Sekarang mereka mulai merekrut penjahat dari penjara, memutuskan untuk memasukkan orang-orang yang seperti memiliki utang di bank. Berarti apa? Mereka kehabisan sumber daya manusia,” kata Hamianin saat mengisi kuliah umum di Fisipol UGM, Jumat (23/9).

Hamianin mengatakan Rusia sebenarnya mobilisasi 1 juta pasukan ke Ukraina. Tidak 300 ribu seperti yang disampaikan.

“Bahkan mereka akan mengerahkan 1 juta. Itu dinyatakan oleh banyak orang lain, seperti sekitar 1 juta orang dimobilisasi,” jelasnya.

Selain itu ia menilai Rusia tidak memiliki persiapan matang sejak menyerang Ukraina Februari 2022 lalu. Menurutnya, ditemukan pula ransum milik Rusia yang telah kedaluwarsa sejak 2015.

Peralatan perang yang digunakan pun sudah usang. Hamianin menyebut banyak pasukan Rusia yang masih menggunakan rompi anti peluru Perang Dunia II.

“Mereka mengenakan pakaian yang seperti zaman perang dunia kedua. Bukan pakaian modern, bukan rompi antipeluru,” katanya.

Kremlin melaporkan, ribuan orang telah mengajukan diri untuk ikut berperang di Ukraina dalam 24 jam setelah perintah mobilisasi parsial diumumkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, Rabu (21/9).

Petugas menyisir stasiun kargo usai serangan Rusia di Kharkiv, Ukraina, Rabu (21/9/2022). Foto: Vyacheslav Madiyevskyy/ReutersKondisi kereta yang hancur usai serangan roket Rusia di stasiun kargo di Kharkiv, Ukraina, Rabu (21/9/2022). Foto: Vyacheslav Madiyevskyy/Reuters

Melalui mobilisasi parsial, hingga 300.000 orang akan dikerahkan ke Ukraina. Warga sipil berusia 18 hingga 60 tahun akan mengikuti wajib militer untuk memperkuat garis depan dalam perang di Ukraina.

Rusia akan memprioritaskan penduduk yang memiliki pengalaman militer relevan, seperti pengemudi tank, pencari ranjau, dan penembak jitu. Mereka akan menjalani pelatihan untuk mengasah kembali kemampuannya sebelum bergabung dengan pasukan lainnya.

Militer Rusia telah membuat pusat panggilan untuk menjawab pertanyaan seputar mobilisasi tersebut. Pihaknya belum memberikan informasi resmi tentang jumlah orang yang sudah dipanggil ke pusat perekrutan. Namun, sebagian warga telah mendaftar secara sukarela.

“Selama hari pertama mobilisasi parsial, sekitar 10.000 warga tiba di kantor perekrutan atas kemauan mereka sendiri tanpa menunggu panggilan,” terang juru bicara militer Rusia, Vladimir Tsimlyansky.

Comments are closed.