Corona Anak Mengkhawatirkan, Ketua IDAI Tiba-tiba Menangis saat Rapat dengan DPR

Sejumlah siswa menunggu giliran untuk mendapatkan vaksin corona saat vaksinasi corona anak usia 12-17 tahun di Jakarta, Kamis (1/7).
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Anak-anak menjadi salah satu kelompok masyarakat yang harus dilindungi dari ancaman infeksi COVID-19. Kasus positif virus corona pada anak pun meningkat tajam.

Berdasarkan data pada pertengahan Juni lalu, kasus COVID-19 pada anak di Indonesia telah mencapai 12,5 persen. Bahkan angka kematiannya mencapai 1,75 persen.

Angka ini sangatlah mengkhawatirkan lantaran Indonesia masuk dalam daftar negara dengan angka kematian anak akibat COVID-19 tertinggi di dunia.

Paparan mengenai bahaya situasi pandemi pada anak saat ini turut disampaikan oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. dr. Aman B Pulungan. Dengan suara yang lantang, ia menyampaikan kekhawatirannya selama ini.

Infografik: Jaga Anak dari Bahaya Corona. Foto: kumparan

“Dari awal pandemi sudah mengatakan begitu. Kenapa, sih, enggak pernah percaya sama IDAI dan tidak pernah mengatakan bahwa anak ini bisa sakit dan meninggal, sampai kejadian sampai kayak sekarang, kapan bisa percaya sama kami?” kata Prof. Aman dalam raker bersama Komisi IX DPR, Senin (5/7).

Ia juga menyinggung tentang rencana pembukaan kembali sekolah tatap muka. Menurutnya, itu akan menjadi sumber penyebaran baru, apalagi varian Delta tengah merajalela.

“Dan jumlah virus pada anak ini setara, walau [sekolah] tatap muka katakanlah 2 jam, anak ini jadi berkumpul. Waspada virus Delta. Kalau kita tidak disiplin, pakai anak dengan masker juga, kapan kita bisa sekolah lagi? Jadi kita minta semua untuk jadi agent of change buat keluarga Indonesia,” tegasnya.

Terakhir, ia mengingatkan para orang tua sebisa mungkin menghindari anak dari tempat-tempat ramai yang punya risiko penularan tinggi.

“Untuk saat ini jangan pernah membawa anak ke tempat umum, ke kerumunan, apalagi untuk sekolah,” tegasnya lagi.

Sebelum menutup pemaparannya, Prof. Aman sampai tak bisa lagi menahan air matanya. Ia mengatakan inilah yang selama ini dirinya dan juga para dokter anak rasakan selama pandemi ini.

Saya mohon maaf kalau penyampaian saya ada yang menyinggung, tapi inilah semua perasaan kami dokter anak dan keluarga Indonesia. Terima kasih,” tutup Prof. Aman sambil melepas tangisnya.

Comments are closed.