Cerita 3 Ibu Melahirkan di Tengah Amuk Massa Yalimo

Sriko Maria, saat menggendong anaknya di tenda pengungsian. (BumiPapua.com/Stefanus Tarsi)

Wamena, BUMIPAPUA.COM– Sriko Maria tak pernah menyangka akan melahirkan anaknya di tenda pengungsian. Ia bersama ribuan warga Elelim lainnya harus mengungsi akibat amuk massa di Elelim, ibu kota Kabupaten Yalimo.

Amuk massa pendukung paslon nomor urut 1 Bupati dan Wakil Bupati Yalimo, Erdi Dabi-Jhon Wilil terjadai pasca putusan Mahkamah Konstitusi. Massa marah dan membakar kantor pemerintahan, rumah warga hingga ratusan tempat usaha.

Sriko bercerita, ia menjalani persalinan dibantu oleh seorang bidan yang kebetulan berada di lokasi pengungsian yang sama.

“Dengan fasilitas seadanya, persalinan saya dibantu seorang bidan, tanpa ada penerangan aliran listrik dan menggunakan penerangan alakadarnya,” katanya kepada Bumipapua.com, Selasa (6/7).

Sriko tak henti mengucap syukur, meskipun melahirkan anaknya di pengungsian. Ia dan bayinya selamat dan sehat.

“Situasi saat persalinan cukup berat. Ada perasaan takut dan was-was, karena di luar terjadi aksi bakar-bakaran. Kami bersyukur selamat dalam situasi saat itu,” jelasnya.

Sriko saat ini memilih istirahat di tempat pengungsian di Wamena. Ia masih menunggu keputusan keluarganya, apakah akan pulang ke kampung halaman atau tetap melanjutkan kehidupan di Yalimo.

Ketua Ikatan Kerukunan Toraja wilayah Lapago, Yohanis Tuku menjelaskan ada 3 orang ibu yang melahirkan saat di tenda pengungsian.

“Ketiga ibu yang melahirkan, antara lain berasal dari Palopo dan Toraja,” katanya.

Saat evakuasi dari Elelim ke Wamena, 3 ibu dan ribuan pengungsi lainnya rela menggunakan truk dengan jarak 130 kilometer dan ditempuh dengan perjalanan 4-5 jam.

“Ratusan pengungsi ada di Tongkonan Wamena. Namun, 2 orang ibu yang melahirkan memilih beristirahat di RSUD Wamena untuk tahap pemulihan,”tuturnya.

Comments are closed.