Bocah di Gunungkidul Kena Tembakan di Leher hingga Tembus ke Pipi

Ilustrasi senapan angin. Foto: pixabay/Bru-nO

Ngeri, apa yang dialami oleh bocah berumur 14 tahun asal Kapanewon Paliyan Gunungkidul. Leher bocah kelas 8 SMP ini terkena peluru senapan angin hingga tembus ke pipi sebelah kanan. Beruntung nyawa bocah ini bisa diselamatkan karena langsung dilarikan ke rumah sakit.

Bocah tersebut adalah Nur Cahyo (14) warga Padukuhan Paliyan Tengah Kalurahan Karangduwet Kapanewon Paliyan. Leher bocah ini tertembus peluru senapan angin ketika ikut berburu burung bersama pamannya, BA (25) dan S (46).

Kamis (1/7/2021) malam, orangtua Nur Cahyo, Ruswanto (42) menceritakan kronologi peristiwa yang menimpa anak sulungnya tersebut. Peristiwa tersebut terjadi hari Rabu (30/6/2021) malam selepas isya’ atau sekitar pukul 20.00 WIB.

Rabu malam, selepas maghrib Nur Cahyo dan pamannya BA serta S berniat pergi berburu burung ke ladang dekat rumah mereka. Sore hari, sebenarnya mereka telah memasang perangkap penangkap burung menggunakan ‘Pulut’ (Getah) buah Nangka.

Saat berburu itu, S sengaja membawa senapan angin yang ia miliki. Tujuannya untuk menembak burung yang mereka temui. Dan ketika sampai di perangkap yang mereka pasang, mereka melihat ada burung yang terjebak.

“Awalnya itu oleh Pak S mau ditembak, tetapi dicegah oleh BA karena burungnya sudah terjebak. Kena Pulut (getah),” papar Rusmanto.

S yang saat itu menenteng senapan angin langsung berusaha meraih burung yang terjebak kena Pulut. S kemudian meletakkan begitu saja senapan angin yang ia bawa. Nur Cahyo mengikuti dari belakang sembari membawa lampu senter untuk penerangan.

Namun ketika S berhasil menangkap burung tersebut, tiba-tiba senapan angin menyalak padahal tidak ada yang menyentuhnya. Naas peluru yang ada di dalam senapan meluncur mengenai leher sebelah kanan Nur Cahyo dan tembus ke pipi kanan.

“Senapan itu ternyata sudah terisi peluru dan sudah ‘dikongkang’ (dipompa). Sewaktu-waktu bisa langsung ditembakkan,” ungkapnya.

Seketika itu juga kedua orang rekan Nur Cahyo yang berburu bersama langsung membawa Nur Cahyo ke dokter praktek terdekat. Di klinik tempat dokter praktek tersebut, luka Nur Cahyo hanya dibersihkan kemudian. Saat itu Ruswanto mengaku langsung menyusul ke dokter praktek tersebut.

Usai dibersihkan, mereka memutuskan membawa Nur Cahyo ke Rumah Sakit untuk foto rongent guna memastikan peluru senapan angin tersebut masih di dalam tubuh Nur Cahyo atau tidak. Di Rumah Sakit Nurrohmah, rongsent dilakukan dan dokter mengatakan peluru masih di dalam.

“Karena ndak percaya langsung saya bawa ke rumah sakit Sardjito,” tururnya.

Di rumah sakit tersebut, foto rontgen pun dilakukan dan ternyata pelurus tersebut sudah tidak ada. Akhirnya tim Dokter pun hanya membersihkan luka dan menjahitnya agar tertutup. Kini Nur Cahyo sudah dibawa pulang dan bisa beraktifitas seperti biasa meskipun masih terbatas.

Menurut Ruswanto kasus tersebut tidak berlanjut ke ranah hukum karena diselesaikan secara kekeluargaan. Terlebih kedua orang dewasa yang yang menjadi rekan berburu Nurcahyo masih ada aliran kekerabatan dengan keluarga Ruswanto.

“Sudah selesai. Wong beliau berdua sangat bertanggungjawab. Menemani sampai sardjito dan pak S membiayai semuanya. Mereka masih famili juga,” tutupnya.

Comments are closed.