Canggihnya Pengemis di China yang Minta-Minta Pakai QR Code

Pengemis di China minta-minta pakai QR Code. Foto Istimewa

Seperti di Indonesia, China juga memiliki banyak gelandangan dan pengemis. Namun canggihnya, para pengemis di negeri Tirai Bambu sudah dibekali dengan QR Code untuk menerima sedekah dari orang-orang.

Para pengemis itu akan membawa lembar QR Code yang dikalungkan atau ditempel di kaleng untuk meminta-minta. Jadi selain menerima sedekah secara tunai, mereka juga menerima transaksi non-tunai.

Dalam laporan China Daily, beberapa pengemis di China sudah beralih ke teknologi untuk meminta-minta sejak 2017. Mereka banyak yang meninggalkan cara-cara tradisional.

Banyak pengemis menggunakan transaksi online melalui QR Code yang dibawa-bawa oleh mereka. Selain itu, para pengemis tersebut juga menerima sumbangan melalui aplikasi WeChat.

Pengemis di China minta-minta pakai QR Code. Foto Istimewa

Artinya ketika seseorang tidak memiliki uang cash para pengemis itu akan menawarkan sumbangan digital, lewat QR Code atau WeChat. Hal ini diketahui setelah seorang pengguna Facebook bernama Fazil Irwan membagikan pengalaman tersebut saat berkunjung ke Beijing, China.

Irwan menulis saat itu ia dan teman-temannya didatangi seorang pengemis nenek yang meminta uang. Salah seorang teman Irwan awalnya mengusir nenek tersebut sembari berkata dia tidak membawa uang tunai.

Mereka kaget ketika sang nenek malah mengatakan bahwa dia menerima transaksi non tunai. Nenek itu kemudian mengeluarkan kartu dengan sebuah QR Code. Sedekah pun diberikan teman Irwan dengan men-scan QR Code tersebut melalui aplikasi WeChat.

Meski demikian, ada hal yang terbilang berbahaya dari pemberian sedekah kepada pengemis di China melalui QR Code. Hal itu sebagaimana laporan dari International Business Times.

Berdasarkan klaim dari sebuah perusahaan pemasaran digital, China Channel, mengungkapkan banyak dari para pengemis di Beijing sebenarnya dibayar oleh beberapa startup lokal untuk mempromosikan penggunaan kode QR dan menarik orang untuk memindainya.

Pemindaian ini lalu dimanfaatkan untuk mengumpulkan data-data pengguna dari aplikasi WeChat. Data-data yang terkumpul lalu dijual ke beberapa bisnis kecil untuk keperluan periklanan.

Sementara Asia One juga melaporkan hal serupa. Bahwa para pengemis itu telah bekerja sama dengan start up lokal. Para pengemis ini sebenarnya dibayar oleh start up untuk mengumpulkan data pengguna smartphone sebanyak-banyaknya.

Identitas pengguna smartphone nantinya akan diperjualbelikan oleh start up lokal tersebut demi keuntungan mereka sendiri. Sehingga para pengguna yang datanya dicuri akan mendapat berbagai iklan yang muncul di ponsel mereka. (ace)

Comments are closed.