Cerita Relawan di DIY Makamkan Pasien Corona yang Isoman: Sedia Kantong Jenazah

Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kudus yang melakukan penguburan jenazah non Muslim. Foto: Dok. Muhammadiyah

Lonjakan kasus COVID-19 melanda Indonesia sejak dua pekan terkahir. Selain itu, kematian pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah juga bertambah.

Ketua Pengarah Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) PW Muhammadiyah DIY, Arif Jamali Muis, mengatakan berdasarkan laporan AmbulanMu, banyak pasien COVID-19 meninggal ketika melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Kemarin teman-teman AmbulanMu meminta kepada kita untuk meminta menyiapkan kantong jenazah bagi yang kemudian meninggal di rumah ketika sedang melakukan isolasi mandiri,” ucap Arif, Rabu (7/7).

Sementara Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) Sewon Utara, Kabupaten Bantul, Wahyu Gunawan Wibisono, menceritakan mulai akhir Juni, dirinya kerap mengevakuasi dan memakamkan pasien COVID-19 yang meninggal saat isoman di rumah.

“Meninggalnya isolasi mandiri banyak kejadian. Ada 8 kali isolasi mandiri meninggal itu mulai akhir Juni. Itu hanya di wilayah Bantul. Pernah Sleman ada 2 kali,” kata Wahyu melalui sambungan telepon, Kamis (8/7).

Ketugasan MCCC Sewon Utara meliputi dua desa di Kecamatan Sewon. Namun pandemi berkepanjangan membuat tugas mereka sampai keluar desa bahkan keluar Kabupaten.

Wahyu lalu menceritakan beberapa penyebab kasus pasien isoman meninggal di rumah.

Relawan Muhammadiyah makamkan pasien COVID-19. Foto: Dok. MCCC Sewon Utara, Kabupaten Bantul

Pertama, pasien tersebut memiliki gejala COVID-19 tetapi belum menjalani swab. Rata-rata pasien isolasi mandiri meninggal dunia karena sesak napas dan saturasi oksigen menurun.

Kedua, pasien tersebut sebelumnya telah terkonfirmasi positif COVID-19. Dia menjalani isolasi mandiri di rumah namun kondisinya memburuk, sesak napas dan meninggal dunia.

“Mau dirujuk ke rumah sakit ya nggak mungkin. Karena tadi itu tidak ada ambulans khusus medis. Punya saya sendiri walaupun perlengkapan lengkap tidak ada tenaga medis. Untuk membedakan itu kegawatdaruratan. Kita berhitung (mau mengantar), dua kali kejadian meninggal di ambulans kami,” ujarnya.

Kasus ketiga, pasien positif COVID-19 sempat dibawa ke rumah sakit. Karena rumah sakit penuh, pasien dirawat di rumah dan beberapa hari setelahnya meninggal dunia.

“Tipe kedua paling banyak isolasi mandiri murni sesak napas saturasi menurun. Sebelum Juni kita belum menemukan (meninggal isolasi di rumah),” kata Wahyu.

Relawan Muhammadiyah makamkan pasien COVID-19. Foto: Dok. MCCC Sewon Utara, Kabupaten Bantul

Wahyu menjelaskan, rata-rata pasien COVID-19 yang meninggal saat isoman telah berusia lanjut. Paling muda berusia sekitar 50 tahun.

Tingginya kasus kematian itu membuat relawan MCCC Sewon Utara tak lagi hanya melayani antar rujukan tetapi juga pemakaman pasien corona. Bahkan pertengahan Juni ini, kasus pasien meninggal saat isolasi terus meningkat.

“Pemakaman rata-rata per hari 3 sekarang,” tutur Wahyu.

Menjaga Tenaga

Di tengah lonjakan kematian pasien COVID-19, para relawan harus pintar menjaga tenaga dan kondisi tubuh. Dalam sekali pemakaman, setidaknya ada 6 sampai 12 relawan harus bertugas tergantung kondisi pasien.

“Tergantung tingkat kesulitan kan kita kasih form pemohon. Untuk ukuran kami itu jarak, alamat, ada juga berat badan jenazah. Kalau 100 kilo atau 120 kilo total 2,5 kuital dengan peti, paling nggak 12 orang dengan 3 cadangan,” kata Wahyu.

“Minimal 6 orang, itu sangat minim. Dengan 1 mobil. Tapi kadang dua armada satu dobel cabin perlengkapan. Sama ambulans untuk jenazah,” tambah dia.

Menurut Wahyu, kondisi medan juga menentukan kecepatan pemakaman. Kadang ada lokasi pemakaman yang akses mobil masih minim. Sehingga mau tidak mau jumlah relawan yang diterjunkan lebih banyak.

Relawan Muhammadiyah makamkan pasien COVID-19. Foto: Dok. MCCC Sewon Utara, Kabupaten Bantul

Tingginya kematian membuat permintaan kantong jenazah tinggi. Wahyu mengatakan, kantong jenazah merupakan protokol standar evakuasi dan pemakaman. Bentuknya sendiri berbeda-beda sesuai ukuran pasien.

“Masih tercukupi kalau di kita, masih ada. Dari kami tinggal minta saja (ke MCCC). Prosedur memang seperti itu apalagi kita tidak pernah tahu. Sudah lebih dari setahun virusnya juga mestinya berbeda (jenisnya),” ucap Wahyu.

Wahyu menyakini lonjakan penularan COVID-19 masih akan meninggi. Pasalnya sejak 8 hari terkahir mereka sudah mengantarkan 40 pasien corona ke rumah sakit. Sementara bulan Juni lalu, mereka mengantarkan 125 pasien ke rumah sakit atau jumlah tertinggi selama pandemi.

“Biasanya 10 hari pertama 20 kali membawa pasien COVID. Ini tanggal 8 sudah 40 membawa pasien ke rumah sakit,” tutup Wahyu.

Sebelumnya, kasus pasien corona meninggal saat isoman banyak terjadi di Kabupaten Sleman.

Koordinator Posko Dekontaminasi COVID-19 BPBD Sleman Vincentius Lilik Resmiyanto mengatakan setidaknya 41 orang dilaporkan meninggal dunia saat isolasi mandiri di rumah di bulan Juni.

Mereka terdiri dari pasien terkonfirmasi COVID-19 dan suspect COVID-19.

Menurut Lilik, kondisi ini terjadi karena rumah sakit sering penuh. Mereka juga rata-rata berusia lansia dan memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Kemudian, saat dirawat di rumah, banyak di antara mereka tidak memiliki tabung oksigen.

Comments are closed.