Donald Trump Tuntut Twitter hingga Facebook ke Pengadilan di Florida

Ilustrasi media sosial Twitter. Foto: Shutter Stock

Donald Trump mengajukan tuntutan hukum terhadap Twitter, Facebook dan Google Alphabet, serta kepala eksekutif tiga situs tersebut. Ia menuduh tiga situs ini telah membungkam sudut pandang konservatif.

“Hari ini, bersama dengan America First Policy Institute, saya mengajukan, sebagai perwakilan kelas utama, gugatan class action besar terhadap raksasa teknologi besar, termasuk Facebook, Google dan Twitter. Serta CEO mereka Mark Zuckerberg, Sundar Pichai, dan Jack Dorsey. Tiga pria yang sangat baik!” kata Trump pada Rabu (7/7), dikutip dari Reuters.

Trump melanjutkan, ia telah mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan federal di Florida. Tuntutan tersebut dilakukan secara kelompok atau class action demi menuntut restitusi dan ganti rugi.

Namun, eks Presiden AS itu tidak memberikan detail siapa anggota class action lainnya.

“Kami menuntut diakhirinya shadowbanned, pembungkaman, black list, pelarangan, dan ‘canceling‘ yang Anda ketahui dengan baik,” kata Trump.

“Kasus kami akan membuktikan perlakuan sensor [di media sosial] ini melanggar hukum. Ini inkonstitusional dan sama sekali tidak seperti Amerika. Kita semua tahu itu,” lanjut dia.

Presiden AS Donald Trump berbicara dalam rapat umum untuk memperebutkan sertifikasi hasil pemilihan presiden AS 2020 oleh Kongres AS, di Washington, AS, Rabu (6/1/2021). Foto: JIM BOURG/REUTERS

Trump yakin kalau langkah ini adalah bentuk perjuangan demokrasi. Ia menambahkan, sejumlah gugatan lain akan menyusul.

“Kami meminta pengadilan untuk menjatuhkan hukuman ganti rugi pada raksasa media sosial ini. Kami akan meminta pertanggungjawaban teknologi besar. Ini adalah yang pertama dari banyak tuntutan hukum lain yang akan menyusul,” tutur dia.

“Ini akan menjadi pertempuran penting dalam membela Amandemen Pertama. Pada akhirnya, saya yakin bahwa kita akan mencapai kemenangan bersejarah bagi kebebasan Amerika dan pada saat yang sama, kebebasan berbicara,” tambahnya.

Ilustrasi pengguna Facebook. Foto: Reuters

Trump memang kehilangan pamor di media sosialnya awal tahun ini. Hal itu terjadi setelah ia berulang kali secara keliru mengklaim, bahwa kekalahan pemilihannya adalah hasil dari penipuan besar-besaran.

Pernyataan itu ditolak oleh banyak pengadilan, pejabat pemilihan negara bagian, dan anggota pemerintahannya sendiri. Di sisi lain, ratusan pendukungnya telah melancarkan serangan mematikan di US Capitol pada 6 Januari setelah Trump mengulangi klaim palsu itu dalam pidato berapi-api di dekat Gedung Putih.

Comments are closed.