Cerita Relawan di DIY: Terima Telepon Tanpa Henti, Masih Harus Hadapi Caci Maki

Komandan Tim Reaksi Cepat BPBD DIY, Wahyu Pristiawan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Relawan COVID-19 bisa dibilang orang yang paling tabah. Kerja-kerja kemanusiaan memang tak kenal batas. Memakamkan jenazah, mengantar dan menjemput pasien corona, hingga mengedukasi masyarakat yang kadang bebal, jadi tugas sehari-hari mereka.

Relawan di Posko Dukungan Operasi Satuan Tugas COVID-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahu betul. Dahulu, ketika awal pandemi, mereka kerap berhadapan dengan masyarakat yang menolak pemakaman protokol kesehatan (prokes). Tidak ada jalan lain kecuali sabar dan telaten.

“Dulu kita ambil (jenazah) ke rumah sakit karena rumah sakit belum berani menghadapi masyarakat karena takut penolakan (pemakaman prokes),” ujar Komandan Posko Dukungan yang juga Komandan TRC BPBD DIY Pristiawan Buntoro secara daring dengan sejumlah wartawan.

Hari demi hari berganti, setahun lebih berlalu. Namun, pandemi belum enyah. Kondisi justru semakin parah. Kasus corona meledak. Masyarakat panik. Relawan harus berkejaran dengan waktu, jangan sampai para pasien tidak tertangani.

Kini kondisi 180 derajat berbeda dari awal pandemi. Masyarakat amat membutuhkan relawan. Telepon tiada henti berdering. Satu, dua, tiga, dan seterusnya, berisi laporan masyarakat. Ada saja pasien yang membutuhkan bantuan ambulans menuju ke rumah sakit mencari pertolongan.

“Di Gunungkidul ambulans banyak. Tapi ini pasien hidup yang butuh pertolongan banyak, kalau suruh mikir ngrukti, pemakaman sudah nggak mampu,” kata Koordinator Relawan Gunungkidul Agus Kenyung.

Relawan panggilan darurat Caca berpose di Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan COVID-19 DIY, Kantor TRC BPBD DIY di Yogyakarta. Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

Tingginya jumlah pasien yang membutuhkan rujukan membuat dukuh hingga lurah di sana harus bergerak. Terkadang mobil pribadi mereka gunakan sebagai ambulans dadakan.

Tugas para relawan di Gunungkidul juga bertambah. Lonjakan kasus ternyata banyak berdampak pada pasien yang menjalani isolasi mandiri, terkadang mereka juga butuh bantuan oksigen. Saban hari relawan berkoordinasi, keliling mencari tabung oksigen yang masih terisi.

“Kalau saya mikir orang-orang yang sakit untuk ke rumah sakit, saya sudah nggak mampu. Saya harus mikir relawan yang nganter orang ke rumah sakit,” ujarnya.

Relawan Tim Kubur Cepat Bambang Puthut Wontolo berpose di Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan COVID-19 DIY, Kantor TRC BPBD DIY di Yogyakarta. Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

Pristiawan menjelaskan, beban relawan tidak hanya pada fisik, tapi batin. Terlebih saat kondisi rumah sakit penuh. Para relawan harus bekejaran waktu mencari rumah sakit lain. Harapannya cuma satu, pasien yang dibawa harus tertolong.

“Ini menjadi beban sangat berat teman-teman di proses transportasi emergency. Bahwa mereka harus tanggung jawab terhadap kondisi pasien yang dibawa. Saat diambil dalam kondisi hidup, mereka harus mempertahankan itu sampai tempat seharusnya dalam kondisi hidup. Ini dilematis,” kata Pristiawan.

Tapi kerja ini kadang tak dimengerti. Caci maki mendarat ke muka para relawan yang sudah kuyu. Terkadang masyarakat tak mau mengerti, bahkan tak mau tahu apa yang terjadi.

“Kawan-kawan menerima ancaman, caci maki, segala macam. Karena masyarakat umum tidak melihat kaedah emergency yang jadi pendoman,” jelasnya.

