BKPM Ungkap Tantangan Penerapan Ekonomi Hijau di RI: Pengukuran hingga Literasi

Gedung BKPM Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Deputi Perencanaan Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indra Darmawan, mengakui tidak mudah dalam menerapkan green economy atau ekonomi hijau di Indonesia. Ia menganggap ada beberapa tantangan yang harus diselesaikan.

Pertama, adalah terkait dengan pengukuran. Indra merasa banyak masyarakat yang mau mendukung ekonomi hijau. Namun, kata Indra, saat ini belum ada alat pasti untuk mengukur bisnis yang ramah lingkungan.

“Banyak dari kita semua untuk berbuat baik untuk masa depan, untuk generasi anak cucu, semua setuju tapi gimana mengukurnya?Apakah bisnis saya sudah ramah lingkungan? Berapa jejak karbon saya dibandingkan kemarin? Ada progres nggak?” kata Indra saat acara yang digelar Warta Ekonomi secara virtual, Kamis (12/5).

“Nah ini kita perlu alat untuk mengukur itu. Selama tidak ada alat mengukur itu kita gelap, kita mau menuju hijau tapi nggak tahu hijaunya berapa,” tambahnya.

Untuk itu, Indra menyambut baik ada pihak yang mau membantu dalam mengukur ekonomi hijau seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan adanya taksonomi hijau dan Bank Indonesia yang dikabarkan bakal mengeluarkan kalkulator karbon.

“Kalau anda mengurangi bahan bakar anda dari diesel ke tenaga surya akan terdapat pengurangan emisi sekian, jadi jelas untuk progres,” ujar Indra.

Plt. Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM Yuliot (kanan) dan Direktur Fasilitas Promosi Daerah BKPM Indra Darmawan (kiri). Foto: Selfy Momongan/kumparan

Indra mengungkapkan tantangan berikutnya adalah terkait motivasi. Ia menjelaskan saat berupaya mengurangi energi fosil dan bergerak ke energi hijau tentu ada pihak yang dirugikan seperti daerah-daerah penghasil batu bara.

Selain itu, masih banyak masyarakat yang bergantung ke energi fosil. Untuk itu, ia berharap segera ditemukan solusi yang tepat dengan diiringi murahnya harga energi hijau.

“Kalau kita disuruh pakai energi surya, angin tapi tagihan listrik jadi tiga kali lipat enggak ada yang mau. Tapi kalau energi surya lebih murah dari diesel enggak usah disuruh pasti akan comply, jadi itu masalah motivasi,” ungkap Indra.

Indra menuturkan tantangan berikutnya yang tidak kalah penting adalah terkait literasi. Ia merasa belum banyak masyarakat yang mengetahui tentang net zero emisi dan semua yang terkait energi hijau.

Menurutnya, kalau masyarakat belum paham mengenai ekonomi hijau, maka bisa saja ada kesulitan dalam upaya atau diajak menggunakannya.

“Jadi kita harus meningkatkan literasi di bidang ekonomi hijau supaya orang paham, dan kalau paham dia akan patuh,” tutur Indra.

Comments are closed.