Bos MRT Jakarta: Pariwisata RI Harus Terintegrasi dengan Sistem Transportasi

Pulau Padar di Labuan Bajo salah satu dari lima Destinasi Super Prioaritas Foto: Dok. Kemenparekraf

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak keindahan alam yang menjadi keunggulan sektor pariwisata. Sayangnya, belum banyak daerah yang punya panorama cantik dilengkapi dengan transportasi layak untuk membawa turis ke sana.

Presiden Intelligent Transport System (ITS) Indonesia yang juga Dirut MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan amat sayang jika keindahan alam Indonesia tidak bisa dijangkau dengan mudah karena akses transportasi yang sulit. Karena itu, harus ada integrasi antara keduanya agar industri pariwisata Indonesia bisa lebih maksimal.

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) dari sektor pariwisata masih kecil di kisaran 4 persen. Sedangkan target beberapa tahun ke depan mencapai 12 persen.

“Tapi dengan berbagai upaya ini akan berkembangan. Dan salah satu komponennya itu transportasi memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan industri tourism Indonesia. Nah, transportasi adalah elemen utama, tanpa transport, tourism sulit berkembang,” katanya dalam Webinar ITS Indonesia dengan tema ‘What A Wonderfull Indonesia: Integrating Intelligent Transport and Tourism’, Rabu (30/6).

William mengatakan, saking pentingnya transportasi bagi penunjang sektor pariwisata, di banyak negara dua bidang ini disatukan. Jepang, Fiji, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Timur Tengah bahkan menggabungkan urusan transportasi dan pariwisata dalam satu kementerian.

Penumpang membawa sepeda non-lipat di Stasiun MRT Bunderan HI, Jakarta, Minggu (28/3/2021). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Sementara di Indonesia, saat ini urusan transportasi dan pariwisata digawangi dua kementerian berbeda yaitu Kementerian Perhubungan dan Kemenparekraf.

“Kita lihat di berbagai tempat di mana akses transportasi agak susah. Di Bali, yang sudah sangat berkembang, didukung sistem transportasi yang sangat mumpuni, tapi di daerah lain yang kaya dengan tourism dengan 17 ribu pulau, faktor kesiapan transportasi merupakan elemen yang sangat menentukan,” ujarnya.

Transportasi Ideal di Masa Pandemi

Dengan adanya wabah pandemi di seluruh dunia, William yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT MRT ini mengatakan transportasi yang dibutuhkan saat ini yang berbasis kecerdasan (intelligence), yaitu satu sistem transportasi didorong dengan adanya smart mobility yang efisien, seamless, dan impactfull.

Transportasi yang cerdas hari ini, menurutnya, tidak bisa jauh dari internet of things. Maka mulai dari proses data collection, data processing, sampai ke pengambilan keputusan berbasis digital.

“Ini yang kita dorong dan kaitkan dengan tourism di Indonesia. Data collection saat ini soal big data yang hari ini kita dorong. Kalau data analytic berkaitan dengan artificial intelligence. Ini adalah elemen penting,” katanya.

Salah satu negara yang berhasil menggabungkan pariwisata dan sistem transportasi yang cerdas adalah Korea Selatan. Contohnya di kota Gangnam yang penduduknya hanya 200 ribu jiwa tapi dikunjungi turis hingga 30 juta per tahunnya dari seluruh dunia. Sementara, turis asing Indonesia sebelum masa pandemi di kisaran 15 juta per tahunnya.

Karena itu, sistem transportasi yang cerdas ini, menurutnya sangat bisa diterapkan pada program pemerintah dengan proyek 10 new Bali dan 5 destinasi super prioritas. Proyek ini berada di bawah beberapa kementerian, salah satunya Kemenparekraf.

“Kami mendukung penuh program yang dicanangkan Pak Menteri (Sandiaga Uno) yang gercep, geber, dan gaspol. Jadi selalu sering lihat Pak Menteri tentang inovasi dan kolaborasi, ini (ITS) adalah bagian lengkap dari itu untuk mendukung pariwisata Indonesia,” kata William.

Comments are closed.