Corona Menggila, Pemerintah Didesak Bikin Aturan WFH 100% Selama 2 Minggu

Ilustrasi Perempuan WFH Memakai Piyama Foto: Shutter Stock

Kenaikan kasus corona yang tak kunjung landai membuat sejumlah pihak meminta pemerintah lebih tegas untuk membatasi aktivitas masyarakat. Salah satunya dengan menerapkan Work From Home (WFH) 100% seperti pada masa awal pandemi.

Anggota Komisi IX DPR, Saleh Partaonan Daulay, adalah salah satu yang mendorong pemerintah menerapkan WFH 100 persen selama 2 minggu. Menurutnya kebijakan ini juga harus dijalankan beringan dengan lockdown.

“Kalau saya setuju, dua minggu WFH. Tapi kalau dua minggu orang enggak boleh kerja di rumah artinya lockdown. Kalau semua orang enggak boleh kerja di luar, resto, mall kan artinya lockdown,” kata Saleh kepada kumparan, Selasa (29/6).

“Berarti kan semua orang di rumah, kalau toko, wisata, enggak boleh dibuka, semua enggak boleh kerja di situ, kan berarti ngapain ke luar rumah. Jadi lebih bagus lockdown sekalian,” imbuh dia.

Menurutnya, kebijakan WFH 100% tak akan efektif apabila pemerintah tak melakukan lockdown pada waktu yang sama. Ia pun menyarankan pemerintah melakukan WFH 100% dan lockdown selama 2 minggu untuk masa percobaan.

“Kalau memang ada opsi pemerintah untuk WFH 100 persen itu pemerintah sudah mengarah pada lockdown. Menurut saya pemerintah kalau mau Work From Home 100 persen ya lockdown saja,” tutur dia.

“Karena selama ini pemerintah masih kasih toleransi untuk kerja 25 persen kan gitu, resto-resto masih bisa dibuka, tapi kalau WFH 100 persen orang yang di mall, restoran enggak boleh kerja berarti itu kan lockdown. Saya kira jangan tanggung sekalian dilockdown saja 2 minggu, nanti akan kita lihat bagaimana efektivitasnya dalam rangka mengurangi penyebaran virus COVID sendiri,” lanjutnya.

Saleh menekankan kembali bahwa WFH 100 perlu. Namun harus dipastikan ada juga lockdown, agar orang-orang tak memiliki alasan untuk keluar rumah saat WFH.

“Perlu. Tapi lockdown jangan nanggung. Karena kalau misalnya orang enggak boleh kerja di kantor, masalahnya orang tetep keluar rumah, jadi enggak bisa mengurangi. Sekarang Jakarta masih macet, jadi kan masih terjadi banyak interaksi di masyarakat,” tandas dia.

Comments are closed.