Dampak Suku Bunga BI Naik Jadi 4,25%: Bunga KPR Bakal Meroket!

Pekerja menyelesaikan pembangunan perumahan. Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps atau 0,5 persen di bulan ini sehingga menjadi 4,25 persen. Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility 50 bps di level 3,5 persen dan lending facility 50 bps menjadi 5 persen.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan kenaikan bunga acuan 50 bps jadi sinyal BI ingin mengimbangi naiknya suku bunga bank sentral AS. Rupiah dinilai tidak bisa bertahan apabila BI tidak menaikkan bunga 50 bps.

“Selain itu ada kekhawatiran inflasi karena naiknya harga BBM cukup berbahaya sehingga respons BI menaikkan bunga cukup agresif. Dampaknya terhadap sektor riil bisa mengurangi minat pelaku usaha meminjam dari perbankan,” ujar Bhima saat dihubungi kumparan, Kamis (22/9).

Bhima mencermati kredit konsumsi seperti KPR dan kredit kendaraan bermotor akan menurun dalam beberapa bulan ke depan. Bank harus bersiap mencari cara agar nasabah KPR masih tertarik meminjam.

“Bunga pinjaman KPR akan meningkat tajam, bisa lebih dari 1 persen untuk bunga floating rate. Bank bisa memberi promo, misal bunga fix rate untuk KPR diperpanjang hingga 5 tahun,” katanya.

Menurut Bhima, melonjaknya suku bunga tersebut berpotensi berimbas pada menurunnya minat masyarakat membeli rumah pada tahun depan. Tak hanya itu, suku bunga kredit kendaraan bermotor menjadi mahal, dengan variabel utama keputusan beli motor via leasing.

Namun, meskipun dampaknya akan terasa seperti itu, Bhima mengatakan BI masih perlu menaikkan 50 bps lagi untuk menahan jual bersih asing, khususnya di pasar surat utang karena dolar AS sedang menguat secara signifikan. Ia mencatat, Dollar index naik ke level 111.5 atau melonjak 15,8 persen

“Perkiraan kedepan BI akan menaikkan bunga 50 basis poin lagi. Sehingga bunga acuan bisa saja menembus 4,75 – 5 persen pada akhir 2022,” sambungnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat konferensi pers hasil FMCBG G20 di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7/2022). Foto: Fikri Yusuf/Antara Foto

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kenaikan suku bunga ini meredam inflasi dan nilai tukar Rupiah, sehingga Rupiah bisa ditekan menjadi di bawah Rp 15 ribu per dolar AS.

“Kalau lihat kondisi di perbankan, likuiditas tetap ample dan transaksi masih berjalan surplus. Transisi bank akan berlangsung 2-3 kuartal ke depan dan penyesuaian akan bervariasi, baik dari suku bunga kredit termasuk KPR,” imbuh Josua.

Selain suku bunga, Josua mengamati suku bunga BI 4,25 persen ini berimbas pada Dana Pihak Ketiga (DPK) dan deposito. Meski demikian, selama likuiditas perbankan cukup longgar, kenaikan suku bunga bank tidak tinggi dari suku bunga acuan BI.

“Dampak ke masyarakat tergantung suku bunga kredit dan likuiditas. Efeknya bisa bervariasi setiap bank, yang mendorong kenaikan suku bunga DPK dan kredit,” sambungnya.

Comments are closed.