Cara Mengasuh Anak 2 Tahun

Cara mengasuh anak 2 tahun. Foto: Shutterstock

Anak Anda sudah menginjak usia dua tahun? Wah, di usianya ini tumbuh kembang anak sangat pesat dan si kecil sudah menguasai lebih banyak keterampilan sehingga mulai mandiri. Misalnya sudah bisa makan tanpa disuapi hingga bisa bermain sendiri.

Anak usia 2 tahun umumnya sudah mulai memahami sebagian besar perkataan Anda dan dapat mengikuti petunjuk dua langkah, seperti, “Ayo naik ke atas dan ambil sepatu kamu.” Jika si kecil memahami perintah Anda, berarti dia bisa saja mengetahui perbedaan “di bawah,” “di dalam,” dan “di sekitar.”

Apalagi? Biasanya perilaku anak dua tahun pun berubah. Mengutip Healthline, di usia ini, si kecil sudah tahu mana yang dia mau dan apa yang tidak dia inginkan. Jadi jangan heran jika anak Anda kerap tantrum atau emosinya meledak tidak terkontrol.

Anak dua tahun juga kerap mengatakan bahwa semua barang milik dia, sehingga tidak suka berbagi dengan teman-temannya. Ia cenderung ingin melakukannya sendiri walaupun belum tahu caranya, jadi si kecil kerap merasa sedih, frustrasi, dan kesal.

Lantas, bagaimana ya sebaiknya mengasuh anak dua tahun?

Tips Asuh Anak Usia 2 Tahun

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutterstock

Berempati

Saat si kecil sedang sedih atau marah, coba lah berempati dan mengerti perasaannya. Misalnya saat mainan kesayangan anak hilang. Anak mungkin akan sangat sedih sekali, sehingga biarkan ia meluapkan perasaannya dengan menangis.

Jika sudah tenang, baru berbicara pada si kecil dengan mengatakan, “Ayo cari mainan yang hilang bersama-sama.” Sehingga anak pun akan merasa bahwa orang tuanya sangat peduli dan berempati terhadap perasaannya.

Batasi Kata ‘Tidak’

Cara mengasuh anak 2 tahun. Foto: Shutterstock

Jangan terlalu sering mengatakan “tidak” pada si kecil. Lebih baik simpan kata “tidak” untuk situasi yang sangat berbahaya atau juga sangat serius. Sehingga, coba ganti kata “tidak” dengan hal lainnya.

Misalnya gunakan kata-kata pengalihan seperti, “Itu pulpen Ibu, ayo cari krayon untuk kamu gunakan.” Atau, ubah kata “tidak” menjadi “ya boleh tapi ada syaratnya” dengan mengatakan, “Kamu boleh main keluar setelah makanan ini habis, ya.”

Jangan Langsung Memarahi Anak

Si kecil melakukan kesalahan? Lebih baik jangan langsung memarahinya. Lebih baik bicarakan bahwa apa yang ia lakukan merupakan tindakan yang kurang tepat.

Misalkan saat anak Anda menjatuhkan semua buku dari rak, cobalah berkata, “Kamu menarik semua buku dari rak ya? Jangan diulangi lagi ya, semuanya jadi jatuh kan, ayo bereskan.”

Sebab, balita bisa cepat belajar jika sambil melakukan sesuatu. Jadi dengan memberitahunya pelan-pelan, sembari mencontohkan hal yang harus dilakukan, anak pun menjadi cepat paham.

Tetap Tegas

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Thinkstock

Mengutip Imperfect Families, bantu anak merasa aman dan terlindungi dengan menjelaskan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan jelas dan juga tegas. Seperti berita tahu si kecil jangan berlari jika sedang di jalan, dengan mengatakan, “tidak boleh berlari di jalan!”.

Kemudian, berita tahu juga si kecil untuk selalu menyayangi teman-teman atau saudaranya dengan tidak memukul mereka. Walaupun awalnya si kecil memberontak dan melawan, Anda harus tetap konsisten dan ingat untuk tetap berempati dengan perasaan mereka.

Ajari Anak Mandiri

Tanpa Anda sadari, anak mungkin mampu melakukan hal-hal yang Anda anggap sulit. Sehingga saat anak melakukan sesuatu, naluri pertama Anda ialah turun tangan dan membantunya. Padahal, anak-anak belajar banyak melalui proses yang sulit, Moms.

Jadi, beri anak kesempatan untuk melakukan tugas atau membantu Anda melakukan sesuatu. Jika tidak diberi kesempatan, Anda tidak akan tahu sampai mana kemampuan si kecil. Sehingga dengan memberinya tanggung jawab, anak juga jadi lebih mandiri.

Comments are closed.