Relawan tim dekontaminasi Bita Sugiraharjo berpose di Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan COVID-19 DIY, Kantor TRC BPBD DIY di Yogyakarta. Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

100 Pemakaman Prokes dalam 20 Jam

Pristiawan mengangguk ketika dikonfirmasi momen relawan memakamkan 100 orang dengan protokol kesehatan dalam sehari di DIY.

Lebih tepatnya 100 pemakaman protokol kesehatan dalam 20 jam, dari 29 Juni pukul 08.00 WIB hingga 30 Juni pukul 04.00 WIB.

“Iya, betul-betul. Awalnya data internal, perkembangan berikutnya dirilis di akun TRC untuk gambaran secara singkat saja (kondisi terkini),” kata Pristiawan.

Memang tidak semuanya yang dimakamkan dengan protokol kesehatan terkonfirmasi positif, tetapi ada pula yang terduga (suspect) COVID-19. Namun, ini menjadi alarm bahwa corona benar-benar bahaya.

Relawan Afiq Ade Afrizal berpose di Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan COVID-19 DIY, Kantor TRC BPBD DIY di Yogyakarta. Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

Dari jumlah tersebut, 18 di antaranya adalah orang yang sedang menjalani isolasi mandiri. Mereka berasal dari seluruh kabupaten dan kota di DIY. Rinciannya 1 kasus di Sleman, 3 kasus di Kota Yogyakarta, 3 kasus di Bantul, 4 kasus di Kulon Progo, dan 7 kasus di Gunungkidul.

Data Relawan vs Pemerintah

Pristiawan menjelaskan bahwa data yang disampaikan ini tidak untuk diadu dengan data yang dirilis Pemda. Data ini disampaikan agar semua pihak tahu kondisi di lapangan.

“Sudah kami sampaikan kami tidak mengadu data kita. Dulu data Dinkes yang disampaikan tidak ada pembanding. Tapi begitu ada data pemakaman, ada data pembanding,” ujarnya.

“Data kami bukan data untuk ditubrukkan. Data kami pemakaman dengan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Sementara dari data yang dikeluarkan Pemda DIY, pada 29 Juni lalu tercatat ada 18 kasus meninggal dunia. Dalam laporan tersebut dijelaskan data merupakan hasil verifikasi dinkes kabupaten dan kota.

Relawan tim dekontaminasi Agus Dwijo Suseno berpose di Posko Dukungan Operasi Satgas Penanganan COVID-19 DIY, Kantor TRC BPBD DIY di Yogyakarta. Foto: Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO

41 Orang Meninggal saat Isoman di Sleman

Kisah pilu datang dari Kabupaten Sleman. Koordinator Posko Dekontaminasi COVID-19 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Vincentius Lilik Resmiyanto menjelaskan setidaknya 41 orang dilaporkan meninggal dunia saat isolasi mandiri di rumah di bulan Juni. Mereka terdiri dari pasien terkonfirmasi corona dan terduga (suspect) corona.

“Meninggal pas isolasi mandiri selama bulan Juni itu 41 (orang) sampai hari ini (30 Juni),” kata Lilik.

“Kebanyakan itu (ada yang) positif dan kontak erat,” jelasnya.

Menurut Lilik, kondisi ini terjadi karena rumah sakit sering penuh. Mereka juga rata-rata berusia lansia dan memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Kemudian, saat dirawat di rumah, banyak di antara mereka tidak memiliki tabung oksigen.

“Karena kondisi agak parah ada komorbid atau penyakit penyerta. Untuk yang meninggal di rumah, karena kebanyakan tidak punya oksigen. Kebanyakan saturasi oksigen 80,” katanya.

Relawan mengenakan baju hazmat saat mengikuti upacara peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia di Kantor BPBD DIY, Umbulharjo, DI Yogyakarta, Senin (17/8). Foto: Hendra Nurdiyansyah/ ANTARA FOTO

Secara umum jumlah pemakaman dengan protokol kesehatan di Sleman juga melonjak 100 persen. Data hingga 30 Juni tercatat ada 243 pemakaman dalam sebulan. Angka ini di atas bulan Mei yang hanya 86 pemakaman.

Lilik menjelaskan para relawan harus mengimbangi diri dengan asupan makanan sehat seperti jus jambu, susu, dan makanan sehat lain. Hal ini tak lain agar menjaga kebugaran di tengah padatnya tugas kerelawanan.

Sempat satu waktu petugas di posko terpaksa menutup posko selama 1 jam karena saking lelahnya menerima telepon yang terus berdering. Tapi mereka juga tak bisa jika harus menutup posko lama-lama.

“Telepon-telepon terus. Kadang-kadang terima telepon terus jenuh. Kita bilang setop dulu 1 jam kita nggak kuat. Kita tutup satu jam, karena nggak kuat,” ujarnya.

“Kondisi di tim pemakaman ada 7 regu. Satu regu ada 7 orang, ada 8 orang. Kita menyiasati kalau banyak pemakaman kita bikin satu regu 7 jadi bisa ada 8 regu,” ujarnya.

Ketika tugas di posko selesai, bukan berarti mereka bisa bebas. Para relawan pulang, istirahat dan tidak boleh ke mana-mana. Mereka harus betul-betul menjaga diri jangan sampai terpapar corona. Jika terpapar maka satu regu yang terancam. Jumlah personel pun bisa berkurang.

“Teman-teman kalau pulang sudah di rumah nggak usah ke mana-mana. Kalau main ke mana-mana kena satu tim satu regu bisa membahayakan juga,” ujarnya.

Kepala Dinkes Sleman, Joko Hastaryo, mengakui ada laporan pasien yang meninggal dunia saat isolasi mandiri di rumah. Meski dia tidak merinci angka kasus tersebut.

“Statusnya isolasi mandiri tapi kemudian meninggal di rumah. Tapi untuk belakangan ini, bisa karena nunggu rumah sakit karena itu penuh. Tapi kalau di awal dulu karena memang tak mau dibawa ke rumah sakit karena mengira hanya terkena flu biasa,” ujar Joko.

Bertugas di 3/4 DIY

Wahyu Gunawan Wibisono adalah Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) Sewon Utara Bantul. Penugasannya sebagai relawan meliputi dua desa di Kecamatan Sewon. Namun pandemi menuntutnya bertugas hingga 3/4 DIY.

“Kami ini sebetulnya cuma setengah cabang, kita cuma dua desa wilayah kami Bangunharjo dan Panggungharjo. Tapi praktiknya mungkin hampir 3/4 DIY,” kata Wahyu.

Dia dan relawan lain, selama ini bertugas mengantarkan pasien ke rumah sakit. Hingga 30 Juni, dalam sebulan sudah ada 112 pasien corona yang di antar ke rumah sakit. Jumlah itu meningkat dibanding bulan Januari yang hanya 48 pasien, Februari 59 pasien, Maret 80 pasien, April 85 pasien, dan Mei 78 pasien.

“Juni saya mengalami sendiri (kenaikan kasus). Tanggal 8 Juni saya masih ingat betul. Kesulitan memasukkan pasien ke rumah sakit. Malam Ahad itu, jam 11 (23.00 WIB),” ujarnya.

Hal yang paling menyesakkan bagi Wahyu adalah ketika pasien meregang nyawa di ambulans. Suatu ketika pihaknya menerima permintaan rujuk salah seorang pasien. Anak dari pasien tersebut sebelumnya mengaku sudah memastikan bahwa pasien mendapatkan rujukan.

“Ternyata sampai sana menggok-menggok (belok-belok) ganti rumah sakit. Iya meninggal di ambulans,” ujarnya.

Ada pesan bermakna dari Wahyu, sebuah prinsip bagi seorang relawan untuk senantiasa menolong. Entah itu orang yang percaya corona maupun tidak percaya corona, harus ia tolong ketika sakit.

“Relawan pantang di zona percaya tidak percaya, kalau ada yang sakit kita tolong,” pungkasnya.

Cerita di atas adalah kisah nyata. Mereka para relawan, telah mengabdikan separuh hidupnya untuk kemanusiaan. Jauh, jauh sebelum pandemi corona melanda, mereka sudah bertugas dalam ikhlas.

Tak terhitung berapa kali hidung mereka di-swab karena kerja rentan ini. Tak terhitung pula berapa waktu mereka yang hilang untuk keluarga. Jangan biarkan para relawan terus kelelahan.

Comments are closed.