Cerita Warga Nyaris Batal Ikut Vaksinasi Akibat Penyekatan PPKM Darurat di DKI

Sejumlah warga antre mengikuti vaksinasi COVID-19 massal di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (3/7/2021). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Seorang warga Bandung yang bekerja di Jakarta bernama Alghifary, menyampaikan pengalamannya yang nyaris batal ikut vaksinasi COVID-19 akibat penyekatan PPKM darurat di Jakarta. Cerita itu dibagikan melalui Instagram pribadinya.

Mulanya, Alghifary mengatakan dirinya akan ikut vaksinasi di Jakarta Convention Centre, Senayan, pada Senin (5/7) sekitar pukul 13.30 WIB. Dia berangkat dari rumahnya di kawasan Tambun, Bekasi, sekitar pukul 12.30 WIB dan melewati jalur tol dalam kota.

Namun setibanya di Tol Cawang-Grogol, situasi sudah macet dipenuhi kendaraan imbas dari penutupan jalan. Sehingga dia sempat memutuskan keluar di wilayah Tebet.

Akan tetapi di Tebet, ternyata ruas jalan tak dapat dilalui karena ditutup oleh petugas kepolisian dan instansi terkait.

“Masuk Cawang tuh mulai macet tuh mungkin dampak penutupan jalan akhirnya saya memutuskan untuk keluar di Tebet ternyata gak bisa, ditutup,” kata Alghifary

Alghifary lantas mencoba keluar di wilayah Mampang-Kuningan. Di sana ternyata ruas jalan sudah dipenuhi oleh kendaraan. Singkat cerita, dia sempat menunjukkan kartu undangan vaksinasi pada seorang petugas kepolisian yang berjaga dan diminta untuk menuju ke arah Slipi.

“Saya tunjukkinlah undangan vaksin saya ‘Pak saya mau vaksin, Pak, di Senayan. Bisa nggak saya keluar soalnya saya sudah kejebak macet juga soalnya?’. Itu masih biasa aja,” ujar dia mencontohkan percakapan dengan petugas kepolisian yang berjaga.

“‘Oh, sama, Pak, yang depan bapak juga mau vaksin katanya, bapak lewat depan aja Slipi’,” kata dia menirukan jawaban dari petugas kepolisian itu.

Alghifary. Foto: Dok. Istimewa

Lalu di sekitar ruas Senayan, ruas jalan juga sudah dipenuhi oleh kendaraan yang keluar dari jalan tol. Di sana, dia menunjukkan kembali kartu undangan vaksinasi kepada seorang petugas kepolisian namun dia dibentak oleh petugas kepolisian yang tak disebut identitasnya itu.

“Saya berjalan dan tunjukkin handphone saya ke bapak polisi. ‘Pak, saya undangan vaksin nih jam 13.30 WIB dan saya udah telat ini saya udah kejebak macet di tol udah lumayan lama, ini kok jalanan ditutup semua?’,” tanya dia.

“‘Bapak jangan marah-marah dong, Pak’,” ucap dia menirukan perkataan polisi tersebut.

Suasana lalu lintas selama kebijakan PPKM Darurat di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (5/7). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Menurut Alghifary, dirinya sempat memberi penjelasan dirinya mendukung program pemerintah untuk mempercepat vaksinasi COVID-19. Akan tetapi, dia menilai perbuatan petugas kepolisian tersebut justru telah menghambat vaksinasi kepada warga.

“‘Bukan gitu, Pak, saya mau vaksin, saya keluar bukan untuk hal yang nggak jelas, saya mau vaksin. Pemerintah kan bilang mari kita mempercepat vaksinasi, kalau gini bapak ini bukan mempercepat, tapi memperlambat nih banyak orang jadi telat juga vaksinnya. Bapak jangan emosi gitu lah’,” ujar dia

“‘Saya bukan emosi, bapak tolong mengerti kondisinya, saya cuma ditugaskan’,” kata dia menirukan perkataan dari polisi tersebut.

“‘Iya tau bapak cuma ditugasin, cuma tolong ini juga sebagai masukan untuk bapak dan pimpinan bapak gitu’,” kata dia.

“‘Saya perintahnya langsung dari presiden. Bapak sampaikan aja sendiri’,” ujar petugas kepolisian tersebut.

Warga memotret berlangsungnya vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat pelaku usaha perikanan di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta, Selasa (29/6/2021). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Atas kejadian ini, Alghifary menyayangkan adanya tindakan oleh petugas kepolisan.

“Bapak itu kan aparat, beliau itu kan aparat, instrumen negara lah. Kalau saya siapa? Saya kan rakyat biasa. Ini kan situasi nyata yang dialami oleh warga,” keluh dia.

Setelah mengalami perdebatan panjang dengan petugas, Alghifary pun tetap bisa sampai tujuan untuk dapat divaksinasi corona.

Comments are closed